Iklan
Normantis Update

Sepasang Semut di Daun Putri Malu – Puisi Norman Adi Satria

Sepasang Semut di Daun Putri Malu - Puisi Norman Adi Satria

SEPASANG SEMUT DI DAUN PUTRI MALU
Karya: Norman Adi Satria

Setetes gerimis singgah di ujung daun Putri Malu
tergelincir perlahan kemudian meluncur jatuh
tepat di tengah sepasang semut yang sedang bertengkar
Percikan air bercampur tanah mengenai muka mereka
Pyarr…

Semut Betina berhenti berteriak
Semut Jantan tak jadi menampar
Mereka lebih takut hanyut dalam hujan
ketimbang larut dalam masalah cinta
yang tak kunjung usai.

“Aku tak mau mati konyol!”
Kata Semut Jantan
Ia menarik tangan kekasihnya
bersembuyi di belakang selembar daun Putri Malu.

Dua tetes hujan meletup di tangkai,
putri malu menutup semua daunnya.
Dua semut itu terjebak di sana
terhimpit di dua daun berbeda
saling bertatap muka.

“Hei, ini lagi-lagi salahmu!”
teriak Semut Betina bersaing dengan suara hujan dan petir.
“Kapan kau mau mulai belajar untuk berhenti menyalahkan, hah?”
balas Semut Jantan sambil mengelap mukanya
dengan satu-satunya tangan yang terbebas.
“Hah? Aku..?! Tanyakan pada dirimu dulu
kapan kau mau belajar minta maaf?”
balas Semut Betina sambil menghempaskan air hujan di mulutnya.

Semut Jantan terdiam dalam amarah
tangannya terus menghapus titik air di mukanya
tak sadar itu bukan lagi air hujan
namun air matanya sendiri.
“Maafkan aku membuatmu terjebak di daun putri malu bersamaku!
Aku lakukan ini supaya kita tak mati konyol
terhanyut di air hujan yang dengan jelas ditandai gerimis…”

Semut Betina menyadari air matanya berlinang
namun membiarkanya bercampur hujan
membasahi wajahnya.

Semut Jantan berteriak lagi,
“Maafkan aku membuatmu terjebak dalam cinta bersamaku!
Aku lakukan ini agar kita tak mati konyol
tenggelam di kehampaan abadi yang dengan jelas ditandai sepi…”

Suara petir dan hujan perlahan reda
yang tersisa hanya isak tangis mereka.
Mereka saling menatap, tanpa kata
dan merasakan betapa jauh jarak mereka
meski hanya terpisah satu sela daun saja.

Burung Kenari terdengar mulai bernyanyi
memuji kekasihnya yang baru saja mandi.
Awan kelabu telah berlalu
berganti awan putih berlangit biru
sebagai tempat sembunyi pelangi
dan mentari baru.

Daun Putri Malu mekar kembali
melepaskan butiran-butiran air hujan yang menempel
meluncur bersama dua ekor semut
yang kini saling menggenggam kaki
dan memilih terjun ke tanah dengan bercumbu.

Jakarta, 4 Februari 2013
Norman Adi Satria

Iklan

Video Normantis

KARYA TERBARU

EDISI SPESIAL HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.158 pengikut lainnya

4 Comments on Sepasang Semut di Daun Putri Malu – Puisi Norman Adi Satria

  1. Reblogged this on Puisi Asmara Cinta and commented:

    Setetes gerimis jatuh ke ujung daun Putri Malu,
    tergelincir perlahan,
    lalu meluncur jatuh
    tepat di tengah sepasang semut yang sedang bertengkar,
    percikan air bercampur tanah mengenai muka mereka,
    Pyarr…

    Suka

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: