Normantis Update

Pesta – Cerpen Cak Nun

Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

Nah, lihat aku mulai berhasil senyum agak jernih dan nyerocos lancar. Lihat si masa laluku itu terpingkal-pingkal. Bukankah sikap-sikap semacam ini yang dulu membuatnya terserap olehku dan tertidur di pangkuanku pada suatu sore ketika ia belajar di bilikku!

Musik sudah terdengar. Kautahu? Itu sudah sejak tadi. Sejak kita berada di depan rumah tetangga sebelah. Rock! Bising! Menghantam-hantam telinga! Mengobrak-abrik kesunyian perasaanku! O, Venny, Venny. Kenapa hari keramatmu ini kauisi dengan kebisingan-kebisingan. Apa telingamu akhir-akhir ini menjadi pekak. Kenapa kautak duduk bersila saja semalam suntuk, khusus untuk menelusuri dan omong-omong dengan sejarah pribadimu. Kenapa tidak bangun saja sebelum subuh, lantas sembahyang, lantas berdoa, lantas mengaji, lantas jalan-jalan suntuk keliling Yogya. Kenapa tak kaurayakan ulang tahunmu ini dengan berdekapan erat-erat dengan kesunyian jiwamu yang paling dalam.

”Mana kawan-kawan lain?”

Kau lihat Venny nyelonong dan duduk di sisiku. Kaubau juga parfumnya? Huh. Sejak kapan kaudiangkat jadi boneka penghuni etalase toko Venny?

”Ada acara semua, Ven.”
”Budi kok nggak seperti biasanya? Kok sekarang diam saja? Kan kauini tukang mendongeng kalau kumpul-kumpul.”

Nah. Jawablah.

”Masak udah gede-gede didongengin!”

Ha, begitu. Tetapi, sebenarnya kaumembeku juga seperti aku kan? Nanti sepulangnya dari tempat laknat ini segeralah menunduk-nunduk dan memohon maaf kepadaku.

”Vennyl”
“Ya?”
”Duduk di sini. Acara kita mulai.”

Venny beranjak. Kakaknya akan segera memulai acara. Dan, kita akan segera masuk perangkap. Dua kambing kumal ini akan segera terkencing-kencing di tengah pesta kambing dari Barat ini. He? Kau sudah lihat sekeliling? Semua yang hadir pada kesibukan ini? Pandang potongan mereka. Pakaian mereka. Sepatu mereka. Sikap mereka. Pandang seluruh kemegahan dan kenecisan mereka. Dan, pandang dirimu. Pandang aku juga. Pandang sandal jepit kita. Kaus kita. Celana kumal kita. Pandang juga kekakuan kita yang dungu. Apa kautadi sudah mandi sebelum ke sini? Aku hanya sempat cuci muka. Aku malas nimba.

Senyumlah untuk acara ini. Seperti aku ini. Lihat, seperti aku ini. Saksikan dengan berdebar Venny motong roti 20 tahun usianya. Tepuk tangan! Terus tepuk tangan dan cerahkan mukamu seperti matahari! Dan, ikut nyanyi: Happy Birth Day to You. Kaubisa kan? Sedikit-sedikit bisa? Syukur. Paling tidak ikut lalalala lala atau hmhmhmhmhm hmhmhm…..

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.765 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: