Timbul Dan Sofie: Cowok Jelek Pacar Cantik


timbul dan sofieTIMBUL DAN SOFIE

Sahabat saya, Timbul,
seorang lelaki yang sok ganteng,
tadi pagi tiba-tiba datang ke rumah
sambil menggandeng gadis cantik, Sofie.

Sofie adalah sahabat lama saya.
Timbul baru mengenalnya sebulan,
sedangkan saya sudah 5 tahun tak berjumpa dengan Sofie.
Sofie, gadis cantik yang minder.

Pemandangan cinta macam begini,
mengusik manusia-manusia macam saya,
menimbulkan tanda tanya besar:
“Kok mau, gadis secantik Sofie berpacaran dengan lelaki se-sok ganteng Timbul?”
Saya tidak tega menyebut Timbul jelek.

Setelah basa dan basi,
penyakit Timbul kumat:
mules.
“Bro, gue numpang ke belakang.”
“WC-nya di depan, Mbul.”
“Ah, bodo amat.
WC di depan juga disebut mau ke belakang lah!
Gue pengen boker.”
Bunyi angin tipis tersaring di celananya.
Sofie tampak sudah terbiasa dengan baunya.

Tinggal saya dan Sofie berdua
di beranda.
Dia masih seperti dulu,
malu-malu,
jemarinya mengucek ujung kemeja,
bola matanya mengarah kemana-mana.

“Dunia emang sempit ya, Sof?”
“He’eh..”
“Kok bisa, ya?”
“Bisa apa?”
“Kalian?”
“Aku sama Timbul?”
“He’eh.”
“Kamu masih bisa jaga rahasia khan?”
“Iya lah, kita khan udah kenal lama.”
“Kamu khan tahu, aku ini cewe jelek.
Jadi aku cuma pantas dapet cowo jelek juga.”
“Sofie..Sofie… Kamu ga berubah!
Selalu minder, selalu merasa diri jelek!
Kamu cantik, Sofie!”
Setelah mengucapkan itu,
aku tersadar,
Sofie mulai mengenang cintanya dulu padaku,
yang kandas karena mindernya,
sehingga tak pernah mengungkapkannya padaku.

Timbul muncul,
membetulkan celananya.
“Legaaa…”
“Udah, Mbul?”
“Beres, Bro..”

Aku menarik Timbul ke ruang makan,
ingin bertanya,
karena bertanya pada satu orang tak cukup,
harus seimbang dari dua sisi.

“Mbul, gimana ceritanya?”
“Ya, lu tau sendiri, boker khan penyakit lama gue.”
“Bukan boker! Cerita lu bisa sama Sofie? Pake dukun?”
“Weits, sorry bro, gue anti dukun.”
“Terus kok bisa?”
“Lu tau sendiri gimana gantengnya gue.
Dan Sofie yang cantik itu adalah yang pantas ngedapetin gue.
Gitu doang ceritanya.”
“Oooo.. Gara-gara lu ganteng?”
“Yoi, malaikat juga tau..”

Dua pendapat yang sungguh berlainan.
Yang satu mengaku karena sama-sama jelek.
Yang satu lagi mengaku karena pasangan ganteng dan cantik.

O, Timbul dan Sofie..

Bekasi, 26 Juli 2013
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Penjual Petasan (Humor)


pedagang petasan

PENJUAL PETASAN

“Bang, yang paling mahal mana?”
“Oh, ini Boss.”

“Berapa?”
“Tiga ratus ribu.”

“Mahal amat?”
“Lha, tadi khan Boss nanya yang paling mahal?”

“Bunyinya gimana, Bang?”
“Bunyinya: dor. Namanya juga petasan.”

“Masa tiga ratus ribu sepelan itu bunyinya?”
“Ya lebih keras lah. Masa mulut saya yang jadi acuan?”

“Iya dong.”
“Bunyinya: DOOORRR!!!!”

“Nah, itu baru mantap.”
“Jadi, beli berapa, Boss? Nanti saya korting deh, sebagai penglaris.”

“Beli satu aja. Tapi coba dulu dong, buat contoh. Ntar ternyata bunyinya kecil khan sayang duitnya, mahal begitu.”
“Wooo….!!! Denger suara ini aja nih: ASSUUU..!!! Petasan kok dicoba dulu, ya saya rugi ya!!”

“Nah, itu bagus. Yang bunyinya asu begitu pasti paling murah.”
“$6:$7#-$7885343##&€€¥´€×!!!!!”

Bekasi, 12 Juli 2013
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Anak Asu


anak asu

ANAK ASU

Seekor anak asu
yang lucu
minum susu
di bawah meja makan
di sebuah Lapo Cililitan.

Umurnya mungkin baru dua bulan
namun sudah harus minum susu dari nampan
karena ibunya baru saja matang
jadi hidangan santapan.

Anak asu mendekati kaki pelanggan
yang lahap makannya,
keras suaranya,
menggelegar tertawanya.

“Kau lapar?”
Pelanggan gendut melempar tulang.
Anak asu memungutnya
menggelindingkannya seperti bola
menuju sebuah liang
yang pagi tadi baru dia gali.

Anak asu menguburkan tulang ibunya,
sayang dia belum sempat diajari berdoa.
“Mama, selamat jalan.”
Air matanya menetes di atas kuburan.

Bekasi, 9 Juli 2013
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Di Suatu Dahulu


di suatu dahulu

DI SUATU DAHULU

Rumah masa kecilku
yang ada di suatu dahulu
hanya berdinding anyaman bambu.

Agar tampak kuat,
Ayah menempelkan kertas bekas
dengan lem dari tepung kanji
dan melaburnya dengan kapur.
Bila hujan datang semuanya luntur.

“Ayah, luntur.”
“Tak apa, Nak. Lekas tidur.”
Ayah sepanjang malam mengumpulkan lap gombal
untuk menambal,
jangan sampai air hujan
merembes ke kasur
agar aku tetap lelap tertidur.

Suatu hari aku minta dibelikan air mancur,
agar mandiku tak usah mengguyur.
“Ayah, di kamar mandi orang kaya ada air mancur,
mereka tak usah gebyur-gebyur.
Tinggal putar kran langsung cur.”
Ayah hanya menghela napas,
mungkin pintaku tak terukur,
ia hanya seorang tukang cukur.

Namun sorenya aku melihat air mancur di kamar mandiku.
Ayah membuatnya dari botol bekas
yang ia lubangi kecil-kecil di bawahnya.
Airnya dari ember yang terus ia isi air dari timba
dari sumur tetangga
dan mengalir melalui selang.
Aku mandi dengan senang
berasa seperti orang kaya.

“Nak, untuk mandi seperti ini
kita tak perlu jadi orang kaya,
jadilah orang yang mampu melakukan apapun
dalam keterbatasan yang ada.”
katanya
sembari terus menimba
di suatu dahulu kala.

Bekasi, 10 Juli 2013
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Tali Temali


Tali temali

TALI TEMALI 

Apakah tali cinta adalah tali perkawinan?
Ataukah tali perkawinan adalah tali cinta?

Urusan tali temali ini tak mudah dipecahkan
bahkan oleh seorang pramuka
atau pendaki tebing di bukit
yang amat lihai merangkai simpul
hingga yang terkuat sekalipun.

Kita tak selamanya butuh Cupid
untuk meluncurkan anak-anak panah cinta
menuju hati seseorang
yang akhirnya mengikatkan diri
di sebuah tali bersama kita,
tali perkawinan yang tanpa cinta,
atau tali cinta tanpa perkawinan.

2009
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Mercon


Mercon

MERCON

Meriah tak perlu riuh.
Rembulan pada hilal
cukup menandakan
kita lebaran,
lalu kita bersalaman
minta maaf dalam bisik
tak perlu mercon berisik.

Bekasi, 10 Juli 2013
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Peristiwa di Kuntum Bunga


Peristiwa di kuntum bunga

PERISTIWA DI KUNTUM BUNGA

Mungkin kibasan sayap kupu-kupu yang indah itu
adalah sebuah badai bagi serangga kecil di sekitarnya
yang membuat pijakannya goyah pada sekuntum bunga
ketika kupu-kupu mendarat hendak menghisap madu di dekat sarangnya.

Namun yang biasa kita lihat hanyalah keindahan,
bukan serangkai peristiwa
yang terjadi di sekuntum bunga,
hingga kita kagum pada satu bagian
dan melupakan yang lainnya.

Bekasi, 11 Juli 2013
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini