Iklan
Normantis Update

Puisi Sejarah: Pontius Pilatus #2 (Istriku tak sebengis istri Herodes)

Karya: Norman Adi Satria

SAJAK PONTIUS PILATUS #2
Karya : Norman Adi Satria

Mungkin aku lebih beruntung daripada Herodes.
Istriku tak sebengis istrinya
yang meminta dia memenggal Yohanes Pembaptis
dan meletakkan kepalanya di atas nampan.
Istriku justru memaksaku melepaskan Yeshua
demi terhindar dari segala petaka.
Ya, bila pun istriku tak memaksaku,
aku akan tetap berusaha melepaskannya.

Aku menggiring Yeshua keluar menemui kembali para penggugatnya.
“Hei orang-orang Yahudi,
aku telah selesai menginterogasi lelaki ini.
Dan aku tak menemukan satu pun kesalahan
yang mengharuskanku menghukumnya.”

“Kau harus menghukumnya, Pilatus!
Jangan sampai keputusanmu ini terdengar di telinga Caesar,
hingga membuatnya murka besar!
Apakah kau juga telah berhasil dihasut olehnya?
Akan kau kemanakan kau punya wibawa?”

Bedebah!
Lagi-lagi para Yahudi itu membawa-bawa nama Caesar!

“Hei orang-orang Yahudi,
seperti pada tahun-tahun sebelumnya
aku akan membebaskan satu tahanan menjelang hari raya.
Ada padaku dua lelaki bernama Yeshua.
Mana yang akan kalian pilih untuk aku merdekakan :
Yeshua yang mengaku-ngaku nabi dan raja
atau Yeshua Barabas si pemberontak?”
“Bebaskan Barabas! Dan salibkan raja gadungan itu!”
suara mereka memekakkan telingaku.

Aku sadar,
aku telah melakukan kesalahan besar
memberi pilihan yang sudah pasti jawabannya.
Mereka akan memilih Barabas untuk aku merdekakan
karena yang disebut pemberontak oleh Romawi
adalah pahlawan bagi Yahudi.
Sedangkan Yeshua telah dianggap pemberontak bagi bangsanya sendiri.

Istriku, maafkan aku.
Aku telah gagal menyelamatkan orang ini.
Tapi aku akan tetap berusaha membebaskannya.

“Kesalahannya belumlah layak menggiring dia ke tiang penyaliban.
Aku akan menyuruh algojoku untuk mencambuki dia,
kemudian dia boleh bebas merdeka.”

Itulah satu-satunya cara terakhirku
untuk menyelamatkan nyawa orang ini.
Namun suara para tetua Yahudi kian lantang memaksaku :
“Salibkan dia! Salibkan dia!”

Aku tak lagi punya daya.
Aku tak tahu lagi harus berkata apa.
Yang mengherankan,
Yeshua sepertinya tahu apa yang kurasakan.
Di dekat telingaku dia berkata :
“Aku harus tetap minum dari cawan ini, cawanku sendiri.”

Seketika aku kembali mengenang kisah
tentang detik-dekit kematian Socrates
yang tetap ingin meminum racun dari cawan penghakimannya
meskipun telah dilarang oleh kawan-kawannya.

Aku baru saja mengenal Yeshua,
namun mengapa aku merasa seperti kawannya?
Layaknya seorang kawan yang berpedih hati
melepaskan Socrates untuk mati.
Maafkan aku Yeshua, aku tak lagi berdaya.

Usai membasuh tanganku di hadapan semua orang,
aku berkata kepada mereka:
“Baiklah! Jangan pernah catatkan ini sebagai keputusanku!
Ini murni kehendak kalian!
Sedikitpun aku tak terlibat atas mengalirnya darah orang ini!
Bebaskan Barabas!
Yeshua menjadi urusan kalian!”

Algojo-algojo menggiring Yeshua ke tempat penyiksaan
sembari pempersiapkan tiang penyaliban.
Aku melihatnya berjalan semakin jauh.
Aku mengharapkan, dalam langkah kakinya
dia akan menengok ke arahku
setidaknya sebagai tanda perpisahan.
Namun, ternyata Yeshua tak menengok sedikit pun.

Aku sadar, aku bukan siapa-siapa baginya.
Atau mungkin saja dia tetap menganggapku
sebagai kroni penjajah tanah leluhurnya.

Aku langsung berlari menuju kamarku
menangis sejadi-jadinya di hadapan istriku.
Apa yang bisa aku perbuat untuknya? Apa?

Aku meminta istriku
mengambilkan jubah terbaikku.
“Berikan jubah ini kepada serdadu
untuk dipakaikan di tubuh Yeshua.
Setidaknya itu adalah bentuk penghormatanku kepadanya
sebagai seorang raja bagi bangsanya sendiri,
sebelum dia mati.
Berjalanlah sembunyi-sembunyi,
supaya tak ada satu pun orang yang mengenali.”

Jubah itu, jubah tenunan terbaik
yang tak memiliki satu pun jahitan.
Aku tak tahu, apakah jubah itu akan sempat dipakainya.
Atau justru akan menjadi bahan rebutan oleh para serdaduku.
Yang jelas, aku tak mau melihat prosesi penyaliban kali ini,
yang biasanya amat kusenangi.

Siang ini, matahari yang tengah terik-teriknya
seketika lenyap menjadi gelap gulita
dan gemuruh halilintar mulai membahana.

Tepat pukul tiga,
gempa mengguncang istana.
Inikah malapetaka yang ditakutkan istriku?

Hei, dimanakah istriku?
Aku baru menyadari dia belum pulang sedari tadi.
Istriku..!
Bila memang malapetaka ini akan merenggut jiwaku,
aku ingin mati bersamamu.

Bekasi, 3 April 2015
Kumpulan Puisi Norman Adi Satria

Iklan

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.082 pengikut lainnya

5 Comments on Puisi Sejarah: Pontius Pilatus #2 (Istriku tak sebengis istri Herodes)

  1. Reblogged this on Puisi Asmara Cinta and commented:

    Saat itulah eighteenmu tak hanya funny,
    tapi “sweet-sweet”,
    begitulah suara siulan gadis-gadis
    yang mengagumi seorang lelaki.

    Suka

  2. Reblogged this on standupuisi and commented:

    Aku sadar, aku bukan siapa-siapa baginya.
    Atau mungkin saja dia tetap menganggapku
    sebagai kroni penjajah tanah leluhurnya.

    Suka

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Puisi Pontius Pilatus (Part 1) | Puisi Normantis
  2. Sajak Pontius Pilatus #1 (Sumpah demi anjing, aku takkan jadi leluhur goblok!) – Norman Adi Satria | Puisi Normantis

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: