EBEG: kuda lumping VS biduan organ tunggal

ebeg

ebeg

EBEG

Bapak makan kembang lagi
campur dedak campur beling
dipecuti nggeludak ngguling-ngguling
Ibu masih ngos-ngosan setelah berlarian
menggendongku dari sekolahan

“Astaga, bapak mendem lagi?!”
firasat ibu ternyata benar
bapak sedang tak sadar
melenggang menari berputar
menggerogoti kulit kelapa bak orang lapar
“Jangan lihat, Nak, jangan lihat!”
ibu menutupi mataku
namun aku mengintip di sela jarinya
dan melihat bapak melumat bara api
krenyes..krenyes.. krenyes.. bikin ngeri

Bapak memang pernah cerita
bahwa dia satu dari beberapa
pelestari tarian kuda yang tersisa
dan tiap kali gamelan ditabuh
dia akan didatangi penari
yang sudah kesurupan duluan
seberapa pun dia kabur jauh
penari itu akan menubruknya
kemudian raga bapak dirasuki jiwa berbeda
menari tak sadarkan diri
bahkan takkan ingat anak istri

Dan ini untuk ke sekian kalinya
ibu akan mencak-mencak
sesampainya di rumah
karena bapak pulang
dengan berlumuran lumpur
bajunya bau dupa dan kemenyan

“Bapak bangga bisa makan beling?
Bapak bangga kebal pecut?
Bapak itu pengecut!
Tak berani menolak!
Bapak sadar tidak
tiap kali main Ebeg
bapak dirasuki setan?
Makanya bapak bisa kebal segala!”
Omelan ibu mulai terdengar di sebelah sumur
diiringi suara air gebyar gebyur
ibu mencuci baju kotor
dan bapak mandi sembari mendengarkan teror

“Ndak perlu pakai kesurupan juga saya sudah kebal bu,”
jawab bapak dari balik pintu seng kamar mandi
“Kebal opo?”
“Kebal omelanmu to..”
“Kuwi, bapak masih kesurupan to!”
“Iyo, kesurupan jiwa seni.”

Dan setiap pertengkaran nantinya akan mereda
saat senja diselimuti azan magrib
kala seduhan kopi di cangkir bapak telah raib
kemudian bapak dan ibu kembali karib

bapak tahu ibu tak benar-benar marah
ibu tahu bapak tengah dirundung resah
dari meja belajarku aku mendengar percakapan
“Memang ndak bisa apa kalau Ebeg tanpa kesurupan?”
tanya ibu
“Bisa, tapi hanya akan jadi sebuah tarian.”
jawab bapak
“Toh tarian juga termasuk kesenian?”
tanya ibu lagi
bapak tak menjawab

Bertahun kemudian di senja yang berbeda
ibu kembali bertanya
“Kok ndak pernah ada Ebeg lagi ya, Pak?”
kali ini bapak menjawab
“Karena semua orang sudah berpikiran sama dengan ibu
Ebeg yang katanya dipengaruhi setan itu
sudah ndak laku
lebih suka nanggap ortu
yang joget biduannya bikin napsu.
Napsu dari setan juga to, Bu?”

Bekasi, 25 November 2014
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


1001 Candi: ibu malin kundang dan roro jonggrang, apa hubungannya?

1001 candi

batu itu kutukan ibu
ibu malin kundang
yang saat menyumpahi anaknya
malah disibukkan oleh selendang
selendang milik bidadari
yang terbang jauh sekali
ketika dikejar jaka tarub usai mencuri

selendang itu tanpa sengaja
melekat di pundaknya
sehingga ibunda malin yang renta
terbang terbawa angin
bahkan hingga ke pulau jawa

ketika angin reda
ibunda malin terjatuh di samping bandung bondowoso
yang sedang murung di dekat pohon sawo

“kenapa kau murung begitu, nak?”
tanya ibu malin sambil merapikan pakaiannya
“ibu punya batu? candiku kurang satu.”
jawab bandung bernada sendu
“ada, pakai saja anak ambo.
baru tadi dia ambo kutuk jadi batu.”
jawab ibu malin belagu

“dimana anak ibu?”
tanya bandung bersemangat
“wah, tapi dia di sumatra.”
jawab ibu malin menyayangkan
“matilah aku,
candiku takkan jadi seribu!
ini baru 999, kurang satu!”
kata bandung menepuk jidatnya

“maliiiinnnn, bundo kecewa sama kau nak!
sudah jadi batu saja kau tak berguna!”
teriakan ibu malin itu tak sengaja
membangunkan ayam-ayam yang masih lelap
ayam-ayam pejantan pun berkokok kalap
bandung bondowoso hanya bisa mangap

ya, kokok ayam itu
adalah pertanda habisnya waktu
sedangkan candi itu belum jadi seribu
mirisnya, hanya kurang satu

bandung bondowoso tak jadi punya istri
roro jonggrang datang sembari menertawai

“dasar dua wanita sialan!”
bandung bondowoso yang murka
akhirnya mengutuk ibu malin dan roro jonggrang
menjadi dua candi pelengkap candinya
“biar, ini jadi 1001!
dari dulu wanita memang begitu!”

Bekasi, 21 Agustus 2014
Puisi-Puisi Normantis
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Belajar Hujan


belajar hujan

BELAJAR HUJAN

Gerimis adalah permainan
anak-anak awan
yang belajar hujan.
Bagimu yang bangun kesiangan
akan menyangkanya embun
di dedaunan.

Maka bangunlah pagi-pagi
sebelum mentari,
seutuhnya menilik hujan di ini hari
agar kau mengerti
bahwasanya gerimis
jua merupakan tangis
awan-awan tua yang nyaris
habis.

Bekasi, 22 Februari 2014
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


AIRMATA AIR

airmata

 

 

Bila air menangis
dia akan menumpahkan seluruh dirinya
dengan meminjam matamu.

Maka terkadang kau kebingungan
mengapa airmatamu
keluar tanpa kesedihan.

Airmatamu mungkin rindu
pada airmataku,
mereka bertemu
di tatapanmu kepadaku.

(Bekasi, 1 Juni 2013)
Norman Adi Satria

PANAS, API, AIR, PUING, DAN KERING


kebakaran

 

Dalam peristiwa kebakaran hebat itu, Api terlibat pertengkaran dengan Panas.
“Kau tercipta karena adanya aku!” masing-masing berkata kepada yang lainnya.
Lalu mereka bergulat, hingga terus membakar segala yang ada di sekitarnya.
Api semakin membesar, Panas semakin memanas,
sebelum akhirnya Pasukan Pemadam datang menyiramkan Air.

Beberapa waktu kemudian hanya tersisa Puing dan Air.
Air menangis lagi.
Ia bercerita kepada Puing: “Aku telah lama mencintai Api, namun selalu saja dia pergi menghilang saat aku datang, ia hanya meninggalkan Panasnya yang telah hangat.”
Puing dengan gugup berkata: “Telah lama juga aku mencintaimu, Air. Maukah kau kucumbu sebelum kau pergi, sebelum Kering istriku datang?”

(Bekasi, 29 April 2013)
Norman Adi Satria

FIGURAN


gelandangan

Saya hanya figuran
di skenario Tuhan,
hanya selintas lewat
namun yang penting tercatat.

Ditulis-Nya:
gembel nyeberang jalan,
namun penuh suka cita
karena itu jalan kebenaran.

(Bekasi, 24 April 2013)
Norman Adi Satria

Bukan Gundul-Gundul Pacul


Gundul pacul

 

Dudu gundul-gundul pacul kok gembelengan,

ora nyunggi-nyuggi wakul kok gelelengan,

wakule durung ngglimpang

segamu wis sak ratan.

*** Terjemahan ***

Meski bukan gundul-gundul pacul kau belagu,

tidak membopong keranjang saja kau sudah sempoyongan,

keranjang belum terjungkal

nasimu sudah berantakan.

(Bekasi, 1 Maret 2013)

Norman Adi Satria