Normantis Update

Gigi – Sujiwo Tejo

Karya: Sujiwo Tejo

GIGI
Karya: Sujiwo Tejo

Tulisan ini tidak tentang perbedaan unjuk rasa dan unjuk gigi. Ini cuma semacam wanti-wanti agar kita tetap waspada baik dalam berunjuk rasa maupun berunjuk gigi.

Unjuk-gigikanlah kemampuanmu, ya keberanianmu, unjuk-gigikanlah.

Sekarang, dengar-dengar, banyak tukang gigi menyalahi prosedur. Mereka mengerjakan hal-hal lain di luar pembuatan gigi palsu. Tambal gigi dan lain-lain ternyata juga mereka jabani. Padahal tambal gigi urusan dokter gigi. Pakai ada perguruan tingginya segala. Hanya tambal ban yang sampai sekarang mungkin belum pakai universitas-universitasan.

Tapi, dengar-dengar kementerian kesehatan tidak berwenang mencabut izin praktik tukang gigi. Dengar-dengar yang berhak mencabut izin tukang gigi adalah dinas kesehatan provinsi.

Kalau diterapkan pada sinyalemen Pak Sarwono Kusumaatmadja, kabar tersebut agak aneh. Dalam metafor menteri Sarwono pada wawancara dengan Ira Koesno dari SCTV menjelang Soeharto lengser, “cabut gigi” adalah wewenang rakyat. Kalau keadaan sudah tak bisa dirundingkan lagi dengan Soeharto, katanya, maka satu-satunya jalan adalah “cabut gigi”.

Pak Harto marah ketika itu.

Saya sih bukan birokrat, bukan pula politisi. Terlalu jauh bagi saya mengambil pelajaran dari dokter gigi untuk diasosiasikan dalam ranah politik.

Waktu awal ‘8o-an mengikuti rapat umum di Lapangan Basket ITB dengan pembicara Adnan Buyung Nasution, Ali Sadikin, Wimar Witoelar, dan lain-lain ada guyonan bahwa waktu itu para tokoh berobat gigi ke Singapura. “Karena di dalam negeri nggak bisa buka mulut,” kelakar mereka yang sebagian anggota Petisi 50 itu.

Wah, pengalaman saya bersama para dokter gigi tidak terbayang, bisa-bisa sampai saya rambatkan ke guyonan yang berat-berat setaraf itu.

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,703 other followers

%d bloggers like this: