Iklan
Normantis Update

Tiga Semut (The Three Ants) – Kahlil Gibran

Karya: Kahlil Gibran

TIGA SEMUT
Karya: Kahlil Gibran

Tiga ekor semut bertemu di hidung seorang pria yang sedang berbaring tidur di bawah sinar matahari. Dan setelah mereka saling menyapa, masing-masing dengan adat suku bangsa mereka. Lalu mereka berdiri dan berbincang.

Semut yang pertama berkata, “Bukit dan padang ini adalah yang paling gersang yang kutahu. Aku telah mencari sepanjang hari namun tidak sebutir makanan pun yang kutemukan.”

Kata semut yang kedua, “Aku juga tidak menemukan apa-apa walau aku telah mendatangi setiap tebing dan daratan. Ini, aku yakin, apa yang orang-orangku sebut lembut, tanah yang bergerak tanpa ada apa pun yang tumbuh.”

Lalu yang ketiga mengangkat tangannua dan berkata, “Teman-temanku, kita sekarang berdiri di atas hidung Semut Besar, Semut yang kuat dan abadi, yang tubuhnya sangat besar hingga kita tidak dapat melacaknya, yang suaranya sangat keras hingga kita tidak dapat mendengarnya; dan ia adalah yang hadir di mana-mana.

Ketika semut ketiga berbicara, kedua semut yang lain saling memandang dan tertawa.

Pada saat itu pria itu bergerak dalam tidurnya dan mengangkat tangannya untuk memijit hidungnya, dan ketiga semut itu tergencet sampai mati.

Kahlil Gibran
Buku: Orang Gila (1918) – Kahlil Gibran


THE THREE ANTS
By: Kahlil Gibran

Three ants met on the nose of a man who was lying asleep in the sun. And after they had saluted one another, each according to the custom of his tribe, they stood there conversing.

The first and said, “These hills and plains are the most barren I have known. I have searched all day for a grain of some sort, and there is none to be found.”

Said the second ant, “I too have found nothing, though I have visited every nook and glade. This is, I believe, what my people call the soft, moving land where nothing grows.”

Then the third ant raised his head and said, “My friends, we are standing now on the nose of the Supreme Ant, the mighty and infinite Ant, whose body is so great that we cannot see it, whose shadow is so vast that we cannot trace it, whose voice is so loud that we cannot hear it; and He is omnipresent.”

When the third ant spoke thus the other ants looked at each other and laughed.

At that moment the man moved and in his sleep raised his hand and scratched his nose, and the three ants were crushed.

Kahlil Gibran
Book: The Madman – His Parables and Poems (1918) – Kahlil Gibran

Iklan

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.839 pengikut lainnya

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: