Normantis Update

Jempol – Sujiwo Tejo

Karya: Sujiwo Tejo

JEMPOL
Karya: Sujiwo Tejo

Bangsa harus berkarakter. Tapi, sebagus-bagus karakter bangsa sebaiknya tidak lebih dari 140. Lebih dari angka itu karakter bangsa akan susah di-tweet buat anak-cucu. Bagaimana mereka akan memperoleh Naisss inpoH tentang kebangsaan?

Selanjutnya mereka, anak cucu Diponegoro, Antasari, Hasanuddin, Teuku Umar, Kartini, Tjoet Nya Dhien, Pak Sakerah, Ratu Shima, Si Pitung, dan lain-lain akan tak punya bahan tentang nasionalisme untuk di-retweet buat generasi seusai mereka? Begitu dan seterusnya. Lenyaplah harga mati itu, akan lenyap sudah NKRI, yaitu Negara Kesatuan Retweet Indonesia.

Bukankah itu menyedihkan?

Jangan meremehkan retweet. Banyak orang bilang, bekerjalah…bekerjalah. Lho, dianggapnya me-retweet itu tidak bekerja, to. Setidaknya jempol kita kan aktif? Daripada empol itu pensiun oleh karena sudah lama tak ada yang patut dijempoli.

Yang patut diacungi jempol malah Cakil. Itu lho raksasa kerempeng lincah yang selalu mencegat Arjuna setiap sang kesatria menempuh perjalanan meraih cita-cita bangsanya.

Jangan lihat keburukan Cakil. Tapi, lihatlah berbagai gaya tari dunia termasuk tango, breakdance diperagakan dan digabung-gabungkannya tanpa kehilangan jati diri gerakan Cakil.

Dan raksasa dengan gigi bawah sangat maju ke depan ini konsisten sebagai penghadang kebaikan. Belum pernah ada lakon wayang yang Cakilnya akan membasmi angkara murka lalu niat baik itu dihalang-halangi oleh Arjuna.

Never ever.

Ya. Karakter Cakil sangat jelas. Itu maksud saya. Sayangnya, karakter itu terlalu panjang. Jempol kita akan terlalu bersusah payah untuk meringkasnya di dalam satu tweet. Belum lagi, walau sudah jatuh-bangun merangkum karakter itu, kita disangka belum mengerjakan apa-apa.

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,725 other followers

%d bloggers like this: