Normantis Update

Pesta – Cerpen Cak Nun

Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Tetapi, tak usah ikut sun pipi Venny. Biarlah pemuda-pemudi Barat berkulit cokelat itu saja yang memanfaatkan pipi terbuka ulang tahun anak itu. Kautak usah. Aku juga tidak. Kita jabat tangannya saja. Erat atau tidak terserah kau.

”Panjang umur Ven.”
”Bahagia selalu Ven.”
”Makasih….”

Mari duduk. Dan, minumlah dan makanlah sepuasmu. Habiskan. Rokoknya isap cepat-cepat. Kalau perlu masukkan sakumu. Biar aku tempuh cara lain. Kuisap kretek. Kumatikan ketika masih panjang. Kemudian ganti batang. Tapi, jangan lupa nanti kumpulkan puntung-puntung panjang itu. Kaubawa plastik untuk menyimpannya, kan?

Apa? Acuh tak acuh aja dengan makhluk di sebelahmu itu. Apa urusan kita dengan mereka. Dari tadi toh kita diam-diaman saja dengan mereka. Ngomong apa? Ngobrol bab apa? Musik pop? Eddy Silitonga? Mode jeans terbaru. Kawasaki 250? Susy Quarto? Atau mau kirim lagu lewat Geronimo BC?

Nah, lampu meredup. Musik mengeras. Inilah malapetaka yang kautunggu-tunggu itu! Mau apa kausekarang. Cepatlah bangkit. Goyang tubuhmu. Jojing. Lupa diri. Panaskah tubuh dan nikmati!

”Ayo, turunlah kau!”
”Huh!”
”Kenapa huh!”
”Orientasi mereka payah!”
”Aku sudah bilang sama kau. Mereka ini anak-anak kontemporer. Sedang kita ini tradisional dan konservatif”
”Bukan soal itu, Din, tapi yang mereka lakukan ini kultur impor!”
”Apa salahnya. Toh ia bisa hidup. Dan, bentuk semacam ini merupakan standar gengsi kemodernan mereka. Mau apa kita?”
”Mereka tercerabut dari akarnya!”
”Tercerabut atau tidak, tetapi arus ini tak bisa ditahan. Ia berpengaruh secara massal dan diidamkan secara massal pula oleh ratusan ribu anak muda kita.”
”Mereka tak punya kesadaran kultural.”
”Memang”
”Mereka tak punya kesadaran lingkungan.”
”Benar”
“Mereka tak kenal unsur-unsur yang menjadi latar kebudayaan mereka sendiri.”
”Mereka memang tak tahu arah.”
”Tak kenal watak dan gaya masyarakat mereka sendiri.”
”Artinya juga tak kenal diri mereka sendiri.”
”Mereka Malin Kundang. Laknat terhadap ibu yang melahirkannya.”
”Kalau begitu sama dengan kau.”
”Kaukan penyair? Kata Gunawan penyair itu Malin Kundang.”
”Tetapi Malin Kundangnya lain dong.”
”Lain bagaimana?”

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.765 pengikut lainnya

<span>%d</span> blogger menyukai ini: