Pagi Yang Takkan Pernah Sama Lagi: Yesus dan Maria Magdalena, ada asmara?

pagi yang takkan pernah sama lagi

pagi yang takkan pernah sama lagi

PAGI YANG TAKKAN PERNAH SAMA LAGI

Usai terlelap selama dua hari,
mulai pagi ini
keterjagaanku takkan pernah sama lagi.

Inilah hari ketiga,
deadline-ku untuk bangkit sudah menyapa.
Namun untuk apa?

Lihat, pagi ini kekasihku tak mengenaliku
dia berairmata menangisi kosongnya makamku.
Menangisi seseorang yang harusnya ada
untuk menghapus airmatanya.

Sesungguhnya aku ada di sampingnya,
namun dia mengira aku sebagai seorang penunggu taman
yang telah menyembunyikan mayat sang lelaki kesayangan.

“Nona, mengapa engkau menangis?” tanyaku.
“Tuan, jika kau yang telah mengambil jenazah
aku mohon kembalikanlah.
Katakanlah kepadaku kemana kau pindahkan dia.
Aku ingin meminyakinya sekali lagi, untuk yang terakhir kali.
Aku ingin kembali menyeka kakinya
dengan narwastuku yang tersisa.
Tuan, tolong tunjukkan padaku ke tempat mana kau pindahkan dia.”
ucap Maria Magdalena.

“Maria.”
ketika aku mengucapkannya,
dia baru menyadari bahwa ini aku.

Dia ingin memelukku
dengan tubuhnya yang kekelahan diterjang duka lara.
Dia ingin menciumku
dengan bibirnya yang tak berhenti berdoa.
Dia ingin menatap kedalaman mataku
dengan matanya yang telah tiga hari terjaga.
Dia ingin memastikan aku
dengan kenangan-kenangan yang dia punya.
Masihkah aku sosok yang sama?

“Tidak, Maria.
Jangan menyentuhku.
Kelanjutan kisah cinta ini
bukan bagian dari
yang harus aku genapi.”

Tugasku hanya sebagai penggenap
dari segala yang ganjil
di dalam injil.

Bekasi, 5 April 2015
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Pontius Pilatus (Part 1): sumpah demi anjing!

pontius pilatus

pontius pilatus

PONTIUS PILATUS – 1

Malam tadi istriku mimpi buruk
arwah-arwah leluhur mengunjungi lelapnya,
mungkin ada nabi di antaranya,
hadir seolah menyampaikan pertanda-pertanda.

Istriku memang seorang Yahudi,
suku bangsa yang dijajah oleh bangsaku kini, Romawi.

Bangsa Yahudi sangat menghargai mimpi,
karena mimpi pulalah yang menyelamatkan cikal bakal bangsa ini
dalam peristiwa dibuangnya Yusuf putera Yakub oleh sanak keluarga
yang kemudian justru menjadi penyelamat bagi mereka
berkat kepiawaiannya menerjemahkan mimpi Firaun,
sang raja negeri piramida.

Tapi apakah aku layak disebut seorang penjajah
sementara Imam-Imam Agung
serta bangsawan-bangsawan Farisi
terus mengukuhkan martabatku sebagai wali negeri
di tanah Yudea ini?
Atau mungkin benar firasatku:
keahlian menjilat bukan hanya ada pada bangsaku?

Siang tadi, para Imam Agung, kaum Farisi,
dan segerombolan orang Yahudi
mengarak seorang lelaki menuju kuilku.
Mereka meminta aku menghakimi lelaki itu.

Yeshua dari Nazaret.
Mereka ingin aku menghakimi keturunan Daud
hanya karena dianggap sebagai penghasut?

Aku langsung terkenang pada catatan sejarah yang pernah kubaca:
Tetralogi Plato, yang mengisahkan
penghakiman atas filsuf agung Socrates
dengan tuduhan penghasutan kaum muda Athena
untuk tak lagi percaya kepada dogma-dogma.
Socrates diputuskan bersalah
dan diharuskan bunuh diri
dengan meminum racun dari cawannya sendiri.

Sumpah demi anjing,
aku tak ingin mengulang kegoblokan leluhur!
Socrates harusnya tak mati dengan citra seburuk itu!

“Wahai, Pilatus yang perkasa, penguasa tanah Yudea,”
seorang tetua mulai menyapa.
“Kami baru saja menyinggahi Herodes untuk meminta penghakiman atas orang ini,
penghasut bangsa kami
yang mengaku sebagai seorang nabi.
Namun sayangnya, yang mulia Herodes
tak mau mengambil keputusan apa-apa atas warga
yang tinggal di wilayah kekuasaan Yudea.
Maka kami datang kepadamu.
Hakimilah sang penghasut ini!”

Kemudian aku menjawab:
“Hei orang Yahudi, mengapa kau melaporkan orang ini kepadaku
sementara perkaranya adalah persoalan rohani?
Apa kau bilang tadi, dia mengaku sebagai nabi?
Maka hakimilah dia dengan hukum bangsamu sendiri!”

Aku melihat para tetua berunding dalam bisik, kemudian kembali melanjutkan ucapannya:
“Perkaranya tidak sesederhana itu, wahai yang mulia Pilatus.
Orang ini bukan hanya mengaku sebagai nabi,
namun juga mesias,
yang berarti pula seorang raja.
Dia telah menciderai martabat Caesar sebagai raja kita.
Bila kau tak mau menghakimi si raja gadungan ini
berarti kau tak layak lagi disebut sahabat Caesar.”

Yahudi bedebah!
Mereka telah memaksaku dengan membawa-bawa nama Caesar.
Tak kusangka, mereka tahu kelemahanku, yang tak bisa menentang Caesar.

Aku membawa lelaki itu ke ruang penghakiman.
Lelaki yang sangat tenang, meski tak sedikitpun bertampang raja.

“Yeshua dari Nazaret, benarkah kau seorang raja?”
“Barusan kau yang mengatakannya.”

Orang macam apa yang sedang kuhadapi?
Darimana asalnya keberanian yang dia miliki?

“Hei Yeshua, kau pikir aku orang Yahudi?
Lihat, bangsamu sendiri yang menginginkan penghakiman atas dirimu!
Kini katakan kepadaku, benarkah kau seorang raja?”
“Kerajaanku bukan dari dunia ini.
Bila kerajaanku dari dunia ini sudah pasti bala tentaraku
akan menyelamatkan aku dari orang-orang Yahudi itu.”

“Lalu apa sebenarnya makna dari kehadiranmu yang membuat bangsamu murka?”
“Aku hadir hanya untuk menyatakan kebenaran.”

Apa itu kebenaran?
Apakah itu suatu hal yang jua
menghantarkan Socrates kepada kematian?

Istriku menyeretku dan kembali mengingatkan tentang mimpi buruknya yang semalam.
Dia yakin mimpi buruk itu berkaitan dengan lelaki ini.

Sumpah demi anjing,
aku takkan menjadi leluhur goblok!

____## BERSAMBUNG KE PART 2 ## ____

Bekasi, 3 April 2015
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 

Kota Judi: ternyata ayahku seorang dewa judi

kota judi

kota judi

KOTA JUDI

Inilah pertama kali aku
memasuki kota judi
sekedar untuk melintas saja
lantaran tempat tujuanku tak seperti Roma
yang memiliki banyak jalan untuk menuju kesana.
Makam ayahku hanya punya satu jalan yaitu kota ini
kota yang penuh dengan pertaruhan harga diri.

Seperti telah kuduga sebelumnya
aroma manusia baik-baik akan mengganggu
indera penciuman mereka.
Bukan berarti aku tidak jahat
manusia baik-baik hanya sekedar julukan
bagi manusia yang tak pernah berjudi,
lebih tepatnya itu adalah sebuah olokan.

“Hei, manusia baik-baik,
putera siapakah kau
hingga berani-berani melintas kota ini
tanpa permisi dengan bermain judi?”
bentak seorang centeng bertubuh kekar
yang kerah bajunya berlumuran arak.
“Aku hanya anak seorang lelaki
yang makamnya berjarak
seratus kaki dari kakimu.”
jawabku.

Ucapanku terdengar oleh seluruh penduduk kota itu
sontak mereka meninggalkan seluruh papan penjudian
dan mendekati aku dengan tampang tak keruan.
“Selamat datang, wahai putera dari dewa judi.”
semua sujud di hadapanku.

Pemimpin mereka mengisahkan kepiawaian ayahku
yang seumur hidupnya tak tertandingi oleh siapapun.
“Ayahmu memiliki seekor ayam paling perkasa
yang tak tertandingi bahkan di hari kematiannya.
Kau harus bangga sebagai puteranya.”

“Tidak ada satupun kemenangannya yang membuatku bangga
kecuali kemenangan atas dirinya sendiri.
Aku baru saja membaca surat yang dia tulis sebelum kematiannya.
Di dalam surat itu dia berpesan kepadaku
untuk menuliskan sesuatu di batu nisannya.
Biarkan aku lewat.”
kataku, melintasi mereka yang membuka jalan bagiku.

Dari kejauhan mereka melihat
aku menorehkan sebuah kalimat :
Aku telah mengalahkan diriku sendiri
dan mati bukan sebagai penjudi.

(Bekasi, 8 Maret 2015)
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Atasan dan Bawahan: kamu siap jadi yang mana?

atasan dan bawahan

atasan dan bawahan

ATASAN DAN BAWAHAN

Ada sebagian dari kita
yang tidak siap menjadi bawahan:
disuruh-suruh
dikejar-kejar deadline
dimaki-maki atasan
dijadikan bahan omelan.

Ada pula sebagian dari kita
yang tidak siap menjadi atasan:
disepelekan
dibantah habis-habisan
dijadikan bahan pergunjingan
oleh bawahan yang tidak siap jadi bawahan tadi.
Belum lagi, atasan yang layak disebut pemimpin
adalah yang bijak dan melayani.

(Bekasi, 1 April 2015)
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Kusyuk: tertawa dalam doa

khusyuk

khusyuk

KUSYUK

Dalam khusyuk doanya
ia tak sedang berduka
justru ia tengah bersenda gurau
tertawa bersama Tuhan
dalam sebuah percakapan
tentang masa silam
bahwa sebelum mereka sedekat ini
ia sering keliru tertukar
mengira dogma selalu benar.

(Bekasi, 15 Februari 2015)
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Sederhana 2: ketika puisi meminta penyairnya untuk menjadikannya seperti apa

sederhana 2

sederhana 2

SEDERHANA 2

Suatu kali puisi saya
berkata kepada saya,
“Saya ingin saya kian sederhana.”

Lebih sepuluh tahun terlewati
saya tak tahu pasti
apakah yang paling sederhana ini
masih puisi.

Bekasi, 28 Februari 2015
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Nila dan Susu: aku janji takkan lagi merusak susumu, tapi…

nila dan susu

nila dan susu

NILA DAN SUSU

Nila telah berjanji kepada saya
takkan lagi merusak susu
asalkan saya
tidak mempertemukan mereka
pada sebuah belanga.
“Kini sepenuhnya keputusanmu.”
kata nila dan susu.

Bekasi, 5 Maret 2015
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini