Normantis Update

Jembatan Madusura – Cerpen Sujiwo Tejo

Karya: Sujiwo Tejo

Cakrawangsa, ya, Gareng itu, lari melaksanakan perintah Kresna. Dia suruh adiknya, Petruk, yang easy going dan cengengesan mencegat Baladewa. Bagong yang suka ngotot dan asal njeplak disuruh mencegat Antasena.

Baladewa: “Petruk, beeee de’remma, je’ kal pokal jangan lang-ngalang lakuku ngajar si majenun Antasena nanti tak kepruk ndasmu ambek gada Nenggala ….”
Petruk: “Hehehe sekarang semua orang sedang puasa. Ndak pantes sampean ngamuk-ngamuk seperti itu. Sampean, yo, ikut puasa sana. Tapa semadi di Grojogan Sewu sampai Lebaran nanti. Apa mlotat-mlotot!? Mau ngepruk kepala saya. Monggo. Tapi, saya ke sini ini diperintah Prabu Kresna, lho ….”

Baladewa: “Wah, …. mbok ngomong dari tadi Truk … lya, iya aku mau tapa ke Grojogan Sewu ….” Baladewa panik langsung ngacir. Di tempat lain, di pesisir, Bagong mendorong-dorong tubuh Antasena mundur.

Bagong: “Sudah sana. Ke laut. Negeri kita ini masih negara bahari, kok. Kita masih bisa renang, naik tongkang, naik feri, naik perahu, naik kapal. Kita masih bangsa pelaut. Saya pun masih seorang kapiten.”
Antasena: “Ndak ngono, Rek. Sudah ada Jembatan Suramadu. Tradisi kelautan kita bakal mate.” Bagong: “Itu kalau kita dari Jawa ke Madura. Namanya saja Surabaya-Madura. Suramadu. ltu jalan satu arah. Kalau kita balik dari Madura ke Surabaya, Madusura, belum ada jembatannya. Jadi orang-orang masih harus nyemplung lewat laut.”

Tiba-tiba wajah Bagong tampak berubah jadi Tukul Arwana. “Puas!!!? Puas!!!? Puas!!!?” gertaknya. Antasena ketakutan. Nyebur kembali ke laut, menyusul upacara 17 Agustus-an di dasar Laut Bunaken. Siapa tahu tanggal 23 ini masih belum terlambat.[]

Sujiwo Tejo
Buku: Lupa Endonesa
Penerbit: Bentang

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.783 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: