Iklan
Normantis Update

Kisah Yohanes dan Yesus #3 (Matinya Sang Guru)

Karya: Norman Adi Satria

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KISAH YOHANES DAN YESUS – Part 3 (MATINYA SANG GURU)

Karya : Norman Adi Satria

Secara normatif, pembaptisan merupakan bentuk perekrutan murid. Dan Yesus yang telah dibaptis Yohanes secara terang-terangan berujar bahwa di antara semua yang lahir dari rahim wanita, tiada yang lebih besar dari Yohanes. Yohanes memang dianggapnya layak menjadi Sang Guru karena sejumlah doa dan khotbah yang melegenda telah Yesus pelajari darinya. Namun Yohanes tak merasa pantas mengajar adik sepupunya itu. Pikirannya: bila benar adikku itu adalah Mesias yang dijanjikan, biarlah kini aku meredup, demi ia yang semakin besar.

Benar saja, nama Yesus kian menyebar, bukan sebagai murid Yohanes, melainkan sebagai dirinya sendiri. Di lokasi berlainan, Yesus mulai memainkan peranan. Ia juga mulai membaptis layaknya Yohanes, memilih dua belas murid, dan merekrut massa yang jumlahnya ribuan.

Murid-murid Yohanes mulai penasaran mengapa gurunya itu membiarkan orang lain mengambil peranannya sebagai Pembaptis. Yohanes yang mengetahui isi hati mereka menjawab: “Aku hanya membaptis dengan air, namun ia yang datang setelahku membaptis dengan roh.” Beberapa yang mendengar itu, langsung berpaling mengikuti Yesus.

Namun Yesus bukanlah guru yang sepatuh Yohanes dalam hal menjalani istiadat dan Taurat. Yesus dikabarkan minum anggur pada sebuah pesta di Kana, bahkan dengan mukjizatnya mengubah air menjadi minuman memabukkan itu. Ia juga dikabarkan melanggar hari Sabath dan puasa, menolak membayar pajak, menggagalkan hukuman rajam bagi pelacur, makan dengan tangan najis yang tak dibasuh, bahkan pernah mengobrak-abrik pelataran Bait Suci. Dan parahnya: ketika kelaparan ia pernah mengutuki pohon ara.

Semua kabar miring itu telah masuk ke telinga Yohanes, membuatnya kian meragukan Yesus sebagai Mesias. Pikirnya: mungkin ia telah jadi layaknya Yunus, yang kabur dari pengutusan menuju Niniwe. Bagaimanapun, Yohanes mengenal betul bagaimana tabiat adik sepupunya itu. Karena sedari kecil hingga remaja, mereka selalu berjumpa setiap hari raya.
Dalam kekecewaannya, Yohanes memutuskan untuk kembali unjuk diri. Tanpa mengajak Yesus, ia memasuki istana Herodes Antipas, mempelajari setiap sudut bangunan megah itu, mencari titik lemahnya agar suatu saat kelak akan lebih mudah melakukan penyerangan. Yohanes memang tak sebodoh Yesus Barabas sang pemimpin pemberontakan itu, yang beberapa waktu lalu tak berkutik ketika ditangkap oleh tentara Pilatus dalam pemberontakan yang tanpa strategi.

Sayangnya, Yohanes tak lihai bermanis-manis dalam tutur kata. Ia sama sekali tak berbakat menjadi penjilat. Lantaran terbiasa ceplas-ceplos dalam hal hukum Taurat, ia yang disambut hangat sebagai tamu istimewa di istana, justru keceplosan mengkritik Herodes yang merebut istri Filipus, saudaranya sendiri. Sialnya, sang istri, Herodias, mendengar kritikan pedas yang disertai kutukan itu sehingga menyimpan dendam kesumat terhadap Yohanes.

Selang beberapa waktu kemudian, tepatnya sehari usai Herodes merayakan ulang tahun, Yohanes ditangkap. Ia merupakan hadiah yang diminta oleh anak perempuan Herodias usai menari dengan begitu anggun dalam pesta ulang tahun Herodes. Anak itu dihasut oleh ibunya agar meminta kepala Yohanes sebagai hadiah tariannya yang indah. Herodes yang sesungguhnya menaruh hormat kepada Yohanes tak bisa menolak permintaan itu lantaran ia telah bersumpah akan memberi apapun kepada anak Herodias.

Dalam kurungan, sebelum pemenggalan, beberapa orang murid menjenguk Yohanes. “Kami telah siap melalukan penyerangan, kau akan terbebas, Rabbi.” ucap murid itu kepada Yohanes. “Tak usah pedulikan aku. Bilapun hari ini adalah ajalku, aku telah ikhlas, asalkan satu pertanyaanku telah terjawab.” ucap Yohanes. “Pertanyaan apa, Rabbi?” “Tanyakan kepada Yesus, diakah orang yang akan datang itu, atau aku harus menanti yang lain?”

Murid-murid Yohanes bergegas mencari Yesus. Sayangnya mereka tak menemukan Yesus di tempat biasanya ia membaptis. Beberapa orang di jalan mengabarkan bahwa Yesus telah pergi ke Galilea usai mendengar Yohanes tertangkap. “Orang macam apa dia, gurunya tertangkap, justru kabur ke Galilea!” gerutu salah satu murid.

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan, akhirnya murid-murid Yohanes dapat menjumpai Yesus. “Rabbi, Yohanes menyampaikan pertanyaan dari dalam penjara, katanya: apakah kau adalah orang yang ditunggunya, ataukah ia harus menanti orang lain?” ucap seorang murid dengan agak ketus. Yesus menjawab mereka: “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”

“Sebuah jawaban yang menjengkelkan! Bukankah lebih mudah baginya menjawab: Ya atau Tidak? Atau jika dia memang mengakui Yohanes sebagai sahabat, saudara, dan guru, bukanlah seharusnya ia segera keluar dari persembunyiannya dan membebaskan Yohanes? Jangan-jangan dia memang pengecut!” gerutu murid-murid Yohanes dalam perjalan kembali ke penjara.

Sayangnya, sebelum pesan itu tersampaikan, kepala Yohanes telah terpenggal. Sang Guru telah tewas.

Murid-murid Yohanes tak pernah tahu, beberapa saat setelah mereka pergi, sesungguhnya dengan hati yang teramat masygul Yesus berkata kepada murid-muridnya, mengenai Yohanes:
“Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun? Melihat buluh yang digoyangkan angin kian ke mari? Atau untuk apakah kamu pergi? Melihat orang yang berpakaian halus? Orang yang berpakaian halus itu tempatnya di istana raja. Jadi untuk apakah kamu pergi? Melihat nabi? Benar, dan Aku berkata kepadamu, bahkan lebih dari pada nabi. Karena tentang dia ada tertulis: Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan-Mu di hadapan-Mu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya. Sejak tampilnya Yohanes Pembaptis hingga sekarang, Kerajaan Sorga diserong dan orang yang menyerongnya mencoba menguasainya. Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan — jika kamu mau menerimanya — ialah Elia yang akan datang itu. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.”

Bekasi, 6 November 2015
Norman Adi Satria

Iklan

EDISI SPESIAL SUMPAH PEMUDA

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.272 pengikut lainnya

6 Comments on Kisah Yohanes dan Yesus #3 (Matinya Sang Guru)

  1. Reblogged this on Puisi Asmara Cinta and commented:

    Secara normatif, pembaptisan merupakan bentuk perekrutan murid. Dan Yesus yang telah dibaptis Yohanes secara terang-terangan berujar bahwa di antara semua yang lahir dari rahim wanita, tiada yang lebih besar dari Yohanes.

    Suka

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: