Iklan
Normantis Update

Puisi Nyeleneh: Pohon Cemara (Halo, itu celana kok sudah beda pantatnya) – Joko Pinurbo

Karya: Joko Pinurbo

SAJAK POHON CEMARA
Karya : Joko Pinurbo

Di depan rumahmu ia betah berjaga mengawal sepi,
dari jauh terlihat tenang dan tinggi.
Jaman berubah cepat, andaikan nasib bisa diralat,
dan pohon cemara masih saja serindang mimpi.

Pada dahannya masih tergantung sepotong celana:
gambar panah di pantat kanan, gambar hati
di pantat kiri; dicumbu angin ia menari-nari.

Burung bulan suka bersarang di ranting-rantingnya,
bulunya berhamburan di tangkai-tangkainya.

Aku pulang di malam yang tak kauduga.
Halo, itu celana kok sudah beda pantatnya:
panah telah patah, hati telah berdarah;
darahnya kausimpan di botol yang tak mudah pecah.

2005
KUMPULAN PUISI JOKO PINURBO

Iklan

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.017 pengikut lainnya

7 Comments on Puisi Nyeleneh: Pohon Cemara (Halo, itu celana kok sudah beda pantatnya) – Joko Pinurbo

  1. Saya yakin, begitu banyak penggemar Joko Pinurbo yang rajin membaca puisi-puisinya, akan bertanya-tanya: mengapa Joko Pinurbo seolah begitu gandung mengambil tema “celana”? Meski Joko Pinurbo belum pernah sekalipun menjelaskan alasannya, saya seolah mendapat secercah pemahaman tentang makna celana itu berkat salah satu tulisan Norman Adi Satria yang pernah menjadi Headline di Kompasiana, yaitu : “Celana Dalam Baru Untuk Bangsa Ini”. Dari tulisan Norman Adi Satria inilah, saya mulai paham, bahwa celana bukan sekedar kain pembalut pelengkap baju, namun juga “penutup malu”. Hanya orang yang tak punya malu yang berkeliaran kemana-mana tanpa celana, atau bisa jadi sudah gila.

    Oh ya, ini link menuju tulisan Norman Adi Satria berjudul “Celana Dalam Baru Untuk Bangsa Ini” :
    https://normantis.com/2012/10/14/celana-dalam-baru-untuk-bangsa-ini-dialog/

    Disukai oleh 1 orang

  2. Reblogged this on Puisi Asmara Cinta and commented:

    Di depan rumahmu ia betah berjaga mengawal sepi,
    dari jauh terlihat tenang dan tinggi.
    Jaman berubah cepat, andaikan nasib bisa diralat,
    dan pohon cemara masih saja serindang mimpi.

    Disukai oleh 1 orang

  3. Reblogged this on puisijomblo.

    Disukai oleh 1 orang

  4. Reblogged this on standupuisi.

    Disukai oleh 1 orang

  5. Reblogged this on nontonpuisi.

    Disukai oleh 1 orang

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: