Normantis Update

Puisi Seksual: Seikat Kondom Untuk Bang Jupri – Norman Adi Satria

Karya: Norman Adi Satria

Puisi Seikat Kondom Untuk Bang Jupri - Norman Adi Satria

PUISI SEIKAT KONDOM UNTUK BANG JUPRI
Karya: Norman Adi Satria

Delapan tahun dua bulan sepuluh hari
Minah memadu asmara dengan Jupri.
Malam ini dia dandan cantik sekali.
Sembari berkaca dia tertawa geli:
“Ih, aku mirip bidadari. Hihihi.”

Dia mengoles gincu merah jambu.
Sengaja dia plesetkan sedikit ke pipi.
Dia cekikikan lagi:
“Hihihi. Pasti Bang Jupri suka.
Dan merayuku dengan puisinya:
Bolehkah aku menghapus noda gincumu
di pipimu dan bibirmu
dengan bibirku?”

Dari balik jendela,
Minah menatap lelaki
yang berjalan kaki
di gang sepi,
kepalanya bertopi,
jaketnya kulit sapi.
“Ih, itu Bang Jupri.
Dia ganteng sekali.”

Minah grudak-gruduk
merapikan segalanya
dan menyemprot kamar
dengan minyak wangi
aroma melati
yang dia beli di pasar pagi.
Lalu keluar menemui Bang Jupri
dengan senyuman manja mirip Miyabi.

Jupri memang romantis abis,
kata-katanya puitis.
Ucapan yang manis-manis
meluncur dari balik kumis tipis.
Rambutnya seperti Elvis.
Pis kolupis kuntul baris.

Tanpa basa-basi
Minah menggiring Jupri
ke ranjang.
“Abang bawa ga?”
“Bawa dong, Sayangku.”
“Rasa apa? Stroberi lagi?”
“Ga dong. Ada rasa baru.”
“Apaan tuh..? Jadi penasaran…”
“Ini dia.. Rasa ayam bawang!”
“Hah? Itu kondom apa mie instan sih, Bang?”
“Kondom lah, Sayang.”
“Ayo lah..”
“Lah ayo..”

Gempa ringan skala lokal
menggoncang ranjang,
membangunkan kecoa-kecoa
yang sedang mimpi basah
di hari akil balignya.

Pertarungan usai,
tiga babak selesai,
mereka terkulai.
Jupri tidur nyenyak di lantai.

Minah pelan-pelan bangun,
merayap seperti pencuri
ke arah tong sampah.
Dia mengambil kondom yang sudah dipakai,
dan melangkah ke kamar mandi.

Deras suara kucuran air kran
beradu dengan isak tangis Minah.
Dia menatap kondom bekas yang terikat itu.
Minah berbisik dalam hati:
“Bang, inilah saatnya.
Kau tak boleh permainkan aku terus.
Sudah delapan tahun dua bulan sepuluh hari,
aku hanya kau pacari,
tubuhku hanya kau nikmati.
Mungkin sebentar lagi kau pergi lari
karena aku tidak cantik lagi.
Bang ini saatnya aku kau nikahi.
Meski harus dengan jalan seperti ini.”

Derai air mata membasahi pipi Minah,
menetes di ikatan kondom yang sedang ia buka.
Sperma Jupri ia masukkan ke dalam kemaluannya.
“Ya, Tuhan. Biarkan anak ini jadi.”

Bekasi, 19 Juli 2013
Norman Adi Satria

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,699 other followers

3 Comments on Puisi Seksual: Seikat Kondom Untuk Bang Jupri – Norman Adi Satria

  1. Reblogged this on nontonpuisi.

    Like

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: