KAFIR


kafir

Saya seorang yang tak beragama,
seluruh penduduk dusun tahu itu.

Satu per satu dari mereka datang kepada saya
untuk mengajak saya ikut agamanya.

Namun yang mereka lakukan hanyalah
mencibir agama lainnya
dan mengatakan agamanyalah
yang paling benar
yang lain salah,
yang ini asli
yang itu tiruan,
yang ini dari Tuhan
yang lain hanya bikinan,
yang ini benar
yang lain menyesatkan,
yang ini ke surga
yang lain ke neraka.

Akhirnya mereka berperang satu sama lain
saling ejek di depan gubuk saya.
Saling menyebut kafir
atau domba yang hilang.

Akhirnya saya geram
dan mengambil pedang,
di depan mereka saya berbicara:
“Belah dan potong-potong tubuh saya, bagikan sejumlah agama.”
Lalu mereka menangis
terkenang Salomo, Sulaiman.

“Siapapun di hadapanku yang tak berdosa,
boleh menjadi yang pertama mengiris tubuhku.” teriakku.
Mereka tersungkur
terkenang Yesus, Isa Almasih.

“Duhai, siapakah Dikau di balik alam semesta ini?”
Mereka rebah di atas tanah
terkenang kisah Muhammad.

(Bekasi, 28 Mei 2013)
Norman Adi Satria