Selendang Malam


selendang malam

SELENDANG MALAM

Masih ada sisa malam di dalam selendang
yang mulai lusuh dan bau
bekas dipipisi bocah tanpa ayah
bekas dibasahi tetes airmata ibu
yang resah juga pasrah

Selendang batik penutup batuk
dan penutup apa saja
termasuk koreng yang minta digaruk
“Jangan garuk dulu, Nak.
Tunggu kering, lebih enak.”

Dalam selendang
bocah mulai terkantuk
usai membedakan
mana corak
mana bercak

“Corak itu terbuat dari malam, Nak.
Dicanting bertahun silam oleh pembatik.
Dan bercak terbuat dari segala kelam
yang ada di dalam malam kita.”

Bekasi, 14 Agustus 2015
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Pensiun: Sebagai Orang Miskin


pensiun

PENSIUN

Usianya telah genap tujuh puluh tahun
Dua puluh tahun lebih tua dari suatu masa
dimana ia dengan tergopoh menuju Tuhannya
sambil menenteng map coklat berisi pengajuan pensiun:
pensiun sebagai orang miskin

“Namaku bukan Ayub, Tuhan,
aku Sulaiman!”
Katanya sebagai awalan

“Ayub sebelum kere pun pernah sugih
dan Sulaiman memang terlahir sebagai putera raja
yang mulya sedari mula.
Sedang aku yang dinamai Sulaiman oleh ibuku ini
terlahir sebagai putera entah siapa.
Tapi ibu pernah bilang bahwa bapakku
yang lupa ia tanyai namanya itu kaya raya.
Diperkosanya saja di kasur nan empuk lagi wangi
bukan di barak penampungan berdipan klasa.
Maka, bila Sulaiman yang itu kemudian mewarisi tahta raja
hanya karena keturunan Daud,
bukankah aku yang meskipun lahir dari tabiat sundal lelaki
berhak atas setidaknya secuil pengalaman lain
di samping pengalaman kere?
Kerena konon bapakku ini orang parlente.”
Ucapnya di alenia pertama

“Aku harap tiada lagi iblis yang mengajak Engkau bertaruh, Tuhan.
Seperti kisah Ayub yang membuat Kau menang.
Dan sekali lagi, namaku Sulaiman, bukan Ayub!
Tapi mengapa Engkau mencobai aku seperti dia?
Tidak, tidak! Jangan pikir jadi fakir akan membuatku kafir.
Ini buktinya aku masih menuliskan surat cinta untuk-Mu.
Cinta toh sekali-sekali butuh ngambek demi dialem-alem kekasihnya.
Dan Kau kekasihku, Tuhan. Kita tidak dalam hubungan kakak-adikan.
Meski kadang aku merasa perlu meniru ucap
cucu-cucu ABG jaman sekarang:
maaf ya, kamu terlalu baik buat aku.”
Ucapnya di alenia kedua

“Ya Tuhanku, dari palung jiwaku yang terdalam
yang kini sudah jadi cetek,
aku mohon izinkanlah aku pensiun.
Pensiun sebagai orang miskin.
Amin.”
Katanya sebagai penutupan

Dua puluh tahun sudah terlewati
pengajuan pensiun itu hanya teronggok dalam laci.
Ya, keinginan tuk pensiun itu tak jadi
kerna semenjak menjumpai Tuhannya
ia tak lagi menginginkan apa-apa
tak lagi butuh diri dianggap Sulaiman, Ayub, atau siapa.
Di usia tujuh puluh tahun ini
dia masih kere namun bahagia.

Bekasi, 6 Agustus 2015
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Tong


tong

TONG 

gedumbrang gedambreng
tong kosong nyaring bunyinya
bruk bruk bruk
bunyi tak nyaring tong ada isinya

gedabruk meong cit cit cit krompyang
tong itu diedel-edel tikus
tikus kabur dikejar kucing
tongnya terjengkang menggelinding
baru ketahuan tong itu sampah isinya

woi, asu ya?!
pemilik tong keluar asunya

Jakarta, 8 Agustus 2015
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Kening Kerontang


kening kerontang

KENING KERONTANG

Keningnya makin kerontang
Pagi tadi sengaja dipangkasnya
rambut panjang itu jadi poni
untuk menutupi

Keningnya terkadang nampak basah tuk sekejap
itu gumpalan peluh yang seringnya tanpa sengaja
menetes bersamaan airmata
hingga tersamarkanlah dukanya

Ketika ditanya: kau berairmata?
Dia menjawab:
“Bukan, ini keringat. Mungkin aku lelah.”
Atau
“Ini hanya kerena panasnya cuaca.”

Keningnya juga kerap dibasahi minyak angin
yang sekejap menguap
namun pusingnya tinggal tetap

Yang jelas kening itu sudah lama kering
Ketika ditanya: kemana bibir yang dulu menciuminya?
Dia menjawab:
“Mungkin dia lelah.”
Atau
Ah, tak mungkin karena cuaca.
Kerena cuaca akan kembali
sedang dia tidak.

(Bekasi, 5 Agustus 2015)
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 

Continue reading

Mengintip Mantan


image

Sang mantan kembali mengintip
sekedar tuk memastikan
keikhlasannya tak sia-sia
lantaran kau tetap bahagia
atau
ketidak-ikhlasannya terbayarkan
kerna kau makin sengsara

Sang mantan kembali mengintip
barangkali ada puisi lama yang dia kenal
atau puisi baru yang bisa diajak kenalan
tuk menelisik kedalaman isinya
siapa tahu ada rindu yang menyisa

Sang mantan kembali mengintip
mencari-cari alasan
untuk sebuah keyakinan
bahwa dirimu yang kini
berbeda dengan yang ada
di dalam kenangan

Sang mantan kembali mengintip
dan ketahuan
lari terbirit-birit
dari selintas ingatan

(2006)
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 

Kepada : Namamu


image

Rinduku pernah menjelma surat biru
yang tak sempat kukirimkan dahulu padamu
kerna dihinggapi malu

Malam tadi sebelum menaiki ranjangnya
putriku yang baru saja bisa mengeja
menemukan surat itu di selipan buku tua

Dia mulai mengeja namamu
Benar, dia mengira itu untuk ibundanya
yang bernama depan sama denganmu

Dia terus mengeja
dan akhirnya menyadari ini berbeda
Kau dan dia memang takkan pernah sama

“Ayah, ini bukan nama ibu?”
“Dia seorang ibu, Nak, tapi bukan ibumu.”
“Oh, pantasan banyak debu.”
“Sudah malam, ayo bobo dulu.”

Putriku bersembunyi di balik selimut
dia tak butuh dendangan dan dongenganku
untuk terlelap

Aku bersembunyi dalam kemelut
aku tak butuh ingatan untuk merindukanmu
untuk sekejap

Surat itu kukembalikan ke sela buku tua
Dan mungkin akan kembali dibaca oleh putriku
ketika dia telah piawai membaca

Namun dia takkan pernah memahami isinya
karena aku juga tak pernah menuliskannya
kecuali kepada: namamu.

(Bekasi, 15 Juli 2015)
Norman Adi Satria


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Teluk Penyu


teluk penyu

Teluk Penyu
terbuat dari trekdam yang ditumbuhi terumbu
semilir angin masa lalu
jejak-jejak langkahmu
debur ombak yang bikin rindu
sendawa beraroma dages dan mendoan
serta umpatan ngapak-ngapak: asu!

Teluk Penyu
kenangan selagi masih tak punya apa-apa
selain kawan berbagi djarum dan samsu

(Bekasi, 7 Juli 2015)
Norman Adi Satria

*Teluk Penyu: sebuah pantai di Cilacap, Jawa Tengah.


 Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini