Normantis Update

Puisi Perenungan: Pensiun (Sebagai Orang Miskin)

Karya: Norman Adi Satria

SAJAK PENSIUN (Sebagai Orang Miskin)
Karya : Norman Adi Satria

Usianya telah genap tujuh puluh tahun
Dua puluh tahun lebih tua dari suatu masa
dimana ia dengan tergopoh menuju Tuhannya
sambil menenteng map coklat berisi pengajuan pensiun:
pensiun sebagai orang miskin

“Namaku bukan Ayub, Tuhan,
aku Sulaiman!”
Katanya sebagai awalan

“Ayub sebelum kere pun pernah sugih
dan Sulaiman memang terlahir sebagai putera raja
yang mulya sedari mula.
Sedang aku yang dinamai Sulaiman oleh ibuku ini
terlahir sebagai putera entah siapa.
Tapi ibu pernah bilang bahwa bapakku
yang lupa ia tanyai namanya itu kaya raya.
Diperkosanya saja di kasur nan empuk lagi wangi
bukan di barak penampungan berdipan klasa.
Maka, bila Sulaiman yang itu kemudian mewarisi tahta raja
hanya karena keturunan Daud,
bukankah aku yang meskipun lahir dari tabiat sundal lelaki
berhak atas setidaknya secuil pengalaman lain
di samping pengalaman kere?
Kerena konon bapakku ini orang parlente.”
Ucapnya di alenia pertama

“Aku harap tiada lagi iblis yang mengajak Engkau bertaruh, Tuhan.
Seperti kisah Ayub yang membuat Kau menang.
Dan sekali lagi, namaku Sulaiman, bukan Ayub!
Tapi mengapa Engkau mencobai aku seperti dia?
Tidak, tidak! Jangan pikir jadi fakir akan membuatku kafir.
Ini buktinya aku masih menuliskan surat cinta untuk-Mu.
Cinta toh sekali-sekali butuh ngambek demi dialem-alem kekasihnya.
Dan Kau kekasihku, Tuhan. Kita tidak dalam hubungan kakak-adikan.
Meski kadang aku merasa perlu meniru ucap
cucu-cucu ABG jaman sekarang:
maaf ya, kamu terlalu baik buat aku.”
Ucapnya di alenia kedua

“Ya Tuhanku, dari palung jiwaku yang terdalam
yang kini sudah jadi cetek,
aku mohon izinkanlah aku pensiun.
Pensiun sebagai orang miskin.
Amin.”
Katanya sebagai penutupan

Dua puluh tahun sudah terlewati
pengajuan pensiun itu hanya teronggok dalam laci.
Ya, keinginan tuk pensiun itu tak jadi
kerna semenjak menjumpai Tuhannya
ia tak lagi menginginkan apa-apa
tak lagi butuh diri dianggap Sulaiman, Ayub, atau siapa.
Di usia tujuh puluh tahun ini
dia masih kere namun bahagia.

Bekasi, 6 Agustus 2015
Kumpulan Puisi Norman Adi Satria

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.765 pengikut lainnya

5 Comments on Puisi Perenungan: Pensiun (Sebagai Orang Miskin)

  1. Reblogged this on Puisi Asmara Cinta and commented:

    “Ayub sebelum kere pun pernah sugih
    dan Sulaiman memang terlahir sebagai putera raja
    yang mulya sedari mula.
    Sedang aku yang dinamai Sulaiman oleh ibuku ini
    terlahir sebagai putera entah siapa.

    Suka

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

<span>%d</span> blogger menyukai ini: