Normantis Update

Suara Sang Guru (Bab 1 Part 1) -Perjalanan Sang Guru Menuju Venice – Karya: Kahlil Gibran

Karya: Kahlil Gibran

SUARA SANG GURU (BAB 1 PART 1)
“PERJALANAN SANG GURU MENUJU VENICE”
Karya: Kahlil Gibran

     Ketika Sang Murid melihat Sang Guru berjalan sendiri menuju taman, tanda—tanda kedalaman dukanya tampak jelas di wajahnya yang pucat. Sang Murid mengagungkan Gurunya dengan nama Allah, dan meminta penjelasan tentang sebab dukacitanya. Sang Guru memberi isyarat dengan tongkatnya, dan meminta Sang Murid duduk di atas batu di sisi kolam ikan. Sang Murid pun melakukannya, dan siap mendengarkan cerita Sang Guru.

       Sang Guru berkata:
“Kamu menginginkan aku untuk menceritakan tragedi yang Kenangannya hidup kembali di setiap hari dan malam memenuhi kalbuku. Kamu bosan dengan kebisuanku yang panjang dan rahasiaku yang tak terucapkan, dan kamu terganggu oleh keluh-kesah dan ratapanku. Terhadap dirimu sendiri kamu berkata, ‘Jika Sang Guru tidak mengizinkanku memasuki kuil dukacitanya, bagaimana aku akan memasuki rumah kasih sayangnya?’

      “Dengarkan ceritaku… Dengarkanlah, tetapi jangan kasihani aku; karena rasa kasihan mengundang kelemahan — padahal aku masih kuat dalam penderitaanku.

     “Sejak masa mudaku, aku sering didatangi oleh seorang wanita aneh, baik saat aku terjaga maupun tidur. Aku mendengarnya ketika aku sendiri di malam hari, sambil duduk di sisi tempat tidurku. Dalam kebisuan tengah malamku, aku mendengar suaranya yang sangat merdu. Seringkali, ketika aku menutup mataku, aku merasakan sentuhan jemarinya yang lemah lembut di atas bibirku; dan tatkala kubuka mataku, aku telah dikuasai oleh ketakutan, dan tiba-tiba mulai sering mendengarkan suara-suara dari Ketiadaan…

      “Sering aku merasa heran, sambil berkata pada diriku sendiri, ‘Inikah khayalanku yang membuatku bingung hingga aku merasa seolah-olah hilang dalam awan-gemawan? Apakah aku telah menciptakan dari urat-urat nadi mimpi-mimpiku satu ketuhanan yang baru dengan suara melodi dan sentuhan yang lembut? Apakah aku telah kehilangan rasa, dan dalam kegilaanku telah menciptakan seorang kekasih tersayang ini? Apakah aku telah menarik diriku dari masyarakat manusia dan keramaian kota sehingga aku bisa hidup sendiri dengan kekasihku tercinta ini? Apakah aku telah menutup mata dan telingaku dari berbagai bentuk Kehidupan sehingga aku merasa lebih baik melihatnya dan mendengar suara surgawinya?

   “Seringkali aku merasa heran: ‘Apakah aku orang gila yang ditakdirkan untuk menyendiri, dan dari hantu kesendiriannya itu menciptakan Seorang teman dan pasangan untuk jiwanya?’

      “Aku berbicara mengenai Pasangan, dan kamu merasa aneh dengan kata itu. Tetapi betapa kita sering dibingungkan oleh pengalaman-pengalaman aneh, yang kita tolak sebagai sebuah kemustahilan, tetapi realitasnya tidak dapat kita hilangkan dari pikiran kita, cobalah apa yang harus kita lakukan?

     “Wanita dalam lamunan ini sungguh telah menjadi pasanganku, yang berbagi seluruh kebahagiaan dan derita kehidupan dengan diriku. Ketika aku terbangun pada pagi hari, aku melihatnya menekuk bantalku, sambil menatapku dengan mata yang dipenuhi sinar kebaikan dan cinta keibuan. Dia bersamaku di saat aku merencanakan suatu pekerjaan, dan dia menolongku untuk menyelesaikannya. Ketika aku akan menyantap hidangan, dia duduk bersamaku, dan kami bertukar pikiran dan bercengkerama. Di sore hari, dia bersamaku lagi, dengan mengatakan, ‘Kita telah tinggal di sini terlalu lama di tempat ini. Marilah kita berjalan di ladang-ladang dan padang-padang rumput.’ Kemudian aku meninggalkan pekerjaanku, dan mengikutinya menuju ladang-ladang, dan kami duduk di atas sebuah batu yang tinggi dan menatap cakrawala yang jauh. Dia menunjukkan padaku mega-mega berwarna emas; dan menyadarkanku tentang nyanyian burung yang berkicau sebelum mereka tidur di malam hari, sambil bersyukur kepada Tuhan atas karunia-Nya yang berupa kebebasan dan kedamaian.

      “Setiap saat ia datang ke kamarku, saat aku gelisah dan susah. Kemudian seluruh kecemasan dan kesusahan itu berubah menjadi kesenangan dan ketenangan. Ketika jiwaku memberontak melawan ketidakadilan seseorang terhadap orang lain, dan aku melihat wajahnya berada di tengah-tengah wajah-wajah yang ingin kuhindari, prahara dalam hatiku hilang seketika dan digantikan oleh suara-suara kedamaian surgawi. Ketika aku sendiri, dan anak panah kepahitan hidup menikam jantungku, aku melihat kekasihku menatapku dengan mata yang penuh kasih sayang, sehingga kesedihan berubah menjadi kegembiraan, dan kehidupan nampak seperti Surga Eden kebahagiaan.

      “Kamu mungkin bertanya, bagaimana aku dapat menyenangi eksistensi aneh yang demikian, dan bagaimana seorang lelaki, seperti diriku, di musim semi kehidupan, menemukan kesenangan dalam hantu-hantu dan mimpi-mimpi? Tetapi kukatakan padamu, tahun-tahun yang telah kulalui di negeri ini merupakan batu pertama dari seluruh perjalanan yang membuatku mengerti akan Kehidupan, Keindahan, Kebahagiaan, dan Kedamaian.

       “Karena kekasih imajinasiku aku menjadi suka berpikiran bebas melayang-layang di depan wajah matahari, atau mengambang di atas permukaan air, sambil menyanyikan sebuah lagu dalam sorotan cahaya rembulan — sebuah lagu kedamaian yang menenangkan jiwa dan membimbingnya menuju keindahan yang tak terlukiskan.

      “Kehidupan adalah apa yang kita lihat dan kita alami melalui jiwa; sedangkan dunia yang ada di sekeliling kita, kita ketahui melalui pemahaman dan akal kita. Pengetahuan demikian membawa kita pada kesenangan atau kesedihan yang besar, dan kehidupan ini adalah kesedihan yang ditakdirkan untukku sebelum aku berusia tiga puluh tahun. Seolah-olah aku telah mati sebelum aku mencapai tahun-tahun yang mengeringkan darah di jantungku dan air kehidupanku, dan meninggalkanku seperti pohon layu dengan cabang-cabang yang tak lagi tertiup angin sepoi-sepoi, dan tempat yang tak lagi ditempati burung untuk bersarang.”

       Sang Guru berhenti sebentar, kemudian melanjutkan cerita dengan duduk di samping Sang Murid:

       “Dua puluh tahun yang lalu, Gubernur Lebanon mengutusku ke Venice untuk sebuah misi ilmiah, dengan sebuah surat rekomendasi untuk seorang Walikota, yang telah ia temui di Konstantinopel. Aku meninggalkan Lebanon dengan sebuah kapal Italia di bulan Nisan. Udara musim semi menyebarkan bau semerbak, dan awan putih tergantung di atas cakrawala laksana lukisan-lukisan yang sangat indah. Bagaimana harus kugambarkan padamu tentang kegembiraan yang kurasakan selama perjalanan itu? Kata-kata tidak akan cukup untuk menjelaskan perasaan terdalam dalam hati manusia.

      “Tahun-tahun yang kulalui bersama kekasih halusku terisi dengan kesenangan, kebahagiaan, dan kedamaian. Aku tidak pernah menduga bahwa Kesakitan menungguku, atau Kepahitan itu bersembunyi di dasar cangkir Kesenanganku.

        “Saat perjalanan membosankan dari bukit-bukit dan lembah-lembah tempat asalku menuju pantai, kekasihku duduk di sisiku. Dia selalu bersamaku selama tiga hari penuh kesenangan yang kulalui di Beirut, menjelajahi kota denganku, ikut berhenti di mana aku berhenti, dan dia tersenyum ketika seorang teman menyapaku.

       “Ketika aku duduk di balkon penginapan, sambil melihat-lihat kota, dia bersamaku dalam lamunan-lamunanku.

      “Tetapi ketika aku naik kapal, perubahan besar telah menyapuku. Aku merasakan tangan aneh mencengkramku dan mendorongku ke belakang; dan aku mendengar sebuah suara dalam diriku berbisik, ‘Kembalilah! Jangan pergi! Kem- balilah ke pantai sebelum kapal mulai berlayar!’

      “Aku tidak mengacuhkan suara itu. Namun kemudian ketika kapal berlayar, aku merasa seperti seekor burung kecil yang tiba-tiba terhempas di antara cakar-cakar elang dan dibawa terbang tinggi ke langit.

        “Di malam hari, seperti pegunungan dan perbukitan Lebanon tenggelam di cakrawala, aku menemukan diriku sendiri di haluan kapal. Aku memandang berkeliling mencari wanita impianku, wanita yang amat kucintai, pasangan hari-hariku, tetapi dia tidak lagi di sisiku. Perawan ayu yang wajahnya kulihat setiap kali aku menatap langit, yang suaranya kudengar dalam keheningan malam, yang tangannya kugenggam setiap kali kuberjalan di jalan-jalan kota Beirut — kini tidak lagi bersamaku.

     “Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menemukan diriku sendiri di sebuah perahu yang berlayar di samudra nan dalam. Aku naik ke dek, sambil memanggil dia dalam hatiku, sambil menatap gelombang dengan harapan dapat melihat wajahnya, tetapi semuanya sia-sia. Di tengah malam, ketika semua penumpang yang lain telah terlelap, aku kembali ke dek, dengan perasaan susah dan bingung.

      “Tiba-tiba aku memandang ke atas, dan melihatnya, kekasih hidupku, berada di atasku, dalam jarak yang dekat dengan haluan kapal. Aku melompat kegirangan, membentangkan tanganku, dan berteriak, ‘Mengapa kamu meninggalkanku, kekasihku! Ke mana kamu pergi? Di mana kamu berada? Mendekatlah padaku sekarang, dan jangan pernah lagi meninggalkanku sendirian!’

      “Dia tidak bergerak. Di wajahnya kulihat tanda-tanda kesedihan dan kesakitan, sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya. Sambil berbicara lembut dengan nada sedih, dia berkata, ‘Aku datang dari kedalaman samudra untuk melihatmu sekali lagi. Sekarang turunlah ke kabin, lalu tidurlah dan bermimpilah.’

      “Setelah mengucapkan kata-kata itu, dia menyatu dengan awan-gemawan, dan menghilang. Seperti seorang anak kecil yang lapar, aku memanggilnya dengan penuh kekalutan. Aku membentangkan tanganku ke segala penjuru, tetapi yang tampak hanya udara malam, diwarnai dengan tetesan embun.

       “Aku turun menuju tempat tidurku, merasakan berkurangnya elemen-elemen gerakan dalam diriku. Seolah-olah aku berada dalam kapal yang lain sama sekali, berada di tengah lautan.

         “Sungguh aneh, secepat aku menyentuh bantalku, secepat itu pula aku tertidur.

     “Aku bermimpi. Dalam mimpiku aku melihat sebuah pohon apel yang berbentuk seperti salib, dan di atasnya seolah-olah kekasih jiwaku tergantung dalam keadaan tersalib. Darah menetes dari kaki dan tangannya dan jatuh menimpa bunga-bunga pohon itu.

      “Kapal terus berlayar, siang dan malam, tetapi aku seolah hilang dalam keadaan trance, tidak mengerti apakah aku seorang manusia yang tengah berlayar melewati musim atau hantu yang melintasi langit berawan. Sia-sia aku memohon pertolongan untuk bisa mendengar suaranya, atau menatap sorot matanya, atau jemarinya yang lembut menyentuh bibirku.

          “Empat belas hari telah berlalu dan aku masih sendiri. Pada hari kelima belas, di sore hari, kami melihat bendera Italia di jarak tertentu, dan pada petang harinya kami telah memasuki pelabuhan. Sekelompok orang dengan gembira menghiasi gondola,* menyambut kedatangan kapal dan membawa para penumpang ke kota.

       “Kota Venice terletak di sebuah pulau yang sangat kecil, yang dekat dengan lainnya. Jalan-jalannya berupa kanal dan sejumlah penginapan dan tempat tinggal dibangun di atas air“ Gondola merupakan salah satu alat transportasi.

         “Tukang gondola-ku menanyakan ke mana tujuanku, dan ketika kukatakan ke rumah Walikota Venice, dia melihatku dengan kagum. Ketika kami melewati kanal, malam telah menebarkan jubah hitamnya di seluruh kota. Cahaya yang memancar dari jendela-jendela penginapan dan gereja yang terbuka, pantulannya di air memberikan keindahan kota seperti dalam puisi impian, sangat menarik dan mempesona.

    “Ketika gondola mencapai persimpangan dua kanal, tiba-tiba aku mendengar dentangan yang amat memilukan dari suara lonceng gereja. Walaupun aku berada dalam kondisi trance spiritual, dan jauh berada di awang-awang, suara itu mampu menembus kalbuku dan membangkitkan kesedihan di jiwaku.

       “Gondola sampai di dermaga, dan ditambatkan di kaki tangga pualam yang menuju jalan beraspal. Tukang gondola menunjukkan rumah yang sangat indah, berada di tengah sebuah taman, kemudian dia berkata: ‘Di sini adalah takdirmu.’ Pelan-pelan aku menaiki tangga menuju rumah itu, diikuti oleh tukang gondola yang membawa barang-barangku. Ketika aku mencapai pintu gerbang, aku membayarnya dan membiarkannya pergi sambil mengucapkan terima kasih,

       “Aku mengetuk, dan pintu terbuka. Aku masuk dengan disambut salam ratapan dan tangisan. Aku terkejut dan heran. Seorang pelayan tua datang mendekatiku, dan dengan suara sedih menanyakan apa keinginanku. ‘Apakah ini rumah Walikota?’ Aku menyelidik. Dia membungkuk dan mengangguk, kemudian aku menyerahkan surat tugas yang diberikan kepadaku oleh Gubernur Lebanon. Dia mengamati surat itu dan berjalan dengan serius menuju ruang tarnu.

       “Aku berpaling pada pelayan muda dan me~nanyakan sebab dukacita yang meliputi seluruh ruangan itu. Dia mengatakan bahwa anak perempuan Walikota meninggal dunia pada hari itu, dan dialah yang menutup wajah putri itu kemudian menangis sejadi-jadinya.

     “Bayangkanlah perasaan seorang yang menyeberangi lautan, sepanjang waktu ia menunggu antara harapan dan keputusasaan, dan di akhir perjalanannya ia berdiri di gerbang rumah yang didiami oleh hantu-hantu ratapan dan dukacita yang kejam. Bayangkanlah perasaan seorang asing yang mencari hiburan dan keramahtamahan di satu rumah, namun ia hanya disambut oleh sayap-sayap Kematian.

      “Segera pelayan tua itu kembali, dan membungkuk, kemudian berkata, ‘Walikota menunggu Anda.’

     “Dia mengantarku menuju pintu di ujung koridor yang paling tinggi, kemudian memberi isyarat kepadaku untuk masuk. Di ruang tamu aku bertemu sekelompok pendeta dan para pejabat lainnya, semuanya tenggelam dalam kebisuan yang dalam. Di tengah ruangan, aku disambut oleh lelaki tua berjanggut putih panjang, yang menyalamiku dan berkata, ‘Kesedihan kami telah menyambutmu, yang datang dari pulau seberang, di hari kami kehilangan anak perempuan kami yang tercinta. Walaupun aku percaya bahwa rasa kehilangan ini tidak akan mengganggu misimu, namun aku akan melakukan tugas itu sekuat tenagaku.’

      “Aku mengucapkan terima kasih untuk keramahannya dan menunjukkan dukacita dalam lubuk hatiku yang terdalam. Kemudian dia mempersilakanku duduk, aku menikmati istirahat dalam keheningan.

      “Seperti halnya aku melihat wajah-wajah sedih orang-orang yang berkabung, dan mendengarkan keluh-kesah mereka yang penuh kesakitan, aku merasakan hatiku tertutup oleh kesedihan dan kesengsaraan.

      “Segera satu per satu dari orang-orang yang berkabung meninggalkan tempat itu, sehingga yang tinggal hanya aku dan ayah yang dilanda kesedihan itu. Ketika aku akan beranjak, dia menarikku, dan mengatakan, ‘Kumohon padamu, temanku, jangan pergi. Jadilah tamu kami, semoga kamu dapat bersabar bersama kami dalam kesedihan.’

      “Kata-katanya menyentuh relung hatiku, aku menyetujuinya tanpa protes, dan dia melanjutkan ‘Orang Lebanon adalah orang yang paling terbuka untuk menerima orang asing di negerinya. Kami benar-benar harus melalaikan tugas kami karena kami telah berbuat kurang baik dan sopan terhadap tamu kami dari Lebanon.’ Dia membunyikan bel, dan pembantu rumah tangganya muncul menjawab panggilan itu, dengan memakai seragam yang sangat bagus.

       “ ‘Tunjukkan tamu kita ini ke kamarnya di sebelah timur,’ dia berkata, ‘dan jaga dia baik-baik selama dia bersama kita.’

        “Pelayan itu mengantarku ke kamar yang sangat luas dan mewah yang ditunjuk tadi. Segera setelah ia pergi, aku merebahkan diriku di atas dipan, dan mulai memikirkan keadaanku di negeri asing ini. Aku mengingat kembali jam pertama yang telah kuhabiskan di sini, di tempat yang sangat jauh dari tanah kelahiranku.

        “Dalam beberapa menit, pelayan itu kembali, sambil membawakan makan malamku di atas sebuah baki emas. Setelah selesai makan, aku mulai mengelilingi ruangan, kemudian berhenti di muka jendela untuk melihat langit Venice, dan mendengarkan suara gondola dan alunan ritmik bunyi dayung. Lama sebelum aku mengantuk, dan merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, aku membiarkan diriku melupakan semua kejadian, sehingga aku benar-benar terlena dalam tidur dan ketenangan yang meletihkan.

      “Aku tidak tahu berapa jam aku menghabiskan waktu di negeri ini, karena banyak wilayah luas kehidupan yang dilintasi jiwa, dan kita tidak bisa mengukurnya dengan waktu, hasil ciptaan manusia. Yang aku rasakan kemudian hanyalah keadaan yang buruk di mana kutemukan diriku.

       “Tiba-tiba aku sadar sebuah petir menyambar di atasku, beberapa roh yang sangat halus memanggilku, tetapi tanpa ada tanda yang bisa dirasakan. Aku berdiri, dan berjalan menuju hall, seolah-olah didorong oleh kekuatan ilahi. Aku berjalan, tanpa kukehendaki, seolah dalam mimpi, sambil merasakan seakan aku tengah melakukan perjalanan di dunia yang ada di balik ruang dan waktu.

       “Ketika aku mencapai ujung hall, aku langsung membuka pintu dan mendapatkan diriku berada dalam sebuah kamar yang luas. Aku berdiri di tengahnya dikelilingi lilin-lilin yang berkelap-kelip dan karangan bunga-bunga putih. Aku menunduk di sisi keranda mayat dan memandang almarhumah. Di hadapanku, diselubungi oleh kematian, adalah wajah kekasihku, teman hidupku. Dia adalah wanita yang kupuja, sekarang dingin dalam kematian, dibungkus kain kafan putih, dikelilingi bunga-bunga putih, dan dijaga oleh kebisuan masa.

        “Oh Tuhan Kasih Sayang, Kehidupan, dan Kematian! Engkau telah menciptakan jiwa-jiwa kami. Engkaulah pembimbing roh-roh kami menuju cahaya dan kegelapan. Engkaulah penenang hati kami dan membuat hati kami berharap dan bersedih. Sekarang Engkau menunjukkan padaku teman masa mudaku berada dalam kedinginan ini dan bentuk yang tanpa kehidupan.

        “Tuhan, Engkau telah melemparkanku dari tanah kelahiranku dan menempatkanku di tanah yang lain, dan menyingkapkan padaku kekuatan Kematian yang melampaui Kehidupan, dan Kesedihan yang melampaui Kesenangan. Engkau telah menanam bunga bakung putih di padang hatiku yang hancur, dan telah memindahkanku ke lembah yang jauh dan menunjukkan bahwa aku adalah seorang yang lemah.

      “Wahai teman-teman kesunyian dan pembuanganku: Tuhan telah menghendaki aku minum cangkir pahit kehidupan. Kehendak-Nya terpenuhi. Kira bukanlah apa-apa, kita hanyalah atom-atom, yang lemah dalam surga yang tak terbatas, dan kita hanya bisa berbakti dan pasrah pada kehendak Tuhan.

      “Jika kita mencintai, cinta kita bukanlah dari kita, atau bukan untuk kita. Jika kita bergembira, kegembiraan kita tidak ada dalam diri kita, tetapi dalam Kehidupan itu sendiri. Jika kita berduka, sakit kita tidak berada dalam luka kita, tetapi di dalam jantung Alam.

     “Aku tidak mengeluh, sebagaimana aku ceritakan kisah ini; untuk mereka yang meragukan Kehidupan, dan aku adalah orang yang beriman kuat. Aku percaya pada arti sebuah kepahitan yang ada dalam setiap obat yang aku minum dari cangkir Kehidupan. Aku percaya pada keindahan dukacita yang menembus hatiku. Aku percaya pada kasih sayang abadi dari jari-jari kuat yang mencengkeram jiwaku.

       “Inilah ceritaku. Bagaimana aku bisa mengakhirinya, sementara dalam kebenaran ia tidak memiliki akhir?

     “Aku terus berlutut di depan peti jenazah itu, tenggelam dalam kebisuan, dan aku memandang wajah bidadari itu sampai fajar tiba. Kemudian aku berdiri dan kembali ke kamarku, menunduk di bawah berat Keabadian, yang ditopang oleh luka kemanusiaan yang penuh penderitaan.

        “Tiga minggu kemudian aku meninggalkan Venice dan kembali ke Lebanon. Ini terjadi setelah aku menghabiskan waktu beribu-ribu tahun dalam kedalaman masa lalu yang luas dan bisu.

       “Tetapi bayangan itu tetap ada. Walaupun aku telah mengetahui bahwa dia telah mati, dalam jiwaku dia tetap hidup. Dalam bimbingannya aku bekerja dan belajar. Pekerjaan itu, engkau, muridku, mengetahuinya dengan baik.

      “Pengetahuan dan kebijaksanaan yang aku peroleh aku perjuangkan untuk membawa rakyatku dan para pemimpin mereka. Aku bawa ke Al-Haris, Gubernur Lebanon, dengan jeritan orang-orang tertindas, yang telah dicengkeram di bawah ketidakadilan dan kejahatan Negaranya dan para pemimpin Gereja.

    “Aku menghiburnya untuk mengikuti jalan para pendahulunya dan menghadapi pekerjaan-pekerjaannya seperti yang mereka lakukan, dengan pengampunan, amal, dan pemahaman. Aku katakan padanya, ‘Rakyat adalah kesucian dari kerajaan kita dan sumber dari kemakmurannya.’

        Dan aku katakan lebih lanjut, ‘Ada empat hal yang membuat pemerintah terbuang dari dunianya: Kemurkaan, Ketamakan, Kesalahan, dan Kekerasan.’

     “Karena mengajarkan hal ini dan hal-hal lain aku telah dihukum, dibuang ke pengasingan, dan dikucilkan oleh Gereja.

          “Maka datanglah malam ketika Al-Hafis, yang sedang susah hatinya, tidak bisa tidur. Sambil berdiri menghadap jendela, dia merenungkan cakrawala. Begitu mengagumkan! Begitu banyak tubuh-tubuh surgawi yang hilang dalam keabadian! Siapakah yang menggerakkan bintang-bintang ini dalam garis edarnya? Apakah hubungan antara planet-planet yang jauh itu dengan kita? Siapakah aku dan mengapa aku ada di sini? Semuanya Al-Haris tanyakan pada dirinya sendiri.

       “Kemudian dia ingatkan telah membuangku dan menyesali cara-cara kekerasan yang pernah dia lakukan padaku. Sekali dia datang kepadaku, sambil memohon dengan amat akan pengampunanku. Dia menghormatiku dengan jubah resmi dan menyatakan diriku di depan semua orang sebagai penasihatnya, sambil menaruh sebuah kunci emas di tanganku.

     “Selama masa pembuanganku aku tidak menyesali apa pun. Dia yang mencari Kebenaran dan menyatakannya pada umat manusia dibatasi oleh penderitaan. Penderitaanku telah memberi pelajaran padaku untuk memahami penderitaan umatku; penyiksaan atau pembuangan tidak membuat pandanganku picik.

         “Dan sekarang aku lelah…”

      Setelah menyelesaikan ceritanya, Sang Guru menyuruh Sang Murid pergi. Murid itu bernama Almuhtada, yang berarti, “yang memperoleh petunjuk”, dan pergi ke tempat pengasingannya untuk mengistirahatkan tubuh dan jiwanya dari kepenatan kenangan-kenangan masa lalu.

JUDUL BUKU : SUARA SANG GURU
JUDUL ASLI : THE VOICE OF THE MASTER
PENGARANG : KAHLIL GIBRAN

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.678 pengikut lainnya

1 Comment on Suara Sang Guru (Bab 1 Part 1) -Perjalanan Sang Guru Menuju Venice – Karya: Kahlil Gibran

  1. Ini salah satu karya Kahlil Gibran yang paling aku suka.. Mantap banget.

    Disukai oleh 1 orang

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: