Normantis Update

Pesta – Cerpen Cak Nun

Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

PESTA
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

APA kubilang. Mana bisa kita masuk ke dalam situasi kayak gini. Kita pasti bengong. Berapa kali sudah kutekankan: kirim kado saja! kirim kado saja! Tak usah datang. Untuk apa. Aku muak pada alasan-alasan etis macam itu dan kauingatkan pula aku pada kejadian-kejadian masa lalu yang membuatku sok cengeng meng hargai nostalgia. Basa-basi cinta, kemegahan, kisah pria dan wanita, akhir hubungan yang dewasa. Taiklah. Kirim kado saja apa tak cukup sopan. Aku toh diam-diam bisa berupacara menghormatinya, berdoa untuk hari bahagianya. Kenapa harus datang ke pestanya. Kenapa wajib. Etika pergaulan? Atau kotak kaku dari suatu nilai? Pergeseran dari esensi ke bentuk? Apakah penghormatanku atas upacaranya cuma bisa diungkapkan lewat kehadiranku pada pestanya. Kenapa orang tidak merdeka memilih bentuk dari kegairahannya atas sesuatu yang justru lebih intens dan lebih berarti bagi hatinya? Dan, kaupula merunduk-runduk di bawah bingkai kebudayaan macam itu. Bingkai yang kalau kauterlalu baik hati padanya, kelak akan mencekik lehermu. Sekarang apa katamu. Kita sudah telanjur berangkat, dan sampai di sini.

”Apa katamu!”
Jangan tunduk! Jawab dengan jantan.
”Ya”
”Ya, apa?”
“Borjuis mereka.”
”Sok Barat.”
”Ya”

Aku sudah bilang .itu sama kaukan? Nah, lihat itu si Venny datang. Senyum lebar dan menyambut kita.

”Ayo, ayo, silakan masuk!”
Jangan bengong. Ayo masuk. Sudah telanjur.
”Mana partner-nya? Mana ini pacarnya?”

Aku melengos. Tentu, tentu saja aku melengos. Ini gara-gara polah kau. Kalau kautidak paksa-paksa aku untuk hadir dalam acara ini aku tak akan melengos malam ini. Dan, melengos itu kekalahan besar, kan. Apalagi untuk laki-laki jantan macam kita.

”Duduklah!” “Ya, ya, ya, ya…”

Kenapa kauikut gagap? Aku sajalah yang gagap malam ini. Itu hakku. Di depan senyum cerah Venny dan gaun putih bahagianya. Biarlah aku ditampar-tampar masa silamku. Biarlah anak itu pakai cat-cat di mukanya, pakai eye shadow, sanggul, gaun panjang yang menyapu lantai. Aku tak setuju dengan cat-cat di pipi dan di bibir. Hanya pintu dan kanvas yang patut dicat. Tapi biar. Ayo oleskan cat-cat setebal satu sentimeter.

”Kok kaku sekali?”
“O… aku memang sopan kan?”

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,725 other followers

%d bloggers like this: