Normantis Update

Puisi Kritik Sosial: Ebeg (Kuda Lumping VS Biduan Organ Tunggal)

Karya: Norman Adi Satria

PUISI EBEG
Karya : Norman Adi Satria

Bapak makan kembang lagi
campur dedak campur beling
dipecuti nggeludak ngguling-ngguling
Ibu masih ngos-ngosan setelah berlarian
menggendongku dari sekolahan

“Astaga, bapak mendem lagi?!”
firasat ibu ternyata benar
bapak sedang tak sadar
melenggang menari berputar
menggerogoti kulit kelapa bak orang lapar
“Jangan lihat, Nak, jangan lihat!”
ibu menutupi mataku
namun aku mengintip di sela jarinya
dan melihat bapak melumat bara api
krenyes..krenyes.. krenyes.. bikin ngeri

Bapak memang pernah cerita
bahwa dia satu dari beberapa
pelestari tarian kuda yang tersisa
dan tiap kali gamelan ditabuh
dia akan didatangi penari
yang sudah kesurupan duluan
seberapa pun dia kabur jauh
penari itu akan menubruknya
kemudian raga bapak dirasuki jiwa berbeda
menari tak sadarkan diri
bahkan takkan ingat anak istri

Dan ini untuk ke sekian kalinya
ibu akan mencak-mencak
sesampainya di rumah
karena bapak pulang
dengan berlumuran lumpur
bajunya bau dupa dan kemenyan

“Bapak bangga bisa makan beling?
Bapak bangga kebal pecut?
Bapak itu pengecut!
Tak berani menolak!
Bapak sadar tidak
tiap kali main Ebeg
bapak dirasuki setan?
Makanya bapak bisa kebal segala!”
Omelan ibu mulai terdengar di sebelah sumur
diiringi suara air gebyar gebyur
ibu mencuci baju kotor
dan bapak mandi sembari mendengarkan teror

“Ndak perlu pakai kesurupan juga saya sudah kebal bu,”
jawab bapak dari balik pintu seng kamar mandi
“Kebal opo?”
“Kebal omelanmu to..”
“Kuwi, bapak masih kesurupan to!”
“Iyo, kesurupan jiwa seni.”

Dan setiap pertengkaran nantinya akan mereda
saat senja diselimuti azan magrib
kala seduhan kopi di cangkir bapak telah raib
kemudian bapak dan ibu kembali karib

bapak tahu ibu tak benar-benar marah
ibu tahu bapak tengah dirundung resah
dari meja belajarku aku mendengar percakapan
“Memang ndak bisa apa kalau Ebeg tanpa kesurupan?”
tanya ibu
“Bisa, tapi hanya akan jadi sebuah tarian.”
jawab bapak
“Toh tarian juga termasuk kesenian?”
tanya ibu lagi
bapak tak menjawab

Bertahun kemudian di senja yang berbeda
ibu kembali bertanya
“Kok ndak pernah ada Ebeg lagi ya, Pak?”
kali ini bapak menjawab
“Karena semua orang sudah berpikiran sama dengan ibu
Ebeg yang katanya dipengaruhi setan itu
sudah ndak laku.
Orang lebih suka nanggap ortu
yang joget biduannya bikin napsu.
Napsu dari setan juga to, Bu?”

Bekasi, 25 November 2014
Kumpulan Puisi Norman Adi Satria

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,704 other followers

5 Comments on Puisi Kritik Sosial: Ebeg (Kuda Lumping VS Biduan Organ Tunggal)

  1. Reblogged this on Puisi Asmara Cinta and commented:

    Bapak makan kembang lagi
    campur dedak campur beling
    dipecuti nggeludak ngguling-ngguling
    Ibu masih ngos-ngosan setelah berlarian
    menggendongku dari sekolahan

    Like

  2. Reblogged this on nontonpuisi.

    Like

  3. Reblogged this on standupuisi.

    Like

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: