Normantis Update

Bagai Membeli Kucing Dalam Karung

Karya: Norman Adi Satria

BAGAI MEMBELI KUCING DALAM KARUNG
Karya: Norman Adi Satria

“Bagai membeli kucing dalam karung”, itulah salah satu pribahasa yang kita kenal di Indonesia dan sejak dulu kita terima begitu saja maknanya: “memilih sesuatu yang belum pasti apa akibatnya”, tanpa pernah memikirkan dari mana peribahasa itu berasal. Pernahkah Anda berpikir, sebenarnya siapakah yang pertama kali menggunakan peribahasa ini?

Saya dari dulu penasaran, sebenarnya “kegiatan” membeli kucing itu berasal dari kebudayaan mana? Apakah dari dulu kucing itu memang diperdagangkan? Dan untuk apa kucing itu dibeli? Dipelihara, dikonsumsi, atau malah menjadi salah satu syarat dalam ritual tertentu?

Jika kita melihat realita yang ada di Indonesia (sekarang ini), ada dua tujuan seseorang/ sekelompok orang membeli kucing. Kalangan masyarakat ekonomi menengah atas, biasanya membeli kucing (ras) untuk dipelihara. Sedangkan masyarakat (suku) tertentu, membeli kucing untuk dikonsumsi atau dijadikan menu masakan.

Jika memang kegiatan membeli kucing itu telah ada sejak puluhan/ ratusan tahun lalu, bisa jadi (menurut pemikiran saya) peribahasa ini diciptakan oleh seseorang/ sekelompok orang yang pernah mendapat pengalaman buruk saat membeli kucing dalam karung. Sehingga dia memberi nasihat kepada orang lain supaya jangan melakukan kesalahan yang sama dengannya. Maka tersebarlah nasihat: “Jangan membeli kucing dalam karung.” Kemudian nasihat ini diperluas maknanya dengan tujuan berbeda (dikaitkan dengan hal lain dalam kehidupan masyakarat) sehingga menjadi peribahasa.

Jika asusmi (lebih tepat khayalan) saya salah, berarti orang yang menciptakan peribahasa “Bagai membeli kucing dalam karung” itu sebenarnya adalah seorang Pemikir. Dalam artian, dia mengamati kegiatan jual beli kucing pada masa itu, lalu dia berpikir, “andai saja kucing itu dibeli di dalam karung (tanpa diperlihatkan terlebih dahulu), bisa saja Si Pembeli mendapatkan kucing yang tidak sesuai dengan keinginannya.”

Saya mengambil kesimpulan bahwa peribahasa terbentuk dari hasil: pemikiran, pengamatan, dan pengalaman.

Mari kita amati beberapa peribahasa lainnya :

“Bagai anak ayam kehilangan induk” Maknanya : orang yang kebingungan dan gelisah.
Peribahasa ini terbentuk dari hasil Pengamatan. Tanpa pengamatan tentu orang tidak akan tahu bagaimana ekspresi anak ayam saat kehilangan induknya.

“Bagai air di daun talas” Maknanya: labil, terombang-ambing.
Peribahasa ini juga dari hasil Pengamatan.

“Bagai duri dalam daging” Maknanya: sesuatu yang sangat menyakitkan.
Peribahasa ini terbentuk dari hasil Pengalaman.Pasti ada orang yang pernah merasakan sakitnya tertusuk duri.

“Bagai kacang lupa kulitnya” Maknanya: Seseorang yang melupakan tempat asalnya.
Peribahasa ini terbentuk dari hasil Pemikiran. Kita butuh pemikiran untuk membayangkan bagaimana teganya Si Kacang sampai melupakan Si Kulit.

Masih ada ratusan peribahasa lain yang tidak mungkin saya tuliskan di sini. Sayangnya, peribahasa yang berjumlah ratusan tersebut telah lama ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia. Mungkin karena dianggap sudah tidak relevan bila digunakan di masa sekarang ini. Memang, kebanyakan peribahasa-peribahasa tersebut menggunakan bahasa yang sekarang ini tidak populer (Melayu/ bahasa Indonesia permulaan).

Yang menjadi keprihatinan saya, di saat ratusan peribahasa (lama) itu ditinggalkan, peribahasa-peribahasa baru tidak juga muncul untuk menggantikannya. Padahal peribahasa adalah salah satu kekayaan budaya masyarakat kita.

Marilah generasi muda, ciptakan peribahasa-peribahasa baru dengan hasil pemikiran, pengamatan, dan pengalaman Anda. Saya akan mengawalinya dengan hasil pengamatan saya :  “BAGAI BLACKBERRY TANPA BBM”. Maknanya : Sia-sia belaka.

Bekasi, 1 Januari 2012
Norman Adi Satria

 

Masukkan alamat Emailmu.

Join 2,985 other followers

4 Comments on Bagai Membeli Kucing Dalam Karung

  1. Reblogged this on nontonpuisi.

    Like

  2. nice artikel kawan… dari sini saya jadi tahu bahwa sebuah peribahasa tidak dibuat sekenanya, melainkan dengan pemikiran mendalam. Saya coba juga ya:

    Seperti melepas burung ke dalam sangkar

    maknanya: orang yang bodoh;
    burung adalah simbol kebebasan. Jadi ketika seseorang mengira dirinya telah berbuat baik, nyatanya yang diperbuat adalah sebaliknya.

    sudah benar belum ya contoh itu? hehe… tadinya saya juga ingin menulis artikel seperti ini, tapi membaca artikel ini membuat saya menjadi tercerahkan, hehe… mampir ke blog saya ya kawan😉

    Like

Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: