Iklan
Normantis Update

Kisah Yohanes dan Yesus #2 (Pembaptisan)

Karya: Norman Adi Satria

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KISAH YOHANES DAN YESUS – Part 2 (PEMBAPTISAN)
Karya : Norman Adi Satria

Nazaret kian terpencil, benar-benar nyaris terpendam layaknya akar, padahal arti harfiahnya adalah: ranting. Ranting keluarga Daud kini sudah jadi ranting kering. Diinjak patah, kemudian dibakar jadi api unggun dalam pesta pora para penjajah di kota Herodes itu: Sepforis.

Enam setengah kilometer sebelah selatan dari Sepforis, Nazaret hanya menyisakan sekitar dua ratus orang. Sebagian besar telah jompo dan tak mau lagi mengingat-ingat masa kejayaan leluhur karena mereka merupakan bagian dari generasi yang telah terjajah selama ratusan tahun. Ratusan tahun tanpa raja, tanpa nabi. Imam memang selalu ada dan masih tetap keturunan Harun, namun nyaris seluruhnya telah jadi penjilat sekaligus koruptor kurban persembahan di Bait Suci yang dibangun ulang dan diakui sebagai karya cipta Herodes.

Tak dipungkiri, Bait Suci itu memang lebih megah dari yang dibangun Salomo. Hanya satu yang disayangkan banyak orang: tempat sembahyang itu telah jadi pasar yang penuh kecurangan, melipatgandakan harga kurban dan harga tukar uang. Tak heran jika tiga puluh tahun silam, Maria dan Yusuf hanya mampu membeli dua ekor anak merpati sebagai kurban persembahan ketika anak mereka, Yesus, disunatkan pada usia delapan hari.

Kini usia anak itu nyaris tiga puluh tahun. Dan seperti malam-malam sebelumnya, ia duduk merenung di atap rumah sembari memandangi kerlap-kerlip bintang yang mulai tertandingi gemerlapnya Kota Sepforis di sebelah utara. Namun Yesus tak sedang menikmati keduanya. Ia tengah dilanda penasaran perihal sosok lelaki seumurnya yang siang tadi dibincangkan oleh khalayak. Sesosok lelaki berpakaian kulit binatang yang belakangan ini memandikan banyak orang sembari menyerukan pertobatan demi mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Orang-orang menyebutnya: Pembaptis. Ada pula yang menyebutnya: Singa Padang Gurun. “Apakah itu Mesias?” Yesus bertanya-tanya dalam hati. “Mungkinkah itu Yohanes?”

Keesokan harinya, Yesus memutuskan untuk menyaksikan sendiri, siapa gerangan sosok lelaki yang tengah jadi buah bibir di kalangan wong cilik itu. Ia menempuh perjalanan ke tepian sungai Yordan, tempat biasanya Pembaptis itu memandikan orang sebagai pertobatan dan pemuridan. Dalam benaknya, Yesus pun berharap menjadi bagian dari mereka yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan itu.

Sesampainya di tepian sungai Yordan, Yesus menyaksikan ratusan orang tengah mengantri untuk dimandikan. Sosok lelaki itu nampak lebih tua dari yang Yesus bayangkan, mungkin lantaran wajah mudanya tertutupi rambut, kumis, serta jenggot yang semrawut. Ditambah lagi, penampilannya memang terbilang dekil. Konon, pembaptis ini bertahun-tahun hidup di gua, mencari makan di hutan berupa madu dan belalang, sebelum akhirnya muncul layaknya Nabi di gurun Yudea.

Yesus masuk dalam barisan antrian sembari terus mengamati Sang Pembaptis yang berkoar-koar mengumandangkan penggalan-penggalan kitab Nabi Yesaya dan Mazmur Daud. Sekilas, lelaki itu nampak tak asing bagi Yesus. Suaranya, logat bicaranya, dan terutama matanya. Ia mulai yakin bahwa lelaki itu adalah sepupunya sendiri, putra Zakaria dan Elisabeth, yaitu Yohanes yang belasan tahun silam berpamitan padanya ketika hendak berangkat ke seberang gurun Yudea untuk bergabung dengan komunitas penunggu Mesias.

Setelah menunggu sekian lama, tibalah giliran Yesus untuk dimandikan. Ketika melihat Yesus, lelaki itu tiba-tiba berhenti bicara, matanya terus mengamati sosoknya yang juga tengah meyakinkan keyakinannya. “Yesus?” ucap lelaki itu terbata-bata. “Baptislah aku juga, Yohanes.” ucap Yesus dalam getar keharuan lantaran mengetahui Pembaptis itu adalah Yohanes. Orang-orang yang masih mengantri di belakang Yesus mulai kesal mengamati mereka yang tak juga melaksanakan pembaptisan: “Ada apa, sih? Lama amat? Sudah mulai senja nih.”

Yesus tak pernah tahu apa yang terjadi pada Yohanes selama belasan tahun menjauh dari peradaban yang semakin maju namun kian biadab ini. Dan Yohanes tak pernah menyangka bahwa yang begitu lama ia nantikan di padang gurun, justru akan ia temui di tepian sungai.

Ketika telapak kaki Yesus menyentuh permukaan air, Yohanes menyaksikan cakrawala terbelah membuncahkan cahaya. Telinga batinnya yang telah belasan tahun ia pertajam dengan puasa, tiba-tiba mendengar suara gaib: “Inilah anak yang Kukasihi, kepadanyalah Aku berkenan.” Seketika Yohanes menjadi gentar, merasa diri begitu rendah di hadapan Yesus, meskipun ia tak lain adalah adik sepupunya sendiri. “Harusnya aku yang kau baptis, Yesus.” ucap Yohanes gemetaran.

Yesus tak mengerti apa yang dikatakan Yohanes. Ia tetap mendekati kakak sepupunya itu, bersimpuh, menyerahkan diri tuk dibasuh. Yesus memang telah benar-benar siap menjadi bagian dari orang-orang yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Bahkan ia pun telah siap menjadi murid Yohanes, demi meneguk ilmu misterius yang ia pelajari selama menghilang dari peradaban. Ya, sedari semula Yesus memang telah mengagumi segala pemikiran kakak sepupunya. “Baptislah aku, Yohanes.”

Dalam kegundahan luar biasa, Yohanes tanpa mengucapkan sepatah kata, akhirnya membenamkan Yesus di sungai Yordan. Sekujur tubuhnya basah, bahkan melebihi pengurapan. Ketika Yesus membuka mata usai pembenaman diri itu, ia menyaksikan hal serupa yang telah disaksikan Yohanes sebelumnya. Bahkan lebih dari itu, ia melihat seekor merpati yang terbalut kilauan cahaya tiba-tiba turun dari langit, menaunginya. Ia pun mendengar suara gaib itu: “Kaulah anak yang Kukasihi, kepadamulah Aku berkenan.”

Yesus detik itu juga diutus. Sebuah pengutusan yang sama sekali tak ringan. Bagaimana tidak, merpati yang dulu dipersembahkan oleh ayah dan ibunya untuk menebus nyawanya sebagai putra pertama, telah dikembalikan. Dan itu tandanya, ia harus menyerahkan dirinya sendiri sebagai kurban.

Bekasi, 5 November 2015
Norman Adi Satria

Iklan

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.194 pengikut lainnya

6 Comments on Kisah Yohanes dan Yesus #2 (Pembaptisan)

  1. Reblogged this on Puisi Asmara Cinta and commented:

    Nazaret kian terpencil, benar-benar nyaris terpendam layaknya akar, padahal arti harfiahnya adalah: ranting. Ranting keluarga Daud kini sudah jadi ranting kering. Diinjak patah, kemudian dibakar jadi api unggun dalam pesta pora para penjajah di kota Herodes itu: Sepforis.

    Suka

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Yohanes dan Yesus (Mukadimah) | Puisi Normantis
  2. Yohanes dan Yesus (Matinya Sang Guru) | Puisi Normantis

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: