Normantis Update

Pejuang Emansipasi WARIA

PEJUANG EMANSIPASI WARIA
Oleh: Norman Adi Satria

R.A. Kartini, Sang pejuang “emansipasi wanita”, menyemangati perempuan Hindia Belanda untuk bangkit dan memperoleh tempat layak. Bukan hanya memasak di dapur, menimang anak hingga tidur, atau melayani suami di kasur, namun juga untuk menjadi pemikir, menyuarakan pemikirannya, dan juga berkarya untuk bangsanya.

Kekaguman saya tak hanya tertambat padanya, namun juga pada sosok yang jauh dari publikasi, sebut saja namanya Bunda. Saya mengenalnya sekitar 3 tahun lalu, ketika saya masih menjadi Creative di sebuah stasiun televisi di Jakarta.

Bunda (berusia sekitar 40 tahun), adalah seorang WARIA yang merasa terpanggil untuk memperjuangkan hak kaumnya (sesama waria) untuk bangkit dari keterpurukan. Hatinya telah lama teriris melihat sesamanya yang berada pada titik tengah gender, bertubuh lelaki dengan hati wanita, yang tidak mendapat haknya sebagai bagian dari masyarakat dan anak bangsa. Telah lama waria jadi bahan cibiran, tidak mendapat lapangan kerja seluas-luasnya (terutama di perkantoran), sehingga banyak dari mereka terjun ke jalan, menjadi pengamen atau bahkan menjadi penjaja seks komersial.

Bunda dengan tekadnya yang bulat membentuk sebuah perkumpulan yang menampung para waria. Dalam wadah organisasinya dia tidak mengumpulkan para waria untuk memberontak, namun mengajak mereka bertindak. Ia memfasilitasi para anggota untuk berkreasi, dibekali aneka kemampuan, mulai dari memasak, merias, membuat kerajinan, dan lainnya yang mampu menghasilkan rezeki. Tak hanya itu, ia juga mengajak anggotanya lebih dekat dengan Tuhan (meskipun masyarakat luas menganggap mereka kaum yang tidak layak untuk beribadah).

Impian Bunda memang belum tuntas terealisasi, yaitu melihat sesamanya dapat diterima bukan dengan sebelah mata. Paling tidak ia telah berhasil mengumpulkan puluhan waria untuk tidak lagi menjadi waria tanpa masa depan. Bagaimanapun pandangan masyarakat tentang harkat mereka, dan di luar pandangan agama tentang hakikat mereka, saya tetap memandang Bunda sebagai seorang pahlawan yang telah menjadi pejuang “emansipasi waria” di Indonesia (khususnya di Jakarta).

Bekasi, 10 November 2012
Norman Adi Satria

BERANI NONTON VIDEO NORMANTIS? KLIK AJA!

KARYA TERBARU

Masukkan alamat Emailmu.

Bergabunglah dengan 1.774 pengikut lainnya

2 Comments on Pejuang Emansipasi WARIA

Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: