Normantis Update

Puisi Kasih Sayang: Kampung Halaman Adam Dan Hawa (Jangan makan buah khuldi yang dulu kita makan)

Karya: Norman Adi Satria

?????????????????????????????????????????????????????????

 

PUISI KAMPUNG HALAMAN ADAM DAN HAWA
Karya : Norman Adi Satria

Tiap tahun berulang,
Hawa tak pernah menyanyikan lagu
selamat ulang tahun untuk Adam,
begitu pula sebaliknya.

Mereka menghindari lirik doa “panjang umurnya”.
Karena bila umur mereka yang telah
melampaui ratusan tahun itu bertambah,
semakin bertambah pula derita mereka
lantaran dilanda rindu.

Dua sejoli ini punya kerinduan yang teramat sangat
terhadap kampung halaman: Eden, Firdaus.
Dimana semua bahasa tetumbuhan dan binatang bisa mereka mengerti.

Dimana seekor domba berlarian
ketika mereka kejar sembari berteriak:
tangkap aku, dan aku rela kalian makan.

Dimana Adam, Hawa, dan domba
sama-sama kelelahan kemudian rebah
di rumput hijau ketenangan.

Dimana rumput tua
menyemangati rumput muda
untuk belajar menahan beban mereka.

Dimana ilalang membantu menyembunyikan mereka
dari pencarian Tuhan usai mengunyah khuldi.

Dimana sekawanan gajah menangis
sembari melambaikan belalai
melepas kepergian mereka dari pintu gerbang.

Namun, Adam dan Hawa selalu bernyanyi
penuh suka cita untuk anak cucu mereka.
Mendoakan mereka satu per satu,
semoga panjang umur serta mulia.
Sembari diam-diam menangisi anak kedua mereka
yang mati dihantam kakaknya.
“Betahkah kau disana, nak?
Di kampung halaman kami.”

Terbayangkan, anak kedua yang mati itu
telah berada di Firdaus,
menjadi manusia pertama yang mati,
dan berarti seorang diri.

“Tenanglah, Hawa..
Mungkin anak kita disana
sedang bermain dengan anak cucu
domba, rumput, dan gajah.
Aku sudah peringatkan,
jangan makan buah khuldi yang dulu kita makan.”

Bekasi, 19 Mei 2015
Kumpulan Puisi Norman Adi Satria

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.767 pengikut lainnya

7 Comments on Puisi Kasih Sayang: Kampung Halaman Adam Dan Hawa (Jangan makan buah khuldi yang dulu kita makan)

  1. Reblogged this on Puisi Asmara Cinta and commented:

    Dua sejoli ini punya kerinduan yang teramat sangat
    terhadap kampung halaman: Eden, Firdaus.
    Dimana semua bahasa tetumbuhan dan binatang bisa mereka mengerti.

    Suka

  2. Reblogged this on puisijomblo and commented:

    “Tenanglah, Hawa..
    Mungkin anak kita disana
    sedang bermain dengan anak cucu
    domba, rumput, dan gajah.
    Aku sudah peringatkan,
    jangan makan buah khuldi yang dulu kita makan.”

    Suka

  3. Reblogged this on nontonpuisi and commented:

    Tiap tahun berulang,
    Hawa tak pernah menyanyikan lagu
    selamat ulang tahun untuk Adam,
    begitu pula sebaliknya.

    Suka

1 Trackback / Pingback

  1. Puisi Religi: Improvisasi Tuhan (Skenario Tuhan dalam Hidup Kita) – Puisi Normantis

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: