Normantis Update

Padang Kurusetra – Cerpen Cak Nun

Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

PADANG KURUSETRA
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

PRABU Kresna terenyak dari kursi selonjornya, pagi itu, karena kaget yang luar biasa. Hampir saja ia ber-tiwakrama dan menggenggam bulatan bumi ini untuk dibantingnya hingga pecah berkeping-keping. Tapi, ia segera ingat perannya. Ia berdiri tegak, membusungkan dada, mengisap seluruh udara, sehingga lenganglah bumi untuk beberapa saat –waktu terhenti– tetapi kemudian segera ia embuskan kembali, hingga kehidupan berjalan seperti sediakala. Titisan Wisnu ini memanggil Harya Setyaki, memerintahkan agar ia menyiapkan kereta perang serta terompet Pancajanya. ”Aku akan menemui Arjuna beserta sekalian Pandawa,” katanya.

Setyaki sigap melaksanakan perintah itu. Membenahi kereta dan kuda, kemudian memandang Pancajanya dan bergumam sendiri: ”Terompet yang malang! Beberapa lama kautergeletak bagai onggokan sampah. Dulu Sang Prabu meniupmu berhari-hari terus-menerus, berbulan-bulan, bertahun-tahun, di Padang Kurusetra yang sunyi, habis diisap langit sepi?”

Sejak lama memang Sang Prabu Kresna menganggur. Ia yakin sudah bahwa Bharata Yudha memang tak akan pernah terjadi. Tak ada perebutan tanah. Tanah itu bukan milik Pandawa maupun Kurawa. Tanah itu milik rakyat, dan di manakah rakyat, di tengah jajaran wayang-wayang? Tentu tidak tertampung dalam kotak ki dalang. Di mana? Mungkin mereka adalah para penonton yang terkantuk-kantuk sepanjang malam, berbaring di rerumputan, bersandar di pepohonan, bergumam di antara mereka sendiri tapi tak berkata apa pun kepada ki dalang.

Kurawa memang adalah penguasa. Tapi apa gerangan yang hendak dibela oleh para Pandawa? Mereka tidak mewakili rakyat. Mereka hanya mewakili kebenaran: kebenaran masalah mereka sendiri. Kini kebenaran itu tak ada. Tanah ini hanyalah Warisan Sang Hyang Wenang kepada rakyat.

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,724 other followers

%d bloggers like this: