Normantis Update

Puisi Kampung Halaman: Jalan Tanjung 18 Cilacap (Mengingat bayang ibu yang diam-diam dulu kubilang pelit)

Karya: Norman Adi Satria

PUISI JALAN TANJUNG 18 CILACAP
Karya : Norman Adi Satria

Sekejap pulang melalui pencitraan satelit
menyusuri rumah masa kecil dulu
yang kini sudah jadi tanah rata
Di samping kirinya
hanya ada sebuah kandang dara.

Padahal dulu di tanah itu
ada jejak kaki ayah dan ibu
yang setiap pagi mondar mandir gerobak-dapur
menyiapkan toples-toples sirop,
es batu, buah-buahan, kolang-kaling, dan aku
yang nyaris selalu bangun kesiangan
lantaran malamnya melamuni adegan pacaran
sembari menulis puisi asal-asalan.
Sedang adikku sudah sedari tadi berangkat duluan.

“Wis awan! Mangkat gagean!”
(Sudah siang! Lekas berangkat!)
teriak ibu kepadaku yang kebanyakan nyisir
biar di sekolahan banyak yang naksir.
“Sangune endi?”
(Uang sakunya mana?)
tanyaku.
“Kiye, sewu mangatus.”
(Nih, seribu lima ratus.)
jawab ibu.

Aku tak berani protes soal uang saku
meski jumlah segitu
Jika dikumpulkan seminggu
juga takkan cukup untuk bekal pacaran.

Untung pacar pengertian
tak mewajibkan malam mingguan
Kadang bila kangen tak tertahan
dia yang akan datang
sekedar tuk bertanya apa kabar
mungkin juga sambil menahan sabar.

Beberapa tahun kemudian ia aku putuskan
dengan beraneka rupa alasan
tanpa sedikitpun menyebutkan:
Aku kasihan padamu,
uang sakuku tak cukup buat ajak kamu malam mingguan.

Sekejap pulang melalui pencitraan satelit
mengingat bayang-bayang ibu
yang diam-diam dulu kubilang pelit
karena membuat malam mingguku begitu sulit.

Namun tanpa melalui masa-masa itu
mungkin aku takkan bisa memberi makna
pada sebidang tanah kosong yang masih kuingat betul alamatnya:
Jalan Tanjung No. 18
Seberang Kelurahan Sidakaya
Cilacap.

Bekasi, 15 November 2015
Kumpulan Puisi Norman Adi Satria

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.754 pengikut lainnya

6 Comments on Puisi Kampung Halaman: Jalan Tanjung 18 Cilacap (Mengingat bayang ibu yang diam-diam dulu kubilang pelit)

  1. Reblogged this on Puisi Asmara Cinta and commented:

    Sekejap pulang melalui pencitraan satelit
    menyusuri rumah masa kecil dulu
    yang kini sudah jadi tanah rata
    Di samping kirinya
    hanya ada sebuah kandang dara.

    Suka

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: