Normantis Update

Puisi Perenungan: Potret Keluarga (Daya hidupku menolak untuk tidak berdaya) – WS Rendra

Karya: W.S. Rendra

Isri itu duduk di muka kaca dan berkata :

“Hari-hari mengalir seperti sungai arak.
Udara penuh asap candu.
Tak ada yang jelas di dalam kehidupan.
Peristiwa melayang-layang bagaikan bayangan.
Tak ada yang bisa diambil pegangan.
Suamiku asyik dengan mobilnya
padahal hidupnya penuh utang.
Semakin kaya semakin banyak pula utangnya.
Uang sekolah anak-anak selalu lambat dibayar.
Ya, Tuhan, apa yang terjadi pada anak-anakku.
Apakah jaminan pendidikannya ?
Ah, Suamiku !
Dahulu ketika remaja hidupnya sederhana,
pikirannya jelas pula.
Tetapi kini serba tidak kebenaran.
Setiap barang membuatnya berengsek.
Padahal harganya mahal semua.
TV Selalu dibongkar.
Gambar yang sudah jelas juga masih dibenar-benarkan.
Akhirnya tertidur…….
Sementara TV-nya membuat kegaduhan.
Tak ada lagi yang bisa menghiburnya.
Gampang marah soal mobil
Gampang pula kambuh bludreknya
Makanan dengan cermat dijaga
malahan kena sakit gula.
Akulah yang selalu kena luapan.
Ia marah karena tak berdaya.
Ia menyembunyikan kegagalam.
Ia hanyut di dalam kemajuan zaman.
Tidak gagah. Tidak berdaya melawannya !”

Tanggal lima belas tahun rembulan.
Tujuh unggas tidur di pohon nangka
Sedang di tanah ular mencari mangsa.
Berdesir-desir bunyi kali dikejauhan.
Di tebing yang landai tidurlah buaya.
Di antara batu-batu dua ketam bersenggama.

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.783 pengikut lainnya

6 Comments on Puisi Perenungan: Potret Keluarga (Daya hidupku menolak untuk tidak berdaya) – WS Rendra

  1. Reblogged this on Puisi Asmara Cinta and commented:

    Tanggal lima belas tahun rembulan.
    Wajah molek bersolek di angkasa.
    Kemarau dingin jalan berdebu.
    Ular yang lewat dipagut naga.
    Burung tekukur terpisah dari sarangnya.

    Suka

  2. Reblogged this on puisijomblo and commented:

    Ah, Suamiku !
    Dahulu ketika remaja hidupnya sederhana,
    pikirannya jelas pula.
    Tetapi kini serba tidak kebenaran.
    Setiap barang membuatnya berengsek.

    Suka

  3. Reblogged this on Best Romantic Poetry and commented:

    Daya hidupku menolak untuk tidak berdaya

    Suka

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: