Normantis Update

Pesta – Cerpen Cak Nun

Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Tetapi, lihat itu Venny menuju kemari. Mau apa dia. Kautahu bagaimana keadaan perasaanku. Kaubisa lihat bagaimana aku gemetar.

”Didin! Ayo ….!”

Nah, diulurkan tangannya. Venny mengajakku turun. Gempa sudah terjadi. Tapi, gempa itu malah tersenyum.

”Ayolah!”

Ayo bagaimana. Sedang melihat orang-orang berangkulan dalam irama dan keremangan itu saja perasaanku bagai dicoel-coel. Hatiku digurat-gurat dengan pisau. Jiwaku getir.

”Ayo dong. Masak nggak mau. Nggak membahagiakan Venny dong kalau begitu!”

Oo, Venny, Venny! Akan kubahagiakan kaudengan cara apa saja dan dengan seluruh hidupku. Aku sudah tiga kali mengajakmu berhubungan secara resmi. Kauingat kan? Kaukejar-kejar aku, hingga aku jadi sangat berbangga. Aku memang lebih senang dikejar daripada mengejar. Tetapi, perasaan tersembunyi yang berkembang selama kaukejar aku ternyata akhirnya menjadi jauh lebih besar daripada kalau aku mengejar. Akhirnya akulah yang lebih membutuhkanmu. Aku memang mudah memutuskan sesuatu. Juga untuk kawin. Cinta atau apa, aku tak tahu. Tapi, apa yang terjadi dalam proses pergaulan, itulah yang kuanut dengan ikhlas. Kehadiranmu yang bertubi-tubi mengejar jiwaku, secara tak sadar kuterjemahkan sebagai perlambang dari maksud Tuhan atas hidupku. Maka, yang cocok kulakukan hanyalah mengajakmu untuk berhubungan lebih serius.

Tapi, memang aku bukan bayi ketika kenal denganmu. Aku sudah juga dijamah dan menjamah orang. Apa yang telanjur terjadi di dalam hidupku telanjur banyak. Semua menyebabkan terjadinya proses-proses lanjut. Tapi, aku sudah berusaha memusatkan konsentrasi jiwaku kepada kehadiranmu. Aku berusaha dengan sebijaksana mungkin melepaskan segala wujud hubungan dengan orang lain yang kira-kira bisa merupakan ketidaksetiaanku padamu. Sore itu, ketika kaunongol di pintu kamarku, dan kaujumpai aku sedang mencium nDindy, sebenarnya justru merupakan ciuman terakhir baginya dan bagiku. Kami berpisah secara dewasa. Kebetulan ada alasan pada kedua belah pihak yang kami sepakati. Tapi, kautak mau percaya! Kauterus bersitegang! Dan, begitu saja kaumeninggalkan jejak-jejak kakimu dalam hidupku. Baiklah aku paham. Perasaanmu yang amat terkejut menjumpaiku dengan nDindy, memang tak bisa dilunakkan dengan alibi dan pengertian pikiran macam apa pun. Aku paham. Tapi, jangan kaukatakan bahwa aku tak mau membahagiakanmu. Suruhlah aku mengangkat batu sebesar kepala kerbau dari sungai itu dan kuangkat ke halaman rumahmu. Pasti kujalankan dengan patuh, bila itu memang membahagiakanmu. Tapi, jangan kauhubung-hubungkan dansa malam ini dengan mau tak maunya aku membahagiakanmu.

”Sudahlah Ven, turunlah kau dengan pacarmu itu saja.”
”Mana pacarku?”
”Ya dengan siapa saja deh.”
”Kautak mau?”
”Kenapa Din?”
”Tidak kenapa-kenapa. Kuharap kaujangan menghubungkannya dengan apa pun saja. Aku sekadar tak bersedia. Itu saja!”

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.765 pengikut lainnya

<span>%d</span> blogger menyukai ini: