Rindu-Rindu Dungu


rindu rindu dungu

RINDU-RINDU DUNGU

pagi tadi kau lenyapkan ulat-ulat berbulu
yang melahap daun-daun
sorenya kau menangisi bunga-bunga
yang hanya dihinggapi lamun

kau membenci ulat
namun merindu kupu-kupu

kau perindu
yang tak sabar menunggu
atau mungkinkah tak tahu
yang dirindu butuh waktu
menjelma wujud ingatanmu

Bekasi, 25 Juli 2015
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Pensiun: Sebagai Orang Miskin


pensiun

PENSIUN

Usianya telah genap tujuh puluh tahun
Dua puluh tahun lebih tua dari suatu masa
dimana ia dengan tergopoh menuju Tuhannya
sambil menenteng map coklat berisi pengajuan pensiun:
pensiun sebagai orang miskin

“Namaku bukan Ayub, Tuhan,
aku Sulaiman!”
Katanya sebagai awalan

“Ayub sebelum kere pun pernah sugih
dan Sulaiman memang terlahir sebagai putera raja
yang mulya sedari mula.
Sedang aku yang dinamai Sulaiman oleh ibuku ini
terlahir sebagai putera entah siapa.
Tapi ibu pernah bilang bahwa bapakku
yang lupa ia tanyai namanya itu kaya raya.
Diperkosanya saja di kasur nan empuk lagi wangi
bukan di barak penampungan berdipan klasa.
Maka, bila Sulaiman yang itu kemudian mewarisi tahta raja
hanya karena keturunan Daud,
bukankah aku yang meskipun lahir dari tabiat sundal lelaki
berhak atas setidaknya secuil pengalaman lain
di samping pengalaman kere?
Kerena konon bapakku ini orang parlente.”
Ucapnya di alenia pertama

“Aku harap tiada lagi iblis yang mengajak Engkau bertaruh, Tuhan.
Seperti kisah Ayub yang membuat Kau menang.
Dan sekali lagi, namaku Sulaiman, bukan Ayub!
Tapi mengapa Engkau mencobai aku seperti dia?
Tidak, tidak! Jangan pikir jadi fakir akan membuatku kafir.
Ini buktinya aku masih menuliskan surat cinta untuk-Mu.
Cinta toh sekali-sekali butuh ngambek demi dialem-alem kekasihnya.
Dan Kau kekasihku, Tuhan. Kita tidak dalam hubungan kakak-adikan.
Meski kadang aku merasa perlu meniru ucap
cucu-cucu ABG jaman sekarang:
maaf ya, kamu terlalu baik buat aku.”
Ucapnya di alenia kedua

“Ya Tuhanku, dari palung jiwaku yang terdalam
yang kini sudah jadi cetek,
aku mohon izinkanlah aku pensiun.
Pensiun sebagai orang miskin.
Amin.”
Katanya sebagai penutupan

Dua puluh tahun sudah terlewati
pengajuan pensiun itu hanya teronggok dalam laci.
Ya, keinginan tuk pensiun itu tak jadi
kerna semenjak menjumpai Tuhannya
ia tak lagi menginginkan apa-apa
tak lagi butuh diri dianggap Sulaiman, Ayub, atau siapa.
Di usia tujuh puluh tahun ini
dia masih kere namun bahagia.

Bekasi, 6 Agustus 2015
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Tong


tong

TONG 

gedumbrang gedambreng
tong kosong nyaring bunyinya
bruk bruk bruk
bunyi tak nyaring tong ada isinya

gedabruk meong cit cit cit krompyang
tong itu diedel-edel tikus
tikus kabur dikejar kucing
tongnya terjengkang menggelinding
baru ketahuan tong itu sampah isinya

woi, asu ya?!
pemilik tong keluar asunya

Jakarta, 8 Agustus 2015
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Kening Kerontang


kening kerontang

KENING KERONTANG

Keningnya makin kerontang
Pagi tadi sengaja dipangkasnya
rambut panjang itu jadi poni
untuk menutupi

Keningnya terkadang nampak basah tuk sekejap
itu gumpalan peluh yang seringnya tanpa sengaja
menetes bersamaan airmata
hingga tersamarkanlah dukanya

Ketika ditanya: kau berairmata?
Dia menjawab:
“Bukan, ini keringat. Mungkin aku lelah.”
Atau
“Ini hanya kerena panasnya cuaca.”

Keningnya juga kerap dibasahi minyak angin
yang sekejap menguap
namun pusingnya tinggal tetap

Yang jelas kening itu sudah lama kering
Ketika ditanya: kemana bibir yang dulu menciuminya?
Dia menjawab:
“Mungkin dia lelah.”
Atau
Ah, tak mungkin karena cuaca.
Kerena cuaca akan kembali
sedang dia tidak.

(Bekasi, 5 Agustus 2015)
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 

Continue reading

Nol: omong seratus tapi kelakuan nol


nol

Cobaan hidup
layaknya ujian open book
Kita dibebaskan membuka segala risalah
perihal segala masalah sepanjang sejarah
baik yang telah menjadi makalah
atau hanya ternoktah
di kerutan-kerutan wajah

Pagi ini aku membaca kerutmu, ibu
untuk memahami apakah istriku bahagia
dengan laku yang kutiru
dari catatan-catatan ayahku

Rupanya kau menangis, ibu
meski kau tak mengatakan ini buruk
Ternyata istriku bersedih, ibu
meski dia tak pernah nampak terpuruk

Namun lihat ini, ibu
Lihat ini, aku mendapatkan nilai seratus!
Nilai sempurna yang aku dapatkan
dalam ujian retorika:
kebijaksanaan kata-kata
Namun praktiknya
aku nol!


(Bekasi, 1 Juni 2015)
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Tebus: puisi itu bagaikan resep dokter tau!


tebus

Puisi bagaikan resep dokter.
Tugasmu belum usai
hanya dengan membacanya.

Tebuslah!
Meski yang akan kau dapati
hanya pil pahit
dan sirup rasa stroberi.
Itupun belum tentu mujarab.
Kerna tidak semua tanya
bisa disembuhkan oleh jawab.

Bekasi, 28 April 2015
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Gembala Segala: Iblis juga berdoa


gembala segala 2

GEMBALA SEGALA

“Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku.”
ucap sekawanan domba sebelum rebah
di bawah purnama yang terang.

Ucapan yang sama
juga dilafaskan oleh serigala
sembari mengendap-endap di rimbun ilalang,
bersiap menyerang
domba-domba yang baru saja tidur tenang.

Bekasi, 19 Mei 2015
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini