Di Suatu Magrib: dimana segala yang romantis bermula


di suatu magrib 2

segala yang romantis bermula
di suatu magrib
karena di sanalah senja berada
dimana langit menjadi paling genit
seolah gadis yang siap tuk berpesta
alisnya lengkungan sabit
pipinya merona kejora
matanya sayu mentari terbenam
dan rambutnya kerlip gemintang

segala yang romantis bermula
di suatu magrib
dimana bocah-bocah saling janji
esok akan bermain lagi
kelereng, layang-layang, karambol,
atau lompat tali dan monopoli
sebelum ibundanya datang membawa centong kuali
“ayo pulang nang, sudah magrib ini!”

segala yang romantis bermula
di suatu magrib
dimana seorang gadis manis berkerudung putih
membawa sajadah dan mukena
melintasi rumah jejaka yang tengah mencuci motornya
dan mulai saling mengenal ketika
sang gadis berkata: permisi, A
dan sang jejaka menjawab: mangga

segala yang romantis bermula
di suatu magrib
dimana nyanyian jangkrik
menemani bocah-bocah belajar matematik
dan jejaka mulai merayu kamu cantik

Bekasi, 27 Juli 2014
Puisi-Puisi Normantis
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Airmata Lelaki


image

AIRMATA LELAKI

Kemana lagi aku akan
menyembunyikan airmata
selain di pundak puisi?
Puisi tak serewel kamu,
puisi tak pernah melarangku menangis
hanya karena aku lelaki.
Dan puisi membiarkan airmataku
mengalir jadi sungai-sungai
tempat bidadari mandi
dan membasuh luka hati.

Bekasi, 6 November 2013
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Cinta Zaman Purba


cinta zaman purba

CINTA ZAMAN PURBA

“Nona, saat kau sibakkan rambutmu,
kutumu tersenyum kepadaku.
Maukah kuambilkan untukmu?”
kata Pithecanthropus Erectus jantan
kepada gadis yang tengah membuat api
dengan menempa batu.

Gadis itu malu-malu
duduk tersipu di bawah pohon rindang
dekat sungai hulu.

Dia menyibakkan rambutnya sekali lagi,
mengundang sang lelaki
untuk duduk di belakangnya
dan mulai mencari kutu.

“Terima kasih, pahlawanku.
Kau selamatkan aku
dari gatalku
karena kutu.”
kata gadis itu
malu-malu
tapi mau.

Benih-benih cinta mulai tumbuh saat itu.

Bekasi, 9 Oktober 2013
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Di Suatu Dahulu


di suatu dahulu

DI SUATU DAHULU

Rumah masa kecilku
yang ada di suatu dahulu
hanya berdinding anyaman bambu.

Agar tampak kuat,
Ayah menempelkan kertas bekas
dengan lem dari tepung kanji
dan melaburnya dengan kapur.
Bila hujan datang semuanya luntur.

“Ayah, luntur.”
“Tak apa, Nak. Lekas tidur.”
Ayah sepanjang malam mengumpulkan lap gombal
untuk menambal,
jangan sampai air hujan
merembes ke kasur
agar aku tetap lelap tertidur.

Suatu hari aku minta dibelikan air mancur,
agar mandiku tak usah mengguyur.
“Ayah, di kamar mandi orang kaya ada air mancur,
mereka tak usah gebyur-gebyur.
Tinggal putar kran langsung cur.”
Ayah hanya menghela napas,
mungkin pintaku tak terukur,
ia hanya seorang tukang cukur.

Namun sorenya aku melihat air mancur di kamar mandiku.
Ayah membuatnya dari botol bekas
yang ia lubangi kecil-kecil di bawahnya.
Airnya dari ember yang terus ia isi air dari timba
dari sumur tetangga
dan mengalir melalui selang.
Aku mandi dengan senang
berasa seperti orang kaya.

“Nak, untuk mandi seperti ini
kita tak perlu jadi orang kaya,
jadilah orang yang mampu melakukan apapun
dalam keterbatasan yang ada.”
katanya
sembari terus menimba
di suatu dahulu kala.

Bekasi, 10 Juli 2013
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


Dispenser Cinta


???????????????

Dispenser cinta.
Tiga tombol di sana:
panas, sedang, dan dingin.
Tak pernah hingga mendidih.
Tak pernah hingga beku.
Yang ada
hanya sedang-sedang saja,
namun selalu melepas dahaga.

Tiap pagi
kau seduhkan aku kopi
dengan panas cintamu.
Dan kau kompres demamku
dengan dingin cintamu.

Bekasi, 13 Juli 2013
Norman Adi Satria


Puisi Normantis kini telah tersedia di Google Play Store.

Silakan download dan install secara gratis disini 


MANUSIA


manusia

 

Sekitar dua milenium lalu
salah satu Filsuf terbesar Yunani,
Socrates berkata:
“Manusia adalah makhluk hidup berkaki dua yang tidak berbulu.”

Definisi itu dicatat dan diajarkan
kepada murid-murid Akademia,
kampus yang dibangun Plato.

Di suatu pagi,
Diogenes dari Sinope menggunduli seekor ayam
lalu menentengnya ke tengah pasar sambil berteriak:
“Aku membawakan kepada kalian seorang manusia!”

Akademia gempar,
definisi itu membuat ayam gundul menjadi manusia.
Lalu definisi itu direvisi:
“Manusia adalah makhluk hidup berkaki dua,
tidak berbulu, dengan kuku datar yang lebar.”

Untunglah Diogenes tak menggunduli monyet,
bisa-bisa Akademia kembali gempar.

Kegemparan itu pun terjadi hingga kini
menanggapi aneka definisi.
Sebabnya :
manusia tak mau ciri-cirinya sama dengan binatang.

Dengan bangga manusia menyebut satu per satu
perbedaannya dengan binatang,
dan yang terutama dan yang katanya paling nyata adalah:
Nurani, binatang hanya punya insting.

Kenyataannya:
Bila kita lihat ke alam bebas
banyak binatang yang mengorbankan dirinya
untuk melindungi anak-anaknya.
Dan kita melihat di warta berita
banyak ibu manusia membuang anaknya
di selokan dan tong sampah.

Lalu manusia bilang:
Oh, itu salah satu kelebihan kami juga
yaitu: KHILAF.

Ah, sudahlah..

(Bekasi, 30 Mei 2013)
Norman Adi Satria.

Gerimis


image

Gerimis meringis
“Jatuh itu sakit, Bung”
katanya usai menimpa kerikil di halamanku,
kini tertambat di daun putri malu.

“Sakit, ya memang sakit.
Tapi bukankah lebih senang bisa kembali ke jatidiri?
Menjadi bentuk paling mula,
dan paling dimengerti
karena bisa dirasa, disentuh;
menjadi air,
yang selalu dirindu tetumbuhan dan tanah;
bukan uap atau es atau apapun
yang engkau tapi tak serupa engkau.”
kataku.

“Kau, tak akan mengerti apa yang dirasa oleh air, sebuah pribadi yang sama namun tak selalu serupa.
Ketika langit membuangku, laut memanggilku.
Manusia, termasuk penyair takkan
memahaminya.”
katanya.

“Ya, kau benar. Aku pun tak pernah tahu pribadiku sendiri, yang selalu berubah bentuk, menjadi penyair,
dan ketika langit memanggil aku menjadi sajak di tangan Sang Maha Penyair.”
kataku.

“Bung, tak ada takaran kebahagiaan; apakah
kebahagiaan yang ini lebih bahagia dari kebahagiaan yang lain.
Begitu pula dengan derita.”
katanya.

Kemudian ia jatuh dari pucuk daun itu,
dan bumi menghisapnya,
lenyap.

(Bekasi, 22 April 2013)
Norman Adi Satria