Normantis Update

Puisi Menyedihkan: Pak Tani Menjadi Pengemis

Karya: Norman Adi Satria

PUISI PAK TANI 
Karya: Norman Adi Satria

Di pematang sawah,
ketika padi menguning,
dan burung-burung kecil
bersarang di kepala orang-orangan sawah,
aku yang masih kecil
duduk bersama ibu,
mengamati alam
sembari makan.
Ibu mengingatkan:
“Nak, nasinya jangan disisakan,
nanti Pak Tani menangis.”
Beliau mengajarkan aku
menghargai kerja keras para petani,
yang bercucuran keringat
menghasilkan bulir-bulir beras.

Saat aku besar,
kami pindah ke kota.
Sembari makan,
aku melihat di aneka surat kabar,
terpampang iklan-iklan perumahan,
gedung-gedung pencakar langit
memenuhi desaku kini.
Ibu berkata:
“Nak, jangan habiskan semua makanan,
nanti pengemis menangis.”
Beliau mengingatkan
masih banyak orang-orang lapar
yang seharusnya kami bagi.

Saat senja,
pengemis itu datang.
Aku mengamatinya,
aku mengenalnya,
dan aku berteriak memanggil Ibu.
“Ibu, pengemis itu adalah Pak Tani yang dulu.”
Kami menangis bersama.

Bekasi, 26 Juli 2013
Norman Adi Satria

Masukkan alamat Emailmu.

Join 3,725 other followers

3 Comments on Puisi Menyedihkan: Pak Tani Menjadi Pengemis

  1. Reblogged this on Kumpulan Puisi Cinta Paling Galau and commented:

    Saat senja,
    pengemis itu datang.
    Aku mengamatinya,
    aku mengenalnya,
    dan aku berteriak memanggil Ibu.
    “Ibu, pengemis itu adalah Pak Tani yang dulu.”
    Kami menangis bersama.

    Like

  2. Reblogged this on nontonpuisi.

    Like

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: