Pulang ke Mimpi


pulang ke mimpi

PULANG KE MIMPI

Ini sudah kesekian sepi
aku menanti,
dan entah berapa sepi lagi
harus kulewati.

Inilah yang aku takuti
kau sengaja menjadikan sepi
sebagai sebuah takaran tuk kembali.
Katamu: nanti
bila kau sudah kesepian.

Bukankah kau tahu
sepi memperlama terasanya waktu?
Sepi bukanlah sebuah perjalanan
yang semakin jauh aku melangkah
kian mempersingkat jarak denganmu.

Yang harus aku lakukan hanya menunggu,
menunggumu.
Bila aku gaduh sepi akan lenyap,
maka aku diam agar kesepian kian senyap,
dan berharap
kau datang ketika aku lelap.

Ini sudah sangat sepi,
mari pulang ke mimpi.

2007
Puisi-Puisi Normantis
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Kasur Pernikahan


kasur pernikahan

KASUR PERNIKAHAN

Kasur yang kredit lima tahun lalu
seminggu sebelum kita ke penghulu
kini kian tipis saja, Say,
makin serupa seprai.

Kadang aku kasihan padamu
bila aku di kantor lembur,
kau dan anak-anak kedinginan
karena kita biasanya umpel-umpelan
saling menghangatkan
dengan suhu badan
dan kadang sedu sedan.

Ah, aku tak keluhkan kasur
yang sudah setipis tikar.
Itu hanya kata pengantar.

Ini tentang lima tahun kita.
Terima kasih sudah menemani
dalam kesusahan yang ceria
dalam bahagia yang penuh rintih
dalam goncangan namun setia.

Bekasi, 28 Februari 2014
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Selfie


selfie

SELFIE

Tanpa sadar
saya sudah tak pernah lagi
memotret istri
hingga dia potret-potret sendiri
bergaya selfie.

Suatu kali di tengah malam
dia membangunkan saya.
“Pah, pinjam memorimu.
Memoriku penuh terisi.”

Dia tahu betul
memori saya
tak sebanyak memorinya,
dia tahu betul
bahwa saya telah melewatkan
banyak peristiwa tentangnya.

Jakarta, 24 Februari 2014
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Rumpun Manusia


rumpun manusia

Ada kalanya
ketika kita bersatu dalam kelompok,
di sini lain kita sedang memecah
rumpun kemanusiaan kita.

Kelompok warna kulit,
kelompok jenis kelamin,
kelompok orientasi seksual,
kelompok konsumen makanan,
kelompok religi,
kelompok profesi,
kelompok nada bunyi kentut,
dan sebagainya.

Kelompok kulit putih
yang orientasi seksualnya sesama jenis,
agamanya adalah duit,
makanannya hanya sayur,
profesinya sebagai pedagang,
dan bunyi kentutnya agak ngebass,
mungkin akan bertentangan dengan:
kelompok kulit hitam
yang orientasi seksualnya berlainan jenis,
agamanya adalah warisan nenek moyang,
makanannya mi instan,
dan suara kentutnya agak becek.

Kelompok ini memandang rendah yang itu,
menganggapnya sesat,
atau menganggapnya tak punya arti hidup,
lalu menyangkali
bahwa kita
serumpun manusia.

(Bekasi, 19 Juni 2013)
Norman Adi Satria

Surat Untuk Keberuntungan


surat untuk keberuntungan

Matahari belum begitu terik
panasnya belum mampu menghitamkan kulit,
Ibu memintaku yang masih mungil
mengayuh sepeda kecil
mengantar dua puluh amplop surat
ke kantor pos terdekat.

“Nak, tolong antarkan ini.”
“Surat untuk siapa, Bu?”
“Untuk keberuntungan.”
“Lagi?”
“Ya.”

Ibu rutin mengirim surat untuk keberuntungan
satu amplop isinya lima bungkus kosong mi instan,
Ibu berharap mendapat sebuah jawaban:
satu buah rumah atau mobil karavan,
dia melihat iming-iming itu di iklan.

Sayang, surat Ibu tak pernah terbalaskan
meski tiap hari kami telah berkorban
pagi siang sore makan mi instan
yang bungkusnya akan dikirimkan.

Sembari berjualan es campur
Ibu menunggu di halaman depan,
siapa tahu ada rombongan
datang membawa kejutan.

Datang bergantian:
petugas TVRI menarik iuran
pegawai PLN menagih tunggakan
sales panci menawarkan kreditan

“Bu, keberuntungan belum datang?”
“Belum, Nak. Mungkin dia sibuk.”
“Sibuk mendatangi orang beruntung?”
“Ya, kok kamu pintar?”
“Aku khan anak Ibu, yang mungkin bukan orang beruntung.”
“Hahaha, bisa saja kamu, Nak.”
“Kata Ayah, bila keberuntungan tak datang…”
“Beralihlah menunggu harapan. Begitu khan kata Ayahmu?”
“Ya, harapan yang hanya kepada Tuhan, bukan mi instan.”

Aku melihat Ibu berairmata,
lap di bahunya dia gunakan untuk menghapusnya.
Sejak saat itu kami tidak lagi makan mi instan,
dan tak menunggu keberuntungan,
namun harapan
kepada Tuhan.

(Bekasi, 22 Juni 2013)
Norman Adi Satria

Hujan di Malam Minggu


hujan di malam minggu

 

Katanya hujan di malam minggu itu asyik. Ya, bagi pasangan yang baru jadian dan punya mobil. Cowoknya bisa tetap ngapel, menjemput ceweknya. Dia keluar membawa payung berwarna ungu dan menjemput kekasih yang penuh rindu di depan rumah. Dia melindungi kekasihnya dalam naungan payung cinta, berjalan berangkulan hingga sampai di dalam mobil.
“Sayang, hujannya romantis.”
Rayuan itu meluncur di depan kaca mobil yang disapu wiper. Mereka menuju ke bioskop, bukan untuk menonton. Ya, mereka hanya membayar tiket untuk pacaran dalam gelap yang dingin. Disana mereka saling menghangatkan dengan suhu tubuh masing-masing.

Aku hanya punya Vespa tua, warisan Bapak. Vespa butut itu anti terkena air, bukan antiair atau water resistant — sekali kena hujan mogok di jalan. Untung dua ratus meter di depan ada telfon umum. Meski atapnya sudah rengat dan hampir ambruk, paling tidak telfonya masih nyambung.
“Sayang, mogok.”
“Lagi?”
“Maaf.”
“Aku juga mau mogok! Mogok pacaran denganmu!”
“Halo..halo! Sayang..!”
Tut-tut-tut.
Telfon putus, berbarengan dengan hubungan cintaku.
Aku berteduh di telfon umum, mengelus Vespa, saling menguatkan.

(2004)
Norman Adi Satria

Toilet di Tahun 2113


image

jamban-jamban sepi
orang-orang pergi,
tinggal seorang bocah jongkok
sembunyi-sembunyi belajar merokok.

“sekali-sekali cobalah kau berak, Nak.
berak itu enak.”
“ah, tidak.
di zaman ini tak lagi butuh berak.”
“gara-gara obat itu?”
“ya, begitu.”

“kau tak tahu, moyangmu membuat aku dengan tangan-tangan seni, tangan-tangan terampil, tangan-tangan pemikir.”
“oya? bukankan seni itu hanya bisa dilakukan tangan-tangan robot?”
“robot tak pernah bisa memilin lempung dengan gurat seni, dan robot itu tak pernah bisa berak.”
“moyangku bisa memilin lempung?”
“tentu, dan mereka pun bisa berak.”

“mengapa kini manusia tidak bisa?”
“karena tidak ada lagi kebutuhan berak, tak ada lagi yang membuat jamban porselen.”
“aku ingin belajar. apa yang harus aku lakukan?”
“beraklah, Nak. jangan makan lagi itu obat.”

bocah itu akhirnya menjadi 
manusia pertama yang kembali berak,
kembali cebok,
dan kembali membuat karya seni.

(bekasi, 25 april 2013)
norman adi satria