Iklan
Normantis Update

Renungan: Tahun Baru Harus Berisik? – Norman Adi Satria

Op de Nieuwmarkt in Amsterdam liggen vrijdagochtend de restanten van het nieuwjaarsfeest. De viering van oud en nieuw liet traditiegetrouw weer veel sporen na.

RENUNGAN : TAHUN BARU HARUS BERISIK?
Oleh : Norman Adi Satria

Entah sejak kapan perayaan hari-hari besar hampir selalu diselimuti bunyi-bunyian berisik, terompet dan petasan misalnya. Tak peduli bagaimana sejarah tepatnya, yang paling mungkin adalah ketika manusia mulai berpikir bahwa berisik berarti meriah.

Bisa dibayangkan, bila klub malam tidak memasang sound system bersuara keras, pasti dugem tak lagi asyik, ya karena kurang meriah. Tapi bila pengeras suaranya menyala kencang, ruangan yang hanya berisi satu orang menari sendirian pun bisa dibilang meriah.

Memang, meriah itu ramai yang bersifat suka ria, Kamus Besar Bahasa Indonesia menulis begitu. Tapi toh di kamus itu tak menulis “bunyi-bunyian” sebagai salah satu syarat keadaan untuk menjadi meriah.

Saya membayangkan suatu saat nanti perayaan hari besar, tahun baru misalnya, berjuta-juta orang berkumpul di satu tempat dan mengadakan aksi diam, tak berbicara, tak bergerak, tak melakukan apa-apa kecuali gerakan reflek dari tubuh.

Saya langsung merinding membayangkannya. Bisa jadi kita akan mendengar suara-suara serangga malam yang tersisa di rerumputan, suara angin yang menerbangkan tas kresek dan menjatuhkan dedaunan. Dan, yang membuat merinding lagi, kita akan mendengar detak jantung kita sendiri, berdenyut bersama jutaan jantung orang yang kita sebut sahabat atapun musuh.

Lalu beberapa saat kemudian kita akan mendengar puluhan, ratusan, ribuan, hingga jutaan isak tangis. Ada yang terharu dan berkata dalam hati, “Ini keheningan yang aku rindukan selama ini. Aku telah bosan dengan hiruk pikuk dan hingar bingar…” ; namun ada juga yang berkata dalam hati, “Tentu air mataku keluar karena aku benci keheningan, sepi ini menyiksa. Harusnya ada bunyi mercon, tembang dangdut ataupun reggae, dan juga terompet, atau sekalian saja tawuran..!”

Dan, bukan sebuah hal yang mustahil, kita akan mendengar kata hati kita yang paling jujur. Dalam kata hati itu kita tak pernah tahu, suara Tuhan bisa saja menyusup di sana. Ya, benar. Karena hanya dalam hening kita menyediakan telinga kita untuk mendengar suara Tuhan yang selama ini kita kira tak mungkin datang. Tentu Tuhan selama ini tak berbicara di telinga kita karena dalam doa yang definisinya adalah komunikasi dua arah antara manusia dan penciptanya, kita ubah jadi searah. Kita terbiasa berbicara terus menerus dan mendominasi pembicaraan dalam doa, dan buru-buru bilang “amin” yang merupakan penutupan. Kita enggan memberi kesempatan kepada lawan bicara kita untuk berbicara. Mungkin saja di tahun baru yang hening itu Tuhan mau berkata, “Yang kau minta dari-Ku itu terlalu sederhana untukmu, mintalah yang lebih besar. Selamat Tahun baru ya..”

Bekasi, 30 Desember 2012
Norman Adi Satria

Iklan

Video Normantis

KARYA TERBARU

EDISI SPESIAL HARI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 4.156 pengikut lainnya

2 Comments on Renungan: Tahun Baru Harus Berisik? – Norman Adi Satria

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: