Normantis Update

Kepada Kelahiranku yang Tercinta – Cerpen Cak Nun

Karya: Emha Ainun Nadjin (Cak Nun)

A woman wipes her tears with her partner's scarf as they part at Beijing west railway station, January 19, 2012. Chinese New Year, or Spring Festival, is the biggest of two "Golden Week" holidays, giving migrant workers their only chance of the year to return to their home provinces with gifts for their families. More than 200 million people are expected to take to the railways over this year's holiday, the biggest movement of humanity in the world. REUTERS/Jason Lee (CHINA - Tags: SOCIETY ANNIVERSARY TRANSPORT) - RTR2WHQN

KEPADA KELAHIRANKU YANG TERCINTA
Karya: Emha Ainun Nadjib (Cak Nun)

OMONGAN Rul makin jelas arahnya. Aku akan makin ditelanjanginya dan ia kelihatannya punya bahan cukup lengkap untuk itu. ”Pada akhirnya, setiap orang mesti bersikap. Bahkan terhadap Tuhan pun. Lambat atau cepat, hanya soal Waktu,” katanya. Aku membuang muka.

Rul makin lekat menempelkan tangan kirinya ke punggungku. Harus kuakui dengan jantan bahwa itu tak bisa kuelakkan. Sebenarnya aku punya harga diri yang tinggi, semacam keangkuhan, tapi setiap perempuan pada akhirnya akan menyadari bahwa keangkuhan hanyalah selapisan amat tipis dari kebutuhan perasaannya yang sebenarnya. Jika rangkulan tangan itu suatu nasib buruk, maka aku lebih buruk nasib lagi. Bahwa aku bisa diseret Rul ke sini, sebuah bangku sepi di bawah pohon Kaliurang, jelas adalah kemenangannya. Kemudian ia makin merapat, dan perasaanku justru membutuhkannya sebagai hal yang menyenangkan, terang merupakan nasib lebih buruk dari harga diriku. Baiklah.

”Kau tak sependapat denganku, Lia?” suara Rul lagi.
Aku menarik napas.
Angin menyapu keras. Rambut Rul yang panjang bergerai. Sentuhannya di mukaku membuatku makin tak bisa mengelakkan kenyataan bahwa perasaanku memang sedang bergolak.
”Atau, kaumarah padaku?” Rul mencengkam tubuhku.
Perasaanku tersirap. Tiba-tiba saja tanpa kusadari tanganku meremas pahanya. Rul membikinku makin jadi perempuan. Ia menimpa tanganku itu. Meremasnya. Aku berusaha melepaskannya, tapi gerakanku tiba-tiba saja kuurungkan, seperti atas kehendakku sendiri dari dalam. Rul makin mencekam tanganku dan aku menunduk.
”Lis”
”Ya”
”Kau marah?”
Aku menggeleng.
”Kausependapat denganku, bukan?”
Sekali lagi aku menarik napas.
”Secara prinsip tentu saja aku setuju.”
”Dan secara apa kautak setuju?”
”Jika prinsip mulai diterapkan ke dalam kenyataan, yang sering punya hal-hal khusus, maka ia akan menemukan bentuknya yang lain.”
Rul melepaskan tanganku dan menyibakkan rambut dari keningku. Kekalahanku makin berlanjut-lanjut.
”Kaubenar. Tetapi, serumit-rumit persoalan, ia tak berhak melunturkan prinsip. Aku melihat sebagai wanita kaupunya kekerasan dan sikap jantan. Kenapa terhadap hal ini kaudiam?”
Ini lebih dari menelanjangi. Kini Rul telah melanjutkannya dengan memberi ide. Ia makin menantangku. Ia mendorongku untuk melakukan sesuatu yang tak kecil. Di satu segi ini merupakan kelancangan atas hakku. Memang mungkin bisa merupakan langkah yang baik bagiku dan bagi keluargaku. Tetapi, jelas ini memedihkan semuanya. Semuanya!

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,699 other followers

%d bloggers like this: