Normantis Update

Jembatan Madusura – Cerpen Sujiwo Tejo

Karya: Sujiwo Tejo

“Alasan kedua, Prabu Baladewa diam-diam tahu, cucu penjaga laut, Dewa Baruna, yaitu Antasena akan menghancurkan Jembatan Suramadu. Bagi anak Bima dari Dewi Urang Ayu ini, Jembatan Suramadu mematikan semangat bahari bangsanya. Padahal di dalam tradisi bahari, laut bukanlah pemisah pulau. Pulau tak harus dihubung-hubungkan dengan jembatan. Di dalam negeri maritim, laut justru harus menjadi wahana penghubung itu sendiri.

“Anak-anak negeri selain diajar kapan Perang Diponegoro meletus, di daratan juga harus diajari berenang dengan gaya apa pun, dari gaya kupu-kupu, gaya katak, sampai gaya kadal. Yang penting ngambang. Anak-anak negeri harus diajari cara bikin perahu, dari perahu kertas mainan, perahu gabus, sampai pinisi. Dan, ITS –kalau masih ada– harus menjadi tulang punggung pembangunan kapal-kapal canggih di Nusantara. Lalu, pendidikan manajemen kesyahbandaran harus menjadi perguruan yang paling bergengsi di negeri ini, paling sering masuk dalam sinetron dan infotainment, minimal sama seringnya dengan kemunculan Pak SBY atau Manohara di televisi.

Dari pandang mata empat kiblat di jagat gumelar, Wisnu melihat Antasena masih sibuk membantu Wisanggeni, anak Arjuna yang memihak rakyat kecil. Dua pemuda urakan tapi berhati bersih dan tidak bisa kromo inggil ini membantu bank-bank perkreditan rakyat alias BPR yang hari ini megap-megap karena bank-bank umum termasuk yang dikuasai asing mulai boleh memasuki pasar mikro, kecil, dan menengah (MKM). Itu pun Antasena masih sempat-sempatnya menuju Jembatan Suramadu. Waduh gawat! Gawat!”

Di sepanjang pesisir, Antasena berpekik-pekik, “Apa beda China bantu Suramadu dan Belanda dulu bantu orang Makassar, tapi dengan perjanjian Bongaya, yang nglarang orang Bugis membuat kapal dan mematikan tradisi bahari.”

Waduh gawat! Gawat! Pada saat yang sama, Baladewa yang kalap juga menuju Suramadu. Nanti kalau Bima, ayah Antasena, ndak terima, yok opo Perang gada Baladewa-Bima?

Seoncat Batara Wisnu dari raganya, Kresna langsung membisiki Gareng dan membuat instruksi. Semula Gareng mau minta uang transpor. Tapi, Kresna ndak oke. “Sudah lari saja ke Suramadu meski kakimu pincang,” kata Kresna, “naik hercules nanti jatuh, naik helikopter nanti jatuh. Naik kereta api nanti tut tut tut siapa hendak anjlok ….”

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.783 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: