Kening Kerontang


kening kerontang

KENING KERONTANG

Keningnya makin kerontang
Pagi tadi sengaja dipangkasnya
rambut panjang itu jadi poni
untuk menutupi

Keningnya terkadang nampak basah tuk sekejap
itu gumpalan peluh yang seringnya tanpa sengaja
menetes bersamaan airmata
hingga tersamarkanlah dukanya

Ketika ditanya: kau berairmata?
Dia menjawab:
“Bukan, ini keringat. Mungkin aku lelah.”
Atau
“Ini hanya kerena panasnya cuaca.”

Keningnya juga kerap dibasahi minyak angin
yang sekejap menguap
namun pusingnya tinggal tetap

Yang jelas kening itu sudah lama kering
Ketika ditanya: kemana bibir yang dulu menciuminya?
Dia menjawab:
“Mungkin dia lelah.”
Atau
Ah, tak mungkin karena cuaca.
Kerena cuaca akan kembali
sedang dia tidak.

(Bekasi, 5 Agustus 2015)
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 

Continue reading

Nol: omong seratus tapi kelakuan nol


nol

Cobaan hidup
layaknya ujian open book
Kita dibebaskan membuka segala risalah
perihal segala masalah sepanjang sejarah
baik yang telah menjadi makalah
atau hanya ternoktah
di kerutan-kerutan wajah

Pagi ini aku membaca kerutmu, ibu
untuk memahami apakah istriku bahagia
dengan laku yang kutiru
dari catatan-catatan ayahku

Rupanya kau menangis, ibu
meski kau tak mengatakan ini buruk
Ternyata istriku bersedih, ibu
meski dia tak pernah nampak terpuruk

Namun lihat ini, ibu
Lihat ini, aku mendapatkan nilai seratus!
Nilai sempurna yang aku dapatkan
dalam ujian retorika:
kebijaksanaan kata-kata
Namun praktiknya
aku nol!


(Bekasi, 1 Juni 2015)
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Tebus: puisi itu bagaikan resep dokter tau!


tebus

Puisi bagaikan resep dokter.
Tugasmu belum usai
hanya dengan membacanya.

Tebuslah!
Meski yang akan kau dapati
hanya pil pahit
dan sirup rasa stroberi.
Itupun belum tentu mujarab.
Kerna tidak semua tanya
bisa disembuhkan oleh jawab.

Bekasi, 28 April 2015
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Gembala Segala: Iblis juga berdoa


gembala segala 2

GEMBALA SEGALA

“Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku.”
ucap sekawanan domba sebelum rebah
di bawah purnama yang terang.

Ucapan yang sama
juga dilafaskan oleh serigala
sembari mengendap-endap di rimbun ilalang,
bersiap menyerang
domba-domba yang baru saja tidur tenang.

Bekasi, 19 Mei 2015
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Buku Curian: kisah bocah pencuri buku


buku curian

BUKU CURIAN

Buku tak pernah pandang bulu
siapa yang membacanya kala itu
dia akan tetap mengajari siapa pun
tak terkecuali bocah lelaki sepuluh tahun
yang ditangkap satpam
karena ketahuan mencurinya di rak bacaan
dan baru akan dibebaskan
bila ayahnya datang untuk membayarkan

“Mengapa kau mencuri, Nak?”
tanya ayahnya di ruang penahanan
“Maaf ayah, aku tak tega meminta untuk kau belikan.”
jawab anaknya dengan airmata yang berjatuhan

Ayahnya tak bisa berkata apa-apa lagi
dagangannya sudah beberapa hari ini sepi

Beberapa saat kemudian
usai buku curian itu dibayarkan
ayah memboncengkannya pulang
dalam bungkam

Dan buku mulai mengajari anaknya
tentang kehidupan
bahkan sebelum buku itu mulai dia baca
dan renungkan

(Bekasi, 30 Mei 2015)
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Y dan M: tentang dua Nabi yang umatnya ribut melulu


y dan m

Y DAN M

Nabi Y, sudah ada sebelum penciptaan
sebagai firman Tuhan.
Datang ke dunia sebagai penikmat buah ara.

Nabi M, sudah ada sebelum penciptaan
sebagai cahaya Tuhan.
Datang ke dunia sebagai penikmat buah kurma.

Usai keduanya wafat sebagai manusia,
mereka kembali ke surga,
saling berbagi ara dan kurma.

Namun kedua kumpulan umatnya
berdebat meributkan mana
yang lebih mulia:
ara atau kurma.
Padahal ini bukan soal buah-buahan.

Bekasi, 29 April 2015
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Hanya Khilaf: berkorban tak perlu jadi korban


sd

HANYA KHILAF

Kemarin wanita itu masih mencari tahu
apa yang bisa membuat
sang lelaki idaman tertarik padanya.

Maka dipendekkannya rok,
disingkapnya belahan dada,
disintalkannya payudara,
dipertebalkannya riasan muka,
digemulaikannya lekuk tubuh,
dan digenitkannya tutur kata.

Wanita itu berhasil.
Sang lelaki idaman
menidurinya semalaman.

Namun paginya
sang lelaki mohon maaf,
semalam hanya khilaf.

(Bekasi, 9 Mei 2015)
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini