Pontius Pilatus (Part 2): istriku tak sebengis istri Herodes

pontius pilatus 2

pontius pilatus 2

PONTIUS PILATUS – 2

Mungkin aku lebih beruntung daripada Herodes.
Istriku tak sebengis istrinya
yang meminta dia memenggal Yohanes Pembaptis
dan meletakkan kepalanya di atas nampan.
Istriku justru memaksaku melepaskan Yeshua
demi terhindar dari segala petaka.
Ya, bila pun istriku tak memaksaku,
aku akan tetap berusaha melepaskannya.

Aku menggiring Yeshua keluar menemui kembali para penggugatnya.
“Hei orang-orang Yahudi,
aku telah selesai menginterogasi lelaki ini.
Dan aku tak menemukan satu pun kesalahan
yang mengharuskanku menghukumnya.”

“Kau harus menghukumnya, Pilatus!
Jangan sampai keputusanmu ini terdengar di telinga Caesar,
hingga membuatnya murka besar!
Apakah kau juga telah berhasil dihasut olehnya?
Akan kau kemanakan kau punya wibawa?”

Bedebah!
Lagi-lagi para Yahudi itu membawa-bawa nama Caesar!

“Hei orang-orang Yahudi,
seperti pada tahun-tahun sebelumnya
aku akan membebaskan satu tahanan menjelang hari raya.
Ada padaku dua lelaki bernama Yeshua.
Mana yang akan kalian pilih untuk aku merdekakan :
Yeshua yang mengaku-ngaku nabi dan raja
atau Yeshua Barabas si pemberontak?”
“Bebaskan Barabas! Dan salibkan raja gadungan itu!”
suara mereka memekakkan telingaku.

Aku sadar,
aku telah melakukan kesalahan besar
memberi pilihan yang sudah pasti jawabannya.
Mereka akan memilih Barabas untuk aku merdekakan
karena yang disebut pemberontak oleh Romawi
adalah pahlawan bagi Yahudi.
Sedangkan Yeshua telah dianggap pemberontak bagi bangsanya sendiri.

Istriku, maafkan aku.
Aku telah gagal menyelamatkan orang ini.
Tapi aku akan tetap berusaha membebaskannya.

“Kesalahannya belumlah layak menggiring dia ke tiang penyaliban.
Aku akan menyuruh algojoku untuk mencambuki dia,
kemudian dia boleh bebas merdeka.”

Itulah satu-satunya cara terakhirku
untuk menyelamatkan nyawa orang ini.
Namun suara para tetua Yahudi kian lantang memaksaku :
“Salibkan dia! Salibkan dia!”

Aku tak lagi punya daya.
Aku tak tahu lagi harus berkata apa.
Yang mengherankan,
Yeshua sepertinya tahu apa yang kurasakan.
Di dekat telingaku dia berkata :
“Aku harus tetap minum dari cawan ini, cawanku sendiri.”

Seketika aku kembali mengenang kisah
tentang detik-dekit kematian Socrates
yang tetap ingin meminum racun dari cawan penghakimannya
meskipun telah dilarang oleh kawan-kawannya.

Aku baru saja mengenal Yeshua,
namun mengapa aku merasa seperti kawannya?
Layaknya seorang kawan yang berpedih hati
melepaskan Socrates untuk mati.
Maafkan aku Yeshua, aku tak lagi berdaya.

Usai membasuh tanganku di hadapan semua orang,
aku berkata kepada mereka:
“Baiklah! Jangan pernah catatkan ini sebagai keputusanku!
Ini murni kehendak kalian!
Sedikitpun aku tak terlibat atas mengalirnya darah orang ini!
Bebaskan Barabas!
Yeshua menjadi urusan kalian!”

Algojo-algojo menggiring Yeshua ke tempat penyiksaan
sembari pempersiapkan tiang penyaliban.
Aku melihatnya berjalan semakin jauh.
Aku mengharapkan, dalam langkah kakinya
dia akan menengok ke arahku
setidaknya sebagai tanda perpisahan.
Namun, ternyata Yeshua tak menengok sedikit pun.

Aku sadar, aku bukan siapa-siapa baginya.
Atau mungkin saja dia tetap menganggapku
sebagai kroni penjajah tanah leluhurnya.

Aku langsung berlari menuju kamarku
menangis sejadi-jadinya di hadapan istriku.
Apa yang bisa aku perbuat untuknya? Apa?

Aku meminta istriku
mengambilkan jubah terbaikku.
“Berikan jubah ini kepada serdadu
untuk dipakaikan di tubuh Yeshua.
Setidaknya itu adalah bentuk penghormatanku kepadanya
sebagai seorang raja bagi bangsanya sendiri,
sebelum dia mati.
Berjalanlah sembunyi-sembunyi,
supaya tak ada satu pun orang yang mengenali.”

Jubah itu, jubah tenunan terbaik
yang tak memiliki satu pun jahitan.
Aku tak tahu, apakah jubah itu akan sempat dipakainya.
Atau justru akan menjadi bahan rebutan oleh para serdaduku.
Yang jelas, aku tak mau melihat prosesi penyaliban kali ini,
yang biasanya amat kusenangi.

Siang ini, matahari yang tengah terik-teriknya
seketika lenyap menjadi gelap gulita
dan gemuruh halilintar mulai membahana.

Tepat pukul tiga,
gempa mengguncang istana.
Inikah malapetaka yang ditakutkan istriku?

Hei, dimanakah istriku?
Aku baru menyadari dia belum pulang sedari tadi.
Istriku..!
Bila memang malapetaka ini akan merenggut jiwaku,
aku ingin mati bersamamu.

____## BERSAMBUNG ##____

Bekasi, 3 April 2015
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Mazmur Yesus


jesus-jew-praying

MAZMUR YESUS

Kau mahkotai aku
sembari mencibirku
meludahiku
singgasanaku kau rakit dari kayu
kayu yang dulu biasa dipakai ayahku
membuat kursi-kursi untukmu,
kau dudukkan aku disitu
memberedeli tubuhku
membuang undi bagi jubahku
mengerdilkan kenabianku
menghujat Tuhanku
yang kau kira bukan Tuhanmu;
kau lupa Tuhan itu satu.

Kau telah salah penggal,
kepala Yohanes di nampan itu
memang telah bisu,
namun seruannya terlanjur menggema:
persiapkanlah jalan bagi Tuhan.
Segala makhluk pun telah mendengarnya,
termasuk anak-anak rumput
yang nenek moyangnya
menjadi teman rebahan Daud,
dan anak-anak domba
yang nenek moyangnya disembelih Abraham untuk menggantikan
Ishak putra Sara.

Aku telah meninggikan harkat domba
dengan dilahirkan di kandangnya.
Aku telah meninggikan harkat rumput
dengan bersujud di atasnya.
Aku telah meninggikan harkat kayu
dengan mati tiang salibnya.
Aku telah meninggikan harkat butiran debu
dengan bangkit dari kematianku.
Aku telah meninggikanmu dengan
menebus segala dosamu, pembunuhku.

Bekasi, 18 April 2014
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Satinah


IMG_20140410_232844

SATINAH

Tin, tujuh juta Riyal, Tin,
21 koma 25 milyar Rupiah!
Mau kerja jadi babu,
mati lalu bangkit,
jadi babu lagi pun
kau atau aku
takkan bisa melunasinya.
Tapi itu harga nyawamu, Tin.
Harga yang dipatok Saudi
untuk menebus lehermu.

Aku takkan meributkan masa silammu
yang telah membunuh majikanmu.
Aku juga segan komentari hukum
yang berlaku di negeri kelahiran Nabi.
Aku sudah muak terhadap cueknya pemerintah
di negeri kita sendiri.

Yang jelas,
hukum mata ganti mata
nyawa ganti nyawa
hanya warisan Yahudi
yang telah usang
dan harus kita buang,
dua ribu tahun lalu pun
Almasih dengan tegas menentang.

21 koma 25 Milyar, Tin,
duit yang terlalu besar untukku
yang kadang makan di warteg
masih ngutang.
Tapi itu duit yang terlalu kecil
untuk bangsa kita ini.

Bila setiap individu bangsa ini
menyumbang satu Rupiah saja,
maka detik ini pun lunaslah sudah,
dan nyawamu terselamatkanlah.

Dengan puisi ini aku menyerukan
gelora semangat persatuan
demi kau, Tin.
Namun, sesalilah masa silammu.
Dengan alasan apapun
membunuh tetap keji, Tin.

Bekasi, 26 Maret 2014
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Surga dan Neraka


surga dan neraka

SURGA DAN NERAKA

Aku sering membayangkan
bagaimana sombongnya
manusia penghuni surga
yang bahagia
mendengar jerit sengsara
penghuni neraka
sembari membatin berkata
“Mampus kau, musuhku!”

Sedang di sisi gelap tergelap
penghuni neraka itu meratap
“Ampuni aku..!”
namun penghuni surga enggan menatap.

Keindahan surgawi
telah melunturkan nurani;
terbuai pesona bidadari
hingga mabuk lupa diri;
sibuk berfoto selfie
di sebelah para nabi.

Namun aku juga membayangkan
surga yang sesungguhnya
selalu dipenuhi tangis,
tangisan doa jiwa yang teriris:
“Tuhan, ampunilah musuhku..
seperti Kau ampuni aku..”


Bekasi, 6 Februari 2014
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Saya dan Tuhan


saya dan tuhan

SAYA DAN TUHAN

Saya menengadah,
melihat Tuhan
sedang memegang
selembar kertas
berisi puisi.

Dia membacanya,
dan saya bergerak
ataupun diam
sesuai dengan apa
yang Dia bacakan.

Saat Dia berhenti membaca,
saya bebas.
Saya bisa melakukan apapun,
termasuk segala yang jahat.
Namun Tuhan tetap melihat.

Saat itulah
saya dengan sebebas-bebasnya
gantian menulis puisi
tentang Tuhan.

Dalam puisi
saya berkata:
Tuhan, Engkau tak perlu
membuang bait kekelaman
yang telah Kau tuliskan untukku.
Namun berjanjilah,
Kau akan menyertaiku setiap waktu,
dan aku takkan risau
menjalani apapun itu.

Bekasi, 21 November 2013
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


HellBook (Facebook Versi Neraka)


Hellbook

Sebagai senior di Neraka, Iblis ingin adik-adik kelasnya merasa agak sedikit nyaman dalam hukuman jahanam yang menimbulkan jerit tangis luar biasa. Dia mendatangi Penjaga Pintu Neraka yang kejam bin sadis itu.

“Bro, kita khan sahabat lama. Izin bentaran aja ya, gue mau ke bumi.”
“Halah, tiap hari lu juga ke bumi, pake izin segala. Gaya!”
“Hehehe, biar akrab, Bro.”

Iblis ingin melakukan studi banding. Dia amat kagum pada perkembangan jejaring sosial Facebook. Pikirnya, kalau manusia saja bisa membuat itu, dirinya pasti juga  bisa; meniru yang dibuat Tuhan saja bisa, apalagi yang dibuat manusia. Akhirnya Iblis menyusup ke server utama Facebook, meneliti tiap kode-kode pembentuk dan sistem kerjanya.

“Halah, begini doang! Gampil, cipil! Tinggal simsalabim juga udah jadi.”

Dengan simsalabim abrakadabra Facebook bikinan Iblis sudah jadi. Yang jadi masalah sekarang adalah apa namanya? Securang-curangnya Iblis juga tidak mau disebut penjiplak, minimal harus beda namanya. Saat kembali ke Neraka dia berbincang kembali dengan Penjaga Pintu Neraka.

“Bro.”
“Cepet amat lu, Blis? Tumben.”
“Hehehe, gue ada proyek besar, Bro.”
“Apaan? Nggoda imam agama jadi kafir lagi?”
“Idih. Nggak lah yaw. Gue mau bikin Facebook versi Neraka, tapi apaan ya namanya? Ada ide?”
“Hah? Lu ngapain bikin begituan disini? Iseng amat sih?”
“Ada deh. Udah, buruan, ada ide kagak?”
“Emmm, gimana kalo HellBook?”
“Wow! Lu emang Dahsyat! HellBook, ya, HellBook.”

Tanpa basa-basi, hari itu juga diadakan Grand Launching HellBook. Karena beberapa orang di Neraka yang mati beberapa tahun lalu pernah menggunakan Facebook, HellBook jadi tidak asing. Yang jadi PR adalah orang-orang yang mati puluhan, ratusan, hingga ribuan tahun lalu. Mereka itu gaptek. Iblis menyuruh orang yang mati tahun-tahun lalu mengajari mereka menggunakan HellBook. Ya, akhirnya mereka bisa.

Setiap anggota baru wajib sign up dengan mengisi formulir:  Nama Lengkap, Nama laknat, Tempat dan tanggal mati, Daftar dosa, Tokoh paling dibenci, dan lain-lain. Tiap pemilik HellBook berhak menulis status atau note, mengunggah foto atau video, berkomentar, share, like, dan membuat group.

Seorang Alay menulis status setelah dihukum oleh malaikat kematian: “PaaNaazz Beudd tuh pedaN6 Malaykad.. TaPi teTap CemUnguudd.. Caiyoo!!!” Teman-temannya memberi like begitu banyak, ada 245.

Seorang motivator menulis status: “Sahabatku yang jahanam, hukuman hanyalah anugerah yang tertunda. Klik like jika Anda setuju.” Status itu dishare 5 juta kali, dan mendapat like 7 juta.

Penyair terkenal menulis puisi: “Senjaku lenyap, aku rindu jingga, dalam pekat, panas menyengat.” Iblis langsung memilih puisi itu sebagai salah satu Antologi yang akan dibukukan.

Seorang gadis yang hobi memotret diri sendiri menggunggah foto dirinya yang terluka parah dengan background lahar panas yang tengah menyambar. Teman lelakinya berkomentar: “Kamu luka begitu makin imut ajah.. Like this!”

Karena melihat animo masyarakat neraka yang begitu membludak, Iblis ingin membuat jejaring sosial semacam Youtube, namanya HellTube.

(Bekasi, 23 Mei 2013)
Norman Adi Satria
 

Ruang Pengakuan


Ruang Pengakuan

 

Ribuan orang datang di suatu senja
mengantri satu per satu memasuki ruang sempit,
menemui wakil Tuhan,
Romo Sang Pastor.

Pastor hanyalah wakil,
hanyalah manusia,
hanyalah pendengar,
dan yang masuk itu
hanya untuk mengakui masa lalu.

Mengakui dosa tak semudah menyombongkan diri,
ada rasa bersalah,
ada rasa sesal,
meski belum tentu terpikir tobat.

“Romo, saya homo.”
Romo kaget, tapi tak boleh berkomentar.
“Romo, saya menggauli istri muda ayah saya.”
Romo geram tapi tak boleh marah-marah.
“Romo, saya tak percaya Tuhan. Tuhan itu siapa sih?”
Romo jengkel tapi harus sabar.
“Romo saya mau bunuh kamu!”
Romo takut tapi tak boleh pengecut.

Usai mereka mengaku,
Romo memberi syarat doa untuk mohon ampunan :
tiga kali Salam Maria,
sepuluh kali Bapa Kami,
seratus kali Doa Tobat.

Romo tahu
berapa kali pun mengulang doa
takkan berdampak apa-apa
tanpa pertobatan batin,
tanpa perubahan sikap.

Tapi umat butuh itu
mereka butuh syarat
mereka butuh sesuatu yang bisa dihitung
karena telah terbiasa hitung-hitungan.
Seolah kita sedang dagang dengan Tuhan,
dosa segini dibayar lunas doa segitu.

Terlepas dosanya akan diampuni atau tidak
itu hak mutlak Tuhan,
Romo hanya bisa bilang: semoga,
Umat hanya menjawab: amin.

(Bekasi, 14 Juni 2013)
Norman Adi Satria