Normantis Update

Pesta – Cerpen Cak Nun

Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Venny membalik. Kaulihat tadi mukanya? Mimiknya? Mungkin keki. Tapi, apa dia paham bagaimana terhentak-hentaknya aku. Kau ketawa? He?

”Kenapa ketawa?”
”Nggak apa-apa.”
”Jangan main-main!”
”Dia memang nggak cocok denganmu.”

Aku tahu. Tapi, ukuran orang kawin bukan cocok atau tak cocok. Tapi, dikehendaki atau tak dikehendaki oleh-Nya.

”Anak orang kaya macam dia pasti panik membayangkan masa depannya dengan hidupmu yang tak berketentuan sebagai pelukis. Apalagi tampaknya kautak menunjukkan sedikit pun gelagat cita-cita untuk menjadi kaya!”

”Persetanlah Tadi bagaimana. Yang Malin Kundang itu lainnya bagaimana!”
”O, Malin Kundang penyair lain dong. Dia hanya jadi korban dari urbanisasi kultural kebanyakan anak-anak muda Indonesia ini. Mereka mengejar matahari yang menyilaukan mata mereka. Mereka berlari mengejarnya. Tapi, tak kunjung sampai. Tak kunjung mereka temukan bumi yang jelas bisa mereka pijak. Dari mereka pun tak jelas bentuknya. Unsur-unsurnya majemuk dan perwatakannya mengabur. Tetapi, para penyair dan beberapa kelompok lainnya masih memiliki sisa kekayaan. Ialah pertanyaan yang terus-menerus terhadap dirinya sendiri. Kemudian perjalanan yang tak henti-hentinya dilakukan untuk menemukan jawaban demi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.”

Haa, begitu. Nyerocoslah terus, ngoceh dan berkhotbahlah terus, karena musik dan jojing pun terus! Bangunlah keasyikan sendiri, bangunlah dunia sendiri, bangunlah obrolan sendiri! Pisahkan sama sekali dunia kita ini dengan dunia pesta Venny! Naa, begitu terus. Kukira kau pun punya permasalahan yang sama denganku: masa lalumu, pendidikan dan lingkungan masa kecilmu, telah membangun naluri dan citarasa jiwa sedemikian rupa sehingga kausama sekali tak mungkin bisa terlibat dengan suasana asing ini. Begitu kan? Naah, ngomonglah terus. Aku juga. Kita bergayung sambut, kita saling pidato berdua, kita minum rokok sendiri dan membangun kesibukan sendiri.

Acung-acungkan tanganmu ke arahku dan kuacung-acungkan tanganku ke arahmu! Semprotkan gerimis kalimat dan air dari mulutmu dan kutampar mukamu terus dengan hentakan-hentakan responsku! Terus begitu! Terus! Sampai pesta usai. Sampai musik mati. Dan, para kontemporer ini berhenti melantai. Dan, pak pos paling pagi akan memberikan surat kepada Venny:

—- Venny! Sekali lagi doaku untuk usia 20-mu. Lewat surat ini biarlah kusempurnakan tragedi nasibku di hadapanmu. Maafkanlah kalau semalam aku tak bisa terlibat dalam acaramu dan terpaksa kutolak ajakanmu untuk turun. Aku sudah katakan, jangan kauhubungkan itu dengan apa-apa, apalagi yang serem-serem. Sebab persoalannya hanya karena aku, maupun Budi, sama sekali tak bisa bagaimana berdansa! —- Daag Venny…—–

Mudah-mudahan kau tertawa keras, Ven.

Kompas, Rabu, 28 Desember 1977
Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.765 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: