Politik Cinta: jangan mau dicoblos sebelum ke…?


ilustrasi: kaskus.com

ilustrasi: kaskus.com

POLITIK CINTA

Hei, pemudi
ingatlah hal ini
dalam cinta kau pun
harus belajar politik
agar tak kaget-kaget amat
ketika mengetahui
bahwa cinta dan bahagia
tak selalu mau berkoalisi,
bercinta bukanlah berkongsi
menghitung untung dan rugi.

Hei, pemudi
jangan lupakan ini
kau bisa saja dicoblos
kemudian ditinggal pergi.
Ada pula pemilih yang ngakunya golput
tapi suka coblas-coblos sana-sini
dan celap-celup segala jari.
Tinta di jemarinya mudah luntur,
sedang lubangmu membekas seumur-umur.

Bila kau kertas pemilu
ajarkan pemilihmu
mencoblos hanya satu,
dan kau jangan mau
dicoblos sebelum ke penghulu.

Bekasi, 21 April 2014
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Pulang ke Mimpi


pulang ke mimpi

PULANG KE MIMPI

Ini sudah kesekian sepi
aku menanti,
dan entah berapa sepi lagi
harus kulewati.

Inilah yang aku takuti
kau sengaja menjadikan sepi
sebagai sebuah takaran tuk kembali.
Katamu: nanti
bila kau sudah kesepian.

Bukankah kau tahu
sepi memperlama terasanya waktu?
Sepi bukanlah sebuah perjalanan
yang semakin jauh aku melangkah
kian mempersingkat jarak denganmu.

Yang harus aku lakukan hanya menunggu,
menunggumu.
Bila aku gaduh sepi akan lenyap,
maka aku diam agar kesepian kian senyap,
dan berharap
kau datang ketika aku lelap.

Ini sudah sangat sepi,
mari pulang ke mimpi.

2007
Puisi-Puisi Normantis
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Paskah


jesus-tomb

PASKAH

Di hari keempat sebelum Paskah
Yeshua terkulai pasrah
rebah di tanah
di tengah Getsmani nan basah
oleh airmatanya yang resah
menitik berupa tetesan darah:
Abba, jauhkanlah cawan ini dariku,
namun bukan kehendakku yang jadi,
melainkan kehendak-Mu.

Dia tengah meniru kata
yang pernah dia dengar ketika
berada di perut ibundanya, Maria:
terjadilah padaku, menurut kehendak-Mu.

Dia takut, namun percaya
Tuhan akan menyelamatkannya.
Seperti senandung Daud di bait dua puluh tiga:
Tuhan adalah gembalaku,
takkan kekurangan aku.
Dibaringkan-Nya aku di rumput hijau.
Kau menuntunku ke air yang tenang.
Gada dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Namun, cawan pun harus tertuang
demi menyeka kepalanya dengan urapan,
karena dia takkan jadi Mesias tanpa pengurapan.

Sayang, cawan itu bukanlah berisi narwastu,
namun sebuah takdir yang terikat waktu.
Bila waktunya tiba,
maka segala daya upaya jadi sia-sia.
Melenggang kabur ketika berdoa pun takkan bisa.

Yeshua ditangkap, dilucuti, dihina caci maki,
dan disalibkan di Golgota
bersama dua pemberontak kaisar keji.

Yeshua mati.
Dia mati seusai tangisnya membahana:
Elohi, Elohi, lama sabakhtani?
Dia nyaris kehilangan kepercayaan,
dia tak lagi memanggil Tuhannya: Abba, Bapa;
namun: Elohi, sapaan kepada JHVH bagi bangsa Yahudi.

Di hela napas terakhir,
dia pasrah dan kembali memanggil Tuhannya Bapa
mungkin dengan sedikit percaya:
Abba, ke dalam tangan-Mu
kuserahkan nyawaku.

Di hari ketiga usai kematiannya,
hari yang telah dijanjikan Tuhan untuk kebangkitannya,
Yeshua membuka mata,
melihat luka di telapak dan lambungnya,
kemudian menggulingkan sendiri batu kuburnya.

Tuhan bertanya: Paskah?
Yeshua menjawab: pas sekali, Tuhan. Pas di hari ketiga.

Bekasi, 19 April 2014
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Satinah


IMG_20140410_232844

SATINAH

Tin, tujuh juta Riyal, Tin,
21 koma 25 milyar Rupiah!
Mau kerja jadi babu,
mati lalu bangkit,
jadi babu lagi pun
kau atau aku
takkan bisa melunasinya.
Tapi itu harga nyawamu, Tin.
Harga yang dipatok Saudi
untuk menebus lehermu.

Aku takkan meributkan masa silammu
yang telah membunuh majikanmu.
Aku juga segan komentari hukum
yang berlaku di negeri kelahiran Nabi.
Aku sudah muak terhadap cueknya pemerintah
di negeri kita sendiri.

Yang jelas,
hukum mata ganti mata
nyawa ganti nyawa
hanya warisan Yahudi
yang telah usang
dan harus kita buang,
dua ribu tahun lalu pun
Almasih dengan tegas menentang.

21 koma 25 Milyar, Tin,
duit yang terlalu besar untukku
yang kadang makan di warteg
masih ngutang.
Tapi itu duit yang terlalu kecil
untuk bangsa kita ini.

Bila setiap individu bangsa ini
menyumbang satu Rupiah saja,
maka detik ini pun lunaslah sudah,
dan nyawamu terselamatkanlah.

Dengan puisi ini aku menyerukan
gelora semangat persatuan
demi kau, Tin.
Namun, sesalilah masa silammu.
Dengan alasan apapun
membunuh tetap keji, Tin.

Bekasi, 26 Maret 2014
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Seorang Bocah di Atas Sepeda


bocah di atas sepeda

SEORANG BOCAH DI ATAS SEPEDA

Hujan kian deras
dua roda kecil melaju
di jalanan yang basah.
Bocah sembilan tahun
mengayuh sepeda
ngebut menuju rumah
dengan sebuah Alkitab
di tangannya.

“Jangan sentuh Alkitabku!”
kata bocah itu kepada hujan.
“Baru saja kucuri dari gereja,
kau sudah mau merusaknya?”
lanjutnya,
sembari menghentikan laju sepeda,
melepas bajunya
untuk membuntal Alkitabnya.

Hujan tertawa.
Tawa yang tak dimengerti
bocah di atas sepeda.

Jakarta, 12 Desember 2013
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Saya dan Tuhan


saya dan tuhan

SAYA DAN TUHAN

Saya menengadah,
melihat Tuhan
sedang memegang
selembar kertas
berisi puisi.

Dia membacanya,
dan saya bergerak
ataupun diam
sesuai dengan apa
yang Dia bacakan.

Saat Dia berhenti membaca,
saya bebas.
Saya bisa melakukan apapun,
termasuk segala yang jahat.
Namun Tuhan tetap melihat.

Saat itulah
saya dengan sebebas-bebasnya
gantian menulis puisi
tentang Tuhan.

Dalam puisi
saya berkata:
Tuhan, Engkau tak perlu
membuang bait kekelaman
yang telah Kau tuliskan untukku.
Namun berjanjilah,
Kau akan menyertaiku setiap waktu,
dan aku takkan risau
menjalani apapun itu.

Bekasi, 21 November 2013
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Bunga untuk Makam Ibu


bunga untuk makam ibu

BUNGA UNTUK MAKAM IBU

Mungkin puluhan, ratusan,
atau ribuan
lalat aneka jenis
telah hinggap di lututnya.
Itu luka karena terjatuh
belum kering sempurna.
Kemarin dia jatuh lagi
saat dikejar petugas satpol
karena dianggap gepeng musiman
di bulan Ramadhan.

Namanya Rendra,
bukan penyair,
dia pemulung kecil,
anak dari bapak yang pemulung juga.
Usianya sepuluh tahun,
tak pernah sekolah sekalipun.

Ibunya meninggal empat puluh hari lalu.
Ayahnya bilang dia meninggal karena keracunan.
Keracunan janji palsu wakil rakyat
yang dipilihnya saat pemilu.

Ini hari mereka datang ke kuburan.
Makamnya adalah sisa tanah di pojok pemakaman
yang orang lain tak mau beli
karena bersebelahan
dengan pembuangan sampah liar.
Dia yang membelinya
dengan menyicil kepada preman kuburan.
Untuk mati pun orang miskin harus sengsara
di negeri huru-hara.

Mereka tak membawa kembang
ataupun air mawar.
Mereka membawa karung,
untuk sekalian memulung.
Sampah-sampah yang menutupi makam
mereka bersihkan.
Sampah yang bisa dijual
mereka masukkan ke karung.

Lalat-lalat mengerubungi luka
di lutut Rendra.
“Makan yang banyak ya, lalat.”
katanya.

Ayahnya yang kelelahan duduk di atas makam, mengamati papan.
Tertulis disana nama: Sri Wulandari.
“Sri, lihat anakmu.
Dia makin lihai memilah sampah.
Semoga dia pun pandai memilah hidup.”

Beberapa menit kemudian
karung Rendra telah penuh.
“Pak, kita dapat banyak hari ini.
Biar aku jual ke juragan di pinggir kali.”
Rendra berlari,
menjual hasil pulungannya.

Tujuh ribu lima ratus rupiah
ia serahkan kepada ayahnya
yang masih duduk di atas makam ibunya.

Dua ribu lima ratus rupiah ayahnya kantongi,
dan lima ribu rupiah dibelikannya bunga.

“Ini bunga hasil keringat anakmu, Sri.”
mereka menabur bunga di atas makam.
Kemudian pulang.

Jakarta, 17 Juli 2013
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini