Persepsi


persepsi

Yang ada di permukaan manusia
mengundang mata untuk mengamati
dari aneka sudut pandang
dari berbagai pola memandang.
Persepsi
tercipta menyelimuti yang kita inderai.

Ada yang cukup puas dengan persepsi dangkal
kemudian membuat simpulan
atau bahkan melakukan penghakiman:
kamu jelek,
kamu baik,
kamu ganteng,
kamu jahat,
kamu cantik,
kamu buruk.

Dalam mengungkapkan
ada yang terlisankan
ada yang tersiratkan,
ada yang terbungkam
menyimpan persepsinya dalam dalam.

Namun ada pula
yang tak pernah puas dengan yang dangkal,
dengan persepsi yang hanya timbul dari melihat permukaan,
kemudian mengeksplorasi kedalaman
tentang isi
tentang esensi
tentang nilai
soal jati dalam diri
tentang sejarah yang membuntuti,
baru kemudian menyimpulkan:
ada sebab yang mengawali akibat
ada alasan orang melakukan akrobat,
ada kerinduan mendalam yang mengawali sebuah tobat.

Semua tetaplah persepsi,
yang membedakan hanyalah
seberapa dalam ekplorasi
seberapa objektif dalam menggali
seberapa jauh kita melibatkan inteligensi.

Sebaik apapun persepsi
takkan mampu mencapai
kebenaran sejati,
karena kesejatian memerlukan kemutlakan,
dan itu adalah ranah Tuhan.

(Bekasi, 21 Juni 2013)
Norman Adi Satria